Beranda News Nasional Muridan S. Widjojo, Tokoh Perdamaian Papua Berpulang

Muridan S. Widjojo, Tokoh Perdamaian Papua Berpulang

60
BERBAGI
Muridan S. Widjojo
Oyos Saroso HN/Teraslampung.com

Bandarlampung–Muridan S. Widjojo, salah satu tokoh
penting dalam  upaya perdamaian di Papua, meinggal dunia, Jumat (7/3) pukul 14.07 WIB.
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut selama ini dikenal
sebagai seorang tokoh yang berjuang keras dan tekun untuk terjadi Dialog
Jakarta-Papua.

Karena
kegigihannya itu, Jakarta mencurigai Muridan sebagai pendukung Papua Merdeka.
Namun, dirinya  selalu merasionalisasi bahwa dialog sangat penting di
Papua untuk mewujudkan Papua Tanah Damai,” kata aktivis Papua, Marthen Goo.
Marthen
Goo mengatakan, penghargaan dan penghormatan yang dalam dan besar sepatutnya
diberikan kepada Tuan Muridan yang dengan kesungguhan hatinya memperjuangkan
keselamatan bangsa Papua.
“Kiranya
kebesaran hatinya menjadi semangat baru bagi generasi berikutnya. Selamat Jalan
Kk Muridan. Doa kami menyertaimu dalam kerajaan Bapak di Sorga,” kata Marthen
Goo.
Dalam
syair–syair puisi, Marthen Goo mencoba menggambarkan semangat juang tokoh
Jaringan Damai Papua (JDP) ini: Demi kedamaian, Kau berjuang tuk Kami,
Papua…Walau kau sakit, nyawa mu kau pertaruhkan tuk terjadinya Dialog-Jakarta
Papua.
“Jakarta
mencurigaimu tuk mendukung Papua Merdeka,  namun kau tetap tersenyum tuk
kedamaian…,  Namun, kau (Miuridan Widjojo- red)  tetap tersenyum
tuk mendorong Dialog Jakarta Papua. Kau tokoh dan pahlawan kemanusiaan kami.
Selamat jalan Kakak tuan,” kata Marthen.
“Rest
In Peace. Walau sedikit berjumpa dan tidak begitu kenal, namun pengalaman dan
kepedulian akan Papua merupakan motivasi generasi muda Papua untuk tetap eksis
bersuara bagi kedamaian dan cita – cita rakyat Papua. Selamat beristirahat dengan
tenang menuju Surga Indah…” demikian tulis beberapa pemuda Papua yang
ikut berbelasungkawa.
Muridan
selama ini aktif dalam berbagai kegiatan seminar dan penelitian untuk mendorong
masalah – masalah Papua untuk diselesaikan secara adil dan bermartabat serta
adanya Jaringan Damai Papua yang menghendaki adanya Dialog Jakarta – Papua
secara damai.
Muridan
Satrio Widjojo bekerja magang sebagai honorer di Kedeputian Ilmu Pengetahuan
Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI pada 1993 dan resmi bekerja untuk Pusat
Penelitian Politik (P2P) LIPI sejak 1995.
Sejak
2008 Muridan memimpin tim kajian Papua dan sejak 2010 menjadi koordinator
bersama Jaringan Damai Papua (JDP) yang bekerja secara sukarela memfasilitasi
persiapan dialog antara masyarakat Papua dengan Pemerintah. Sejak akhir 2010
doktor sejarah politik lulusan Universitas Leiden Belanda 2007 ini terpilih
menjadi Kepala Bidang Politik Lokal di P2P LIPI.Peneliti
alumnus UI (Magister Antropologi FISIP UI dan sarjana Fakultas Ilmu Budaya UI)
ini juga menjadi pengajar tidak tetap dan membimbing mahasiswa S3 di FIB UI.
Sebagai
peneliti, dia dikenal sebagai spesialis Papua (dan Maluku). Sejak 1993
penelitian lapangan dan karya-karyanya memfokuskan masalah kebudayaan dan
politik di Papua. Untuk mendalami sejarah Papua, di Leiden Belanda dia
mendalami arsip-arsip abad ke 18 dan 19 Maluku Utara yang terkait dengan
sejarah Papua.
Muridan
lahir di Surabaya, 4 April 1967. Setelah menamatkan kuliah di jurusan Sastra
Prancis UI, 1992. Muridan melanjutkan pendidikan master antropologi sosial di
universitas yang sama pada 2001. Setahun berikutnya, gelar master juga
diraihnya dari Universiteit Leiden, Belanda, dengan penekanan pada sejarah
prakolonial. Pada 2007, gelar doktor filsafat (Ph.D) untuk bidang yang sama
diraihnya.
Suami
Suma Riella Rusdiarti yang dikaruniai 4 orang anak itu dikenal dunia sebagai
ahli Papua. Sejak 2088 hingga meninggalnya, Muridan adalah ketua Tim Kajian
papua LIPI. Banyak jasa dan pengabdian yang sudah diberikannya untuk tanah
Papua, termasuk menginisiasi perdamaian ketika terjadi perang adat yang
melibatkan tujuh suku pada 1993.
Sejumlah
monograf, artikel, dan buku sudah pernah dihasilkan Muridan. Beberapa di
antaranya adalah Gerakan Mahasiswa 1998: Penakluk Rezim Orde Baru
(Jakarta: Sinar Harapan, 1999), The Revolt of Prince Nuku (Leiden:
Brill, 2009). Yang terbaru adalah Papua Road Map (Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2009). Versi Inggrisnya diterbitkan oleh KITLV Jakarta-Leiden dan
ISEAS Singapura.
Muridan
juga menulis sejumlah artikel di jurnal ilmiah internasional dan opini di
sejumlah surat kabar dan majalah, seperti Kompas, Tempo, dan lain –
lain. Minat penelitian yang sekarang ini dikembangkan adalah sejarah lokal,
politik lokal, konflik dan pembangunan perdamaian, serta pengembangan indeks
demokrasi lokal.
Jenazah
almarhum saat ini disemayamkan di  rumah duka: Kompleks Pondok Widyatama
Indah blok C No 10 Pondok Rajeg, Cibinong, Jawa Barat.  Selanjutnya,
almarhum Muridan Widjojo besok dimakamkan pukul 10.00 WIB  di TPU Pondok
Rajeg, Pondok Rajeg, Cibinong.