Beranda Views Sepak Pojok Musibah Hercules dan Disiplin Kita

Musibah Hercules dan Disiplin Kita

159
BERBAGI
P Hasusungan Sirait (Foto: Edi Zageus)

P. Hasudungan Sirait*

Hercules TNI-AU jatuh di Medan kemarin, 140 jiwa lebih melayang. Indonesia kembali berduka. Apa sesungguhnya yang terjadi pada pesawat tambun yang sudah uzur (buatan tahun 1961) itu entahlah; kita tunggu saja beritanya.

Duduk perkara yang sejatinya kemungkinan
tak akan lekas bisa kita ketahui; bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Penelisikan kasus macam ini, seperti yang bisa kita tonton dalam tayangan seri “Aircrash Investigation” atau “Second from Disaster” di saluran NatGeo, Discovery, atau BBC Channel, lazimnya tak akan mudah.

Apa pun musaabnya, musibah Hercules di Medan ini telah menggarisbawahi kembali betapa keutamaan keselamatan (safety first) belum kunjung menjadi hirauan serius di negeri kita sampai detik ini.

Keserampangan dan kesembronoan terjadi di mana-mana. Lihatlah angkutan umum yang berseliweran di jalan raya atau di laut-danau-sungai. Standar keselamatan transportasi umumnya belum berlaku di sana. Bus AKAP (antarkota-antarprovinsi), misalnya, acap pecah ban atau putus rem (remnya blong) di jalan. Kapal penumpang mogok di tengah laut, sementara pelampung satu-dua saja atau bahkan sama sekali tidak ada di sana. Dalam kondisi seperti ini pengguna jasa hanya bisa berjudi dengan nasib.

Tentu saja safety first tidak hanya minim di dunia transportasi kita. Di lapangan lain pun setali tiga uang. Para buruh bangunan atau tukang pembersih kaca, umpamanya, ada yang bergelantungan di ketinggian dengan pengaman seutas tali belaka. Laksana Spider-Man saja lagak lagu mereka di atas sana. Padahal, jelas bahwa telapak tangan mereka tak bisa melontarkan jaring laba-laba manakala perlu.

Tukang las karbit ada yang bekerja tanpa masker berkaca khusus. Atau petugas fogging bisa menyemprotkan racun serangga berjam-jam di kitaran RT-RW tanpa pelindung hidung-mulut. Seperti mahluk sakti saja mereka. Pertanyaan adalah: berapa lama mereka sanggup demikian? Punya nyawa cadangankah mereka?

Orang kita memang masih banyak yang menganggap keselamatan diri itu sebuah kemewahan. Para pengendara sepeda motor yang hanya mengenakan helm bila ada polantas berjaga, termasuk. Mereka berhelm agar tak ditilang, bukan supaya dirinya wal’afiat di perjalanan.

Ihwal safety first ini, aku jadi ingat pengalaman saat berkunjung ke kawasan Chevron Pacific Indonesia (CPI), di Minas, awal Juni barusan. Aku mendampingi 20 wartawan Riau peserta workshop Jurnalis Sadar Energi yang difasilitasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru-CPI.
Bus CPI yang berukuran ¾ membawa kami ke lokasi pagi itu.

Sebelum kendaraan bergerak, staf Humas CPI memberi arahan. Antara lain: safety belt segera kenakan. Begitu berada di kompleks nanti handphone tak boleh lagi diaktifkan. Lantas, selama di tempat tujuan peserta hanya boleh berada di lokasi aman; tandanya: berlantai hijau.

Kupikir arahan itu basa-basi saja. Ternyata tidak. Petugas pemandu yang duduk di sebelah sopir segera meminta kami semua memasang safety belt.

“Kayak lagi di pesawat waktu cuaca buruk ya…” celutuk seorang peserta dengan nada bercanda.

“Kita rasanya seperti di luar negeri. Di filem-filem action kan kayak gini…” peserta lain menimpali.

Setelah urusan ikat pinggang beres barulah kendaraan bergerak. Aku mulai percaya bahwa CPI serius menjalankan aturan.

Begitu gerbang kompleks mulai tampak, petugas itu meminta kami meng-off-kan telepon seluler.
Bus lantas berhenti. Petugas itu melapor ke penjaga. Dari kaca depan bus aku melihat petugas piket memeriksa daftar peserta dengan saksama. Sebelum mempersilakan kami masuk orang itu menyempatkan diri naik ke bus untuk meriksa.

Selama di lokasi kami didampingi sejumlah petugas berpembawaan hangat. Dua staf lapangan meladeni peserta yang menanyakan macam-macam soal CPI. Begitu bersahabat pun, mereka ternyata tetap taat prosedur standar (SOP). Manakala ada peserta yang melangkah keluar lantai hijau, saat hunting foto misalnya, mereka akan mengingatkan supaya mundur. Keakraban yang telah terjalin tak serta-merta membuat mereka melonggarkan aturan. Ketegasan seperti itu membuat aku dan kawan-kawan tak berani untuk macam-macam.

Pengalaman sekitar dua jam berdisiplin ketat di ‘negeri asing’ itu menjadi bahan perbicanganku dengan beberapa kawan sekembali ke tempat workshop. Rupanya, seperti aku, mereka juga terkesan. Kami sepakat bahwa disiplin memang harus ditegakkan betul di ladang minyak-gas. Sebab kalau tidak, amukan si jago merah bakal membayang setiap saat.

Menurut aku, bukan hanya di ladang migas saja kita perlu taat SOP. Di mana pun tempat bahaya membayang kita mesti demikian. Dengan begitu risiko petaka-bencana akan berkurang. Andai saja aturan main tegak selama ini, Hercules tidak akan jatuh dan jatuh lagi di negeri kita tercinta ini, misalnya. Aku yakin itu!

* Mentor Pendidikan Jurnalisik AJI