Beranda News Kesehatan Mungkinkah Perokok Berat Bisa Berhenti Merokok? Cek Solusinya

Mungkinkah Perokok Berat Bisa Berhenti Merokok? Cek Solusinya

132
BERBAGI
lustrasi kampanye anti rokok. Bhaskar Mallick/Pacific Press/LightRocket via Getty Images

TERASLAMPUNG.COM — Mungkinkah perokok berat yang kecanduan nikotin bisa berhenti merokok? Menurut Ketua Koalisi Bebas TAR (Kabar) dan Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, drg.Amaliya, sangat mungkin dilakukan.

Namun, acapkali niat berhenti merokok itu terbentur beberapa persyaratan dari diri perokok. Mungkin tidak bisa atau tidak mau berhenti merokok secara langsung. Mungkin ingin berhenti merokok tanpa harus mengurangi nikotin. Mungkin tidak siap berhenti merokok, tapi ingin mengurangi jumlah rokoknya.

“Perlu ada metode yang tepat secara bertahap. Karena mengubah perilaku tak bisa secepatnya,” kata Amaliya dalam Diskusi Publik Produk Tembakau Alternatif dalam Perspektif Kesehatan dan Hukum di UC Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu, 31 Oktober 2018.

Metode yang dinilai tepat adalah melalui pengurangan risiko tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR). Tujuannya untuk meminimalkan dampak buruk penggunaan produk tembakau terhadap kesehatan. Fokus tindakan THR adalah mengurangi atau menghilangkan penggunaan tembakau yang dibakar dan menggantinya dengan produk nikotin lainnya. Mengingat tar hasil pembakaran tembakau rokok lebih berbahaya daripada nikotin.

Sejumlah alat Vaping atau rokok elektrik yang ditawarkan bagi para pengunjung yang singgah di kafe Henley Vaporium di SoHo, New York, (20/2). Pada Vaping terdapat cairan nikotin rendah yang digunakan untuk memproduksi aroma dan uap layaknya rokok sebenarnya. (AP Photo/Frank Franklin II)

“Jadi upaya THR adalah beralih ke produk tembakau alternatif yang rendah risiko,” kata Amaliya.

Produk tembakau alternatif itu meliputi Nicotine Replacement Theraphy (NRT), seperti nicotine patch atau nikotin yang ditempelkan di kulit seperti koyok, nicotin gum atau permen karet, inhaler berupa nikoten yang dihirup lewat hidung, nasal spray berupa nikotin yang disemprotkan dalam mulut, juga Lozenge. Kemudian produk tembakau tanpa asap (snus) dan produk tembakau organic yang tidak dibakar, tetapi dipanaskan (heat not burn). Serta produk Electronics Nicotine Delivery Systems (ENDS), seperti rokok elektrik.

Sementara Lembaga penelitian di bawah Kementerian Federal Pangan dan Pertanian Pemerintah Federal Jerman, German Federal Institute for Risk Assessment (BfR) melakukan penelitian independen yang didanai secara mandiri pada 2003. Penelitian itu mengenai potensi berkurangnya risiko kesehatan dari produk tembakau yang dipanaskan daripada yang dibakar. Hasilnya, tingkat toksisitas atau tingkat sel yang merusak pada produk tembakau yang dipanaskan lebih rendah ketimbang tembakau yang dibakar. Tingkat toksisitas tembakau yang dipanaskan hanya 1-10 persen, sedangkan tembakau yang dibakar atau rokok konvensional mencapai 80-99 persen.

“Solusi lewat produk tembakau alternatif ini sudah diterapkan di Inggris sebagai negara maju. Dan jumlah perokoknya turun,” kata Amaliya.

Berdasarkan data badan kesehatan di bawah naungan Kementerian Kesehatan Inggris, Public Health England merilis penurunan tertinggi jumlah perokok pada 2017 sebanyak 20 ribu orang dari sebelumnya 15,5 persen dari total populasi pada 2016. Berbanding terbalik dengan Indonesia sebagai negara berkembang yang sama-sama mempunyai persoalan tentang jumlah perokok yang besar. Berdasarkan data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN, jumlah perokok di Indonesia mencapai 35 persen atau 75 juta jiwa dari total populasi. Angka tersebut menggiring Indonesia menduduki peringkat ketiga perokok terbanyak setelah Cina dan India. Sementara hasil Riset Kesehatan dasar Kementerian Kesehatan pada 2013, DI Yogyakarta masuk 15 besar perokok terbanyak, yaitu 31,6 persen dari total populasi. Posisi teratas masih diduduki DKI Jakarta.

“Perokok di negara berkembang lebih banyak daripada negara maju,” kata Dewan Penasehat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Jawa Barat, dokter Ardini Raksananagara.

Meski demikian, Ardini tetap mengingatkan, bahwa metode pengurangan risiko tembakau hanya pilihan peralihan konsumsi rokok konvensional ke tembakau alternatif rendah risiko. Metode itu patut diperhitungkan karena potensi manfaatnya bagi perokok yang kesulitan berhenti merokok.

“Tapi berhenti merokok tetap jalan terbaik,” kata Ardini.

Tempo.co

Loading...