Beranda Views Kopi Pagi Mulut, Cangkem, Congor, Ember …

Mulut, Cangkem, Congor, Ember …

1557
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Jawa memiliki beberapa kata yang berarti mulut: tutuk, lisan, cangkem. Ya, tiga kata itu dalam bahasa Indonesia berarti mulut. Orang Jawa harus berhati-hati menggunakan kata itu agar pemakaiannya tepat. Jika tidak, bisa-bisa orang yang mengucapkan kata cangkem ditampol pakai sandal jepit.

Jangan coba-coba menyebut ayah dengan kata cangkem. Misalnya: “Kenging menapa cangkem bapak menyot?” (Kenapa mulut bapak menyot?).

Kalau pertanyaan itu dilontarkan untuk ayah Anda yang orang Jawa, siap-siaplah Anda dibentak atau minimal dianggap sebagai anak yang kurang ajar atau durhaka.

Agar tepat, minimal kita harus memakai kata tutuk. Lebih sopan lagi jika memakai kata lisan jika menyebut mulut orang tua atau orang yang kita hormati. Menyebut mulut dengan cangkem itu sungguh terlaluuuuu dan terlampau kasar. Bisa-bisa kita dianggap  kurang makan bangku sekolahan.

Sama-sama bernama mulut, mulut tiap orang berbeda bentuk, suara yang dihasilkan, dan isi ujaran yang diuarkan. Ada mulut murah, banyak mulut mahal.

Seorang yang mulutnya murah jika berteriak akan bikin orang marah karena memekakkan gendang telinga. Orang yang mulutnya mahal kerap dicari-cari, dirayu atau merayu untuk tampil di muka publik.

Makin populer seseorang, mulutnya akan makin mahal. Satu kali mulut itu ngoceh selama satu jam saja si empunya mulut bisa dibayar puluhan hingga ratusan juta. Mario Teguh, misalnya, pernah menjadi pesohor jualan motivasi karena dari mulutnya diyakini keluar kebijaksanaan yang bisa mengubah hidup seseorang. Dalang Ki Enhus Susmono juga termasuk orang yang beruntung karena mulutnya mahal. Para tokoh agama nan kondang dan ujarannya bertuah juga termasuk orang yang mulutnya mahal.

Contoh lain mulut mahal adalah mulutnya para penyanyi cantik dan ganteng. Terkadang mulut mereka tidak seksi-seksi amat. Namun, karena suara yang dikeluarkan dari mulut mereka sudah memiliki brand (cap) tertentu, maka mereka bernilai mahal. Sekali pentas untuk menyanyi 4-5 lagu bisa berharga ratusan juta rupiah.

Ada pula beberapa tokoh di Indonesia yang mulutnya mahal. Mereka bukan sekelas presiden, menteri, atau ketua parpol. Namun, karena kepandaian, pemahamannya yang lengkap tentang agama, budaya poleksusbudhamkam, dan kata-katanya yang bagai sihir– mereka menjadi acuan sikap banyak orang.

Dulu Gus Dur sebelum menjadi presiden pernah mendapatkan tempat seperti itu. Juga Nurcholish Majid, Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas, Rendra, K.H. Mustofa Bisri, dan Emha Ainun Nadjib. Mereka menjadi terkenal, disegani, dan mendapatkan tempat di hati banyak orang karena keteladanan dan tulisan-tulisannya yang ciamik.

Selain jago menulis, mereka khatam olah argumen di depan publik. Mulut mereka mahal. Mahal bukan dalam pengertian nilai rupiah, tetapi memiliki nilai tinggi dalam perikehidupan manusia kaena memiliki daya pukau yang hebat. Komentar-komentar mereka pun layak kutip wartawan. Saya termasuk orang yang pernah rajin nadangi komentar yang keluar dari mulut mereka untuk dimuat di koran.

Seiring perubahan zaman, ketika  media soal merangsek tanpa ampun di tiap sudut ruang, pelan dan pasti posisi mereka digantikan oleh tokoh-tokoh baru. Tokoh baru bisa datang dari mana saja dengan latar belakang apa saja.

Mereka adalah para selebritas dunia media sosial yang bisa menangguk popularitas dan pundi-pundi uang karena memiliki banyak pengikut (follower) yang tiap retwetnya berarti uang. Namun, sejatinya beberapa tokoh yang dulu bermulut mahal dan masih eksis hingga sekarang, pada dasarnya tidaklah benar-benar bergeser.

Mereka masih ada. Namun, barangkali, daya pukau atau tuahnya berkurang karena kelakukan mereka sendiri. Misalnya, mereka dulu kata-katanya menyejukkan dan cakrawala pandangnya luas karena mampu melihat peristiwa kehidupan dari langit tiba-tiba menjadi tokoh yang cupet pikirnya dan terkesan hanya berjuang demi kelompoknya saja. Keindonesiaan mereka diragukan.

Di antara gebalau raung suara para selebritas medsos dan media mak brengoh yang menangguk untung besar dari konflik itu, kini tiba-tiba saya mendengar suara nyaring dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Cak Nun yang mahaahli bersilat kata tiba-tiba melontarkan rentetan metraliur “NU menerima Rp 1,5 triliun rupiah dari pemerintah”.

Saya terkesima ketika Cak Nun menambah dengan frasa “adu domba”, “HTI”, dan lainnya. Ada saluran di Youtube memakai judul sangat menohok: “Cak Nun: HTI, FPI dll Dibubarkan, NU Dapat Uang 1,5 Triliun”.

Mulut, eh, congor, eh, cangkem, saya yang murah ini tiba-tiba terkunci.

Tiba-tiba saya teringat ember.