Beranda Ruwa Jurai Lampung Selatan Musrenbang Kecamatan Way Panji: Bupati tidak Ingin Ada Pasien Ditolak Berobat

Musrenbang Kecamatan Way Panji: Bupati tidak Ingin Ada Pasien Ditolak Berobat

57
BERBAGI
Bupati Rycko Menoza foto bersama seusai Musrenbang

Kalianda, teraslampung.com–Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza menegaskan dirinya tidak ingin mendengar ada pasien dari keluarga miskin ditolak berobat di rumah sakit. Ia meminta agar petugas kesehatan memperbaiki dan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Saya tidak ingin mendengar ada Puskesmas di Lampung Selatan yang menolak pasien dengan alasan apa pun, termasuk pasien miskin. Jangan sampai ada keluhan dari masyarakat yang ditolak karena dibeda-bedakan statusnya,” kata Bupati Rickyo Menoza saat memberikan sambutan pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Way Panji sekaligus peresmian gedung baru Puskesmas Way Panji di Desa Sidoharjo Kecamatan Way Panji, Selasa (18/02).

Menyoal Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), Rycko mengatakan baha Musrenbang merupakan tahapan proses perencanaan pembangunan yang dilakukan secara bertahap mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional.

“Hasil Musrenbang selain ditandatangani oleh Kepala Desa, juga ditandatangani oleh camat serta Anggota DPRD yang berasal dari daerah pemilihan Kecamatan Way Panji dan akan akan dibahas ditingkat kabupaten.  Di forum inilah masyarakat bisa mengajukan berbagi macam usulan program pembangunan. Jangan sampai nantinya ada masyarakat yang menanyakan daerahnya tidak pernah tersentuh pembangunan,” kata dia.

Bupati Rycko juga meminta masyarakat Kecamatan Way Panji untuk selalumenjaga situasi yang kondusif di wilayahnya masing-masing. Menurut Bupati, jika Lampung Selatan aman dan kondusif, orang akan berinvestasi di Lampung Selatan.Suasana berusaha pun akan lebih nyaman.

“Berbagai persoalan yang pernah terjadi di Kecamatan Way Paji hendaknya kita jadikan pelajaran sangay berharga. Untuk itu, saya mengharapkan kepada tokoh agama, tokoh adat, dan Kepala Desa dapat berperan mengatisipasi dan mengatasi berbagai persolan yang timbul ditengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Pada Oktober 2012 terjadi konflik sosial di Way Panji sehingga menyebabkan 12 warga tewas, ratusan rumah hangus dibakar, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Konflik bernuansa etnis jtu juga menyebabkan fasilitas umum seperti sekolah, Puskesmas,dan sarana ibadah hancur.