Beranda Politik Muncul Wacana Pemulangan Rizieq Shihab sebagai Syarat Rekonsialiasi Jokowi-Prabowo

Muncul Wacana Pemulangan Rizieq Shihab sebagai Syarat Rekonsialiasi Jokowi-Prabowo

131
BERBAGI
Dahnil Anzar Simanjuntak penuhi panggilan kepolisian terkait kasus dugaan korupsi dana Apel dan Kemah Pemuda Islam 2017 di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta, 7 Februari 2019. Dahnil diperiksa karena telah menandatangani laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang diajukan Pemuda Muhammadiyah. TEMPO/M Taufan Rengganis

TERASLAMPUNG.COM — Juru bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan pendapatnya ihwal narasi rekonsiliasi politik pascapemilihan presiden 2019. Dahnil berpendapat kepulangan pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab ke tanah air semestinya menjadi bagian dari rekonsiliasi politik tersebut.

“Ini pandangan pribadi saya, bila narasi rekonsiliasi politik mau digunakan, agaknya yang paling tepat beri kesempatan kepada Habib Rizieq kembali ke Indonesia,” kata Dahnil melalui akun Twitternya, @Dahnilanzar pada Kamis, 4 Juli 2019. Dahnil mempersilakan cuitannya dikutip.

Narasi rekonsiliasi ini ramai diserukan mengingat polarisasi yang terjadi di antara pendukung selama pemilihan presiden 2019. Sejumlah kalangan berpendapat Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo harus segera bertemu dan melakukan rekonsiliasi demi meredakan tensi politik di masyarakat.

Menurut Dahnil, narasi rekonsiliasi politik harus disertai dengan berhentinya kriminalisasi terhadap para pendukung Prabowo – Sandiaga Uno di pemilihan presiden 2019. Dia berpendapat narasi yang menstigma kelompok pendukung Prabowo sebagai radikal juga harus diakhiri.

“Stop upaya kriminalisasi, semuanya saling memaafkan. Kita bangun toleransi yang otentik, setop narasi-narasi stigmatisasi radikalis, dan lain-lain,” kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah ini. Dahnil mengatakan akan menyampaikan usulan kepada Prabowo agar persoalan kepulangan Rizieq ini juga dibahas jika bertemu Jokowi nanti.

Rizieq Shihab saat ini bermukim di Mekkah, Arab Saudi. Dia berangkat ke Mekkah sejak terjerat kasus chat mesum. Kasus ini dihentikan pada Juni 2018, tetapi Rizieq belum juga kembali ke tanah air. Dalam sejumlah kesempatan, Prabowo Subianto berjanji akan menjemput Rizieq pulang seumpama dirinya menang pemilihan presiden 2019.

Sebelumnya, anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade juga mengungkapkan hal senada. Andre mengatakan pertemuan Prabowo dan Jokowi bukan dalam rangka bagi-bagi kursi, melainkan meredakan tensi politik dan membantu para pendukung Prabowo yang berkasus.

“Jangan menstigma silaturahim Pak Prabowo itu bagi-bagi kursi. Coba pikirkan juga bagaimana para pendukung yang masih punya banyak masalah. Ada yang ditahan, ada yang masih terima surat panggilan polisi, lalu ulama yang ada masalah gara-gara pilihan pemilu,” kata Andre kepada Tempo, Selasa, 2 Juli 2019.

Menanggapi wacana rekonsiliasi yang digulirkan Dahnil, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily mengaku tidak sependapat.

“Rekonsiliasi politik kok dipahami dengan maksud untuk negosiasi kasus hukum. Ini semakin salah kaprah. Hukum harus ditegakkan kepada siapa saja tanpa terkecuali,” ujar Ace kepada  Tempo, Jumat, 5 Juli 2019.

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko mengatakan narasi rekonsiliasi antara dua kubu yang berseteru di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 harus demi kepentingan bangsa. Rekonsiliasi, kata dia, jangan didasari demi kepentingan satu kelompok seperti membebaskan para pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang terjerat masalah hukum atau memulangkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

“Kita harus berpikir lebih panjang, kita tidak boleh terjebak dalam pemikiran pragmatis, nanti menjadi mengganggu sistem negara ini,” kata Moeldoko di kantornya, Gedung Bina Graha, Jakarta, Jumat, 5 Juli 2019.

Mantan panglima TNI merasa sejatinya rekonsiliasi antara Prabowo dan Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah terbangun. Pendukung keduanya di akar rumput juga telah memperbaiki hubungannya pascapemilihan presiden. “Menurut saya, hal yang sudah normal sebenarnya jadi tidak terlalu penting lah itu dibicarakan lagi,” ucapnya.

Ia menuturkan kalau pun Jokowi dan Prabowo didesak untuk bertemu, hal itu hanya masalah waktu. Pasalnya kondisi di Indonesia sudah berjalan normal selepas Pilpres. “Kalau semua sudah berjalan normal saya pikir juga bukan menjadi sebuah agenda yang prioritas lah,” ujarnya.

Sebelumnya, di tengah gencarnya desakan rekonsiliasi, anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan pertemuan Prabowo dan Jokowi bukan dalam rangka bagi-bagi kursi. Pihaknya ingin meredakan tensi politik dan membantu para pendukung Prabowo yang berkasus.

“Jangan menstigma silaturahim Pak Prabowo itu bagi-bagi kursi. Coba pikirkan juga bagaimana para pendukung yang masih punya banyak masalah. Ada yang ditahan, ada yang masih terima surat panggilan polisi, lalu ulama yang ada masalah gara-gara pilihan pemilu,” kata Andre kepada Tempo, Selasa, 2 Juli 2019.

Sementara itu, juru bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak berpendapat kepulangan Rizieq Shihab ke tanah air semestinya menjadi bagian dari rekonsiliasi politik tersebut.

TEMPO.CO

Loading...