Musim Pilkada, Tuan Segala Tahu Terus Bergentayangan

"Saatnya Anjing Menggonggong" karya Indrotomo Brigandono.
Bagikan/Suka/Tweet:

Oyos Saroso H.N.

Tuan Segala Tahu bukanlah angin. Namun, ia selalu mengisi ruang-ruang kosong. Ia ada di mana saja dan tahu segala rupa. Terkadang Tuan Segala Tahu nyaru menjadii pendakwah, mendaku dirinya suci tiada cela sonder menengok ke palung hatinya yang penuh iri dengki. Di saat lain, ia menyamar sebagai guru dan demagog.

Ia bicara moral sonder sadar bahwa seluruh isi rumahnya adalah hasil mengemis dan merampok. Ia merampok pejabat penakut sambil tersenyum. Itu adalah gaya merampok yang hanya sepersekian derajat lebih rendah caranya dibanding dengan mengemis.

Saat lain, Tuan Segala Tahu berubah jadi seorang pemuja keindahan. Semua betis indah diapresianya. Juga ukuran payudara kaum Hawa yang bukan menjadi haknya. Ia tahu atau mungkin mungkin pura-pura tidak tahu bahwa dirinya sebenarnya tidak tahu apa pun tentang agama, moral, pendidikan, keindahan.

Begitulh Tuan Segala Tahu memperkokoh eksistensinya. Ia meruang dan mewaktu, serupa udara yang mengisi ruang kamar. Ia merasa tahu banyak hal meskipun sejatinya tidak tahu apa pun. Ia bisa menjadi (seolah-olah) analis ulung meskipun bahasanya belepotan. Ia berjas dan celana dasar licin. Juga berdasi dan berkaca mata. Terkadang kacamatanya tebal,kadang-kadang pula tipis. Tak jarang ia memakai kaca mata hitam dengan latar belakang mobil mewah dan rumah menyerupai istana.

Pada “musim Pilkada” libido Tuan Segala Tahu biasanya akan memuncak. Ia sangat rajin membuat status di Facebook atau berkicau di Twitter. Status-statusnya di Facebook kadang menukik tajam. Saking tajamnya, hati dan jantung lawan-lawannya akan terasa terbelah.

“Pilih pemimpin itu jangan orang yang diusung partai A! Dosa! Najis!” tulis Tuan Segala Tahu di beranda akun Facebook sembari menjelaskan alasan calon yang diusung partai A tidak layak dipilih.

“Si A itu munafik! Dia tidak tahu sopan santun. Dia tidak tahiu apa-apa tentang agama, moral, kejujuran, dan cara memimpin. Yang memilih dia akan sengsara!” tulis Tuan Segala Tahu, dua jam koma lima belas menit kemudian.

***

Di “musim Pilkada” (juga “musim Pilpres” dan “musim pemilu legislati”) Tuan Segala Tahu terus bergentayangan di dunia maya. Ia tidak sendiri, tetapi beratus-ratus, beribu-ribu, bahkan mungkin berjuta-juta jumlahnya.

Tuan Segala Tahu tahunya hanya dirinya yang paling benar, paling pintar, paling oke, paling bermartabat, paling layak bicara, paling tahu banyak hal, paling menangan, paling mulia, paling dekat dengan Tuhannya.

Tuan Segala Tahu merasa surga telah dikaplingnya. Yang tidak sepakat dengan omongannya akan menjadi penghuni neraka jahanam…