Opini  

Muluskah Ekspor Lampung Saat Pandemi?

Rizki Bagaskoro. Foto: Istimewa
Bagikan/Suka/Tweet:

Rizqi Bagaskoro
Statistisi Ahli Pertama di BPS Tulangbawang

Saat ini dunia sedang dihadapkan dengan Pandemi covid-19 yang telah menginjak tahun ke tiga. Dampak yang dihasilkan telah menyentuh segala aspek perekonomian di seluruh dunia. Salah satunya berakibat kepada penurunan tajam dalam pengeluaran konsumen di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini tentu akan mengurangi impor barang-barang konsumsi dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Kontraksi awal pandemi covid-19 sangat dirasakan pada tahun 2020, menurut laporan BPS, nilai ekspor Indonesia sebesar US$163.19 miliar. Angka ini mengalami penurunan sebesar 2,68 persen jika dibandingkan tahun 2019. Untuk mengatasi penurunan kegiatan ekonomi banyak negara melakukan kebijaksanaan “new normal”, sehingga pemulihan kegiatan ekonomi kembali bergeliat walaupun tidak serta merta kembali seperti sebelum adanya pandemi. Hal ini memberi sinyalelemen positif bagi Indonesia, terlihat dari nilai ekspor Indonesia yang mengalami tren positif sebesar 41,1 persen atau tumbuh sebesar US$231.52 miliar pada tahun 2021.

Sebagai provinsi yang terletak di ujung selatan pulau Sumatera, Lampung merupakan provinsi yang strategis karena menjadi pintu gerbang lintas dua kawasan ekonomi penting antara Singapura, Johor, Riau dan pulau Jawa. Hal ini tentu menjadi keuntungan dalam melakukan perdagangan antar wilayah dalam negeri hingga ke luar negeri. Berbagai komoditi yang dihasilkan seperti batu bara, lemak dan minyak hewan/nabati, kopi, teh, rempah rempah, olahan dari buah-buahan/sayuran, ampas/sisa industri makanan, bubur kayu/pulp, ikan dan udang, gula dan kembang gula, daging dan ikan olahan, dan berbagai produk kimia telah menjadi andalan bahkan dapat menembus pasar ekspor luar negeri.

Adapun negara utama tujuan ekspor Provinsi Lampung pada September 2021 adalah Tiongkok, Amerika Serikat, Italia, Jepang, Pakistan, Korea Selatan, Belanda, Philipina, India dan Spanyol.

Menurut publikasi BPS (BRS Lampung 2020), meskipun sedang terjadi lonjakan pandemi covid-19 nilai ekspor Provinsi Lampung selama tahun 2020 mencapai US$3.144,76 juta dimana angka ini menunjukkan tren positif sebesar 7,35 persen jika dibandingkan tahun 2019.

Indikasi dampak pandemi Covid-19 terhadap nilai ekspor justru dirasakan pada kuartal ke tiga tahun 2021. Pada bulan september 2021 nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai US$487,42 juta, mengalami penurunan sebesar US$26,50 juta atau turun 5,16 persen dibanding ekspor Agustus 2021 yang tercatat US$513,92 juta. Penurunan ekspor September 2021 terhadap Agustus 2021 terjadi pada tiga golongan barang utama yaitu lemak dan minyak hewan/nabati turun 48,33 persen; bubur kayu/pulp turun 12,65 persen, serta berbagai produk kimia turun 15,12 persen. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pandemi yang terjadi memberi efek bagi menurunnya konsumsi barang non makanan.

Sedangkan golongan barang yang mengalami peningkatan adalah batu bara naik 60,51 persen; kopi, teh, rempah rempah naik 35,87 persen; olahan dari buah-buahan/sayuran naik 8,6 persen; ampas/sisa industri makanan naik 0,33 persen; ikan dan udang naik 41,22 persen; gula dan kembang gula naik 28,32 persen; serta daging dan ikan olahan naik 0,09 persen. Dengan semakin terkendalinya penyebaran covid-19 yang ada di Indonesia membuka harapan besar bagi ekspor Lampung. Menurut laporan BPS, periode Januari – September 2021 ekspor Lampung mengalami laju pertumbuhan positif dengan total mencapai US$3.423,64 juta.

Pasar global merupakan lahan yang sangat potensial untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Lampung. Diperlukan sinergitas berbagai pihak dalam hal ini, Pemerintah daerah, Karantina Pertanian, Bea Cukai, dan Pelindo dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Kondisi infrastruktur yang baik untuk membawa hasil pertanian juga perlu atensi khusus. Dikarenakan produk ekspor andalan Provinsi Lampung sebagian besar adalah hasil pertanian dibutuhkan ketepatan waktu dan terjaganya kualitas produk. Hal tersebut demi menjaga kesinambungan pasokan, agar produk petani kita bisa menembus pasar global.