Mumet

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada saat membagikan tautan ujian satu matakuliah dengan pola Ujian Berbasis Komputer (UBK), admin sekaligus asisten dosen memberi nama password dengan kata “mumet”. Sontak saja semua peserta ujian senyum -senyum geli karena pusing tingkat tingginya dihibur dengan satu kata yang memiliki multimakna.

Peristiwa lain secara bersamaan terjadi:  seorang bapak mengatakan sedang mumet karena akhir tahun seperti ini anaknya yang sekolah pasti meminta uang cukup banyak untuk membayar tunggakan uang sekolah. Belum lagi ditambah musim hujan seperti ini rumahnya sering bocor, maklum konstruksi bangunan tua yang sudah dimakan usia. Maka sempurnalah mumetnya beliau ini.

Di tempat lain seorang bos besar dari beberapa perusahaan sedang mumet mikir bagaimana memberikan kado terindah buat karyawan berprestasi sebagai hadiah akhir tahun. Hadiah itu bukan berupa uang atau barang, tetapi apa, beliau belum menemukan solusinya. Bos ini sedang mumet pada waktunya.

Kata mumet sendiri berasal dari bahasa Jawa yang arti harfiahnya kepala pusing. Makna itu akhir-akhir ini meluas. Bukan hanya dalam pengertian harfiah, tetapi lebih kepada “rasa”,  sehingga memahami kata mumet menjadi lebih fokus pada konteks di mana kata mumet itu diletakan. Karena posisi itulah, maka penafsiran akan tingkat kemumetannya menjadi subjektif sekali; dalam pengertian ukuran untuk masing masing individu berbeda satu dengan lainnya. Bisa jadi satu peristiwa membuat mumet, namun tidak untuk orang lain, atau sebaliknya.

Mumet, yang sudah melebar dari makna aslinya, memaksa orang untuk memahami atas dasar konteks, oleh karena itu melabelkan kepada sesuatu menjadi harus lebih hati hati, mengingat tingkat subjektivitasnya sangat tinggi sekali.

Kalau kita mau sedikit mawas diri maka setiap hari manusia itu selalu berdamai dengan mumet, sebab tanpa berdamai, maka yang akan terjadi menaikan tensi darahnya. Hanya sekarang perlu dipahamkan jangan sekalikali memindahkan mumet itu kepada pihak lain, atau memumetkan orang lain. Karena tingkat kemumetan yang sudah dimiliki orang lain saja sudah membuat jatuh bangun, apalagi dipaksa memikirkan mumetnya orang lain.

Oleh karena itu, jika pimpinan lembaga tinggi negara mumet, tentu tidak harus memindahkan mumet itu kepada yang diwakilinya, karena yang mewakilkan kepada yang diwakilkan itu juga berikut mewakili kemumetannya juga. Sangat tidak elok jika mumet karena ditagih utang justru meminta yang menagih dipecat jadi juru tagih. Itu bukan menyelesaikan masalah tetapi membuat masalah.

Sama juga mahasiswa yang sedang menghadapi layar ujian merasakan kemumetan, lalu minta dosen yang menyusun soalnya dipecat karena soal yang dibuat tidak bisa dikerjakan olehnya. Ini berarti mumet tingkat tinggi, yang perlu penanganan khusus, atau rumah sakit khusus.

Mumet itu sebenarnya karunia Tuhan kepada umatnya, sebab dengan mumet Tuhan mengajarkan bahwa manusia itu memiliki keterbatasan. Jika keterbatasan itu dilanggar, konsekuensinya adalah diberi mumet. Mumet juga diciptakan agar manusia mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Jika yang dikejar adalah keinginan, maka mumet akan di dapat. Sebaliknya, jika kebutuhan yang dipenuhi, maka kebahagiaan yang diperoleh.

Menyadari akan pembeda kebutuhan dan keinginan, di sana letak kebijaksanaan. Oleh karena itu, bijak dalam melangkah untuk mengejar kebutuhan atau keinginan, adalah sikap arif terhadap diri sendiri. Di sini agama mengajar kita mengenal muhasabbah yaitu evaluasi diri; yang dimaksud muhasabah dalam Islam meliputi hubungan seorang hamba dengan Allah, maupun hubungan sesama makhluk ciptaanNya. Artinya: “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Jika tingkat rasa kita sudah sampai di sini; maka mumet tidak perlu terjadi.

Menurut buku Mukjizat Sabar Syukur Ikhlas yang ditulis oleh Badrul Munier Buchori, muhasabah berasal dari bahasa Arab, yakni berakar dari kata haasaba yuhaasibu. Kata tersebut diambil dari hasiba, hasibtusy syai-a, ahsibuhu husbaanan, dan hisaaban yang mengandung makna jika engkau menghitungnya.

Dengan kata lain mumet itu memang harus ada dalam rangka mendorong manusia pada posisi sudut kehidupan, kemudian merenungkan perjalanannya; di sanalah manusia bermuhasabah sehingga paham akan segala ketentuan yang telah digariskan sebagai kontrak hidup sesaat kita lahir di dunia.

Setiap hari kita Tuhan ciptakan waktu, setiap pekan Tuhan ciptakan hari, setiap tahun Tuhan ciptakan Bulan; di antaranyalah saat itu berada, dan di situlah kita dituntut untuk bermuhasabah di hadapan Sang Pencipta. Sehingga, kita tidak perlu mumet jika selalu bersyukur akan apa yang ada dan diadakan oleh yang Maha Mengadakan.

Selamat ngopi sore!

  • Bagikan