Musrenbang: Transformasi Budaya dan Toleransi Kehidupan Beragama

  • Bagikan

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Musrenbang Budaya (foto: isbedy)

Bandarlampung—Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Lampung 2015-2019 dilaksanakan di Gedung Rektorat IAIN Radin Inten Lampung, Jumat (4/7) dari pagi hingga sore.

Musrenbang RPJMD menghadirkan staf ahli Pemerintah Provinsi Lampung Ayi Ahdiat, dan tiga penanggap yaitu Rekto IAIN Prof. Dr. Mukri, budayawan Tajudin Noer dan Iwan Nurdaya-Djafar, serta moderator Prof. Khomsarial.

Musrenbang RPJMD yang diikuti Ketua DPRD Provinsi dak Kabupaten/Kota, SKPD Pemprov Lampung, instansi verital, Bappeda Kabupaten/Kota, perguruan tingga se-Provinsi Lampung, Ormas, serta dari kalangan profesi/tokoh masyarakat.

Menurut Sekretaris Daerah Pemprov Lampung Arinal Djunaidi, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ini tekait misi IIIb dengan tema “Transformasi Budaya Lampung dan Pemantapan Toleransi Kehidupan Beragama” di Provinsi Lampung. Musrenbang RPJMD dilaksanakan untuk memeroleh saran dan masukan dari seluruh komponen mansyarakat untuk penyempurnaan rancangan RPJMD.

“Hasil dari diskusi ini diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak untuk menjadi dokumen perencanaan publik,” kata Arinal dalam undangan.

Musrenbang RPJMD ini menghasilkan sekitar 15 poin usulan kepada Pemperintah Provinsi Lampung untuk ditindaklanjuti dalam penyusunan RPJMD 2015-2019.

Usulan yang ditandatangani Rektor IAIN Prof. Dr Mukri disaksikan seluruh peserta itu. Di antaranya perlu diterbitkan Perda Penjagaan Kebudayaan di Lampung, Menjaga Bahasa dan Budaya, perlu registrasi artefak atau situs di daerah Lampung, perlu adanya kurikulum bahasa daerah, membuka kembali jurusan bahasa Lampung, dan lain-lain.

Pada kesempatan tanggapan, Iwan Nurdaya-Djafar menegaskan bahwa sudah wakktunya meninggalkan perdebatan ihal etnis. Mengutip Nurkholis Madjid, Iwan mengatakan, saat ini yang diperlukan adalah mengedepankan kultur (budaya).

“Dengan demikian, kita bisa saling menghormati kebudayaan yang dimiliki orang lain. Sehingga dapat mengeliminasi kerusuhan antar-etnis,” katanya.

Sementara Tajudin Noer sebaliknya. Dia mengatakan, orang Lampung (etnik Lampung) sudah sangat tarbuka dan tidak pelit kepada pendatang. Tajudin menyebut pendatang asal Pulau Jawa yang mendapat lahan cuma-Cuma, misalnya di Bagelen, Metro, Kalianda, dan banyak lagi.

 “Artinya, dengan keterbukaan ini, orang Lampung juga membuka diri bagi pendatang. Bagi etnik Lampung, ada muakhi atau angkon, yakni mengangkat saudara dari luar etnis Lampung,” katanya.

Pengangkatan saudara ini bisa disebabkan perselisihan, dalam perkawinan, atau karena yang diangkon itu adalah orang yang baik.

Musrenbang RPJMD ini dihadiri tak kurang 100 undangan, di antaranya Prof. Dr. Damroh Khair, Prof. Dr. Sarifuddin Basyar. Seedangkan kalangan seniman/budayawan di antaranya I Gusti Nyoman Arsana, Bagus S. Pribadi, Syaiful Irba Tanpaka, Ivan Sumantri Bonang, Iin Muthmainah, Alexander GB.

  • Bagikan