Beranda Views Opini Mutu Pers dan Peristiwa Injak Kentang

Mutu Pers dan Peristiwa Injak Kentang

344
BERBAGI

Syofiardi Bachyul Jb

Minggu, 27 Januari 2019 sore. Istri saya heran membaca pesan di grup WhatsApp. Temannya menyampaikan ada berita aksi petani menginjak-injak kentang dan kol di jalan raya Kayo Aru, Kabupaten Kerinci sebagai protes anjloknya harga kentang. Berita itu dimuat banyak media online. Salah satu adalah Sindonews.com.

Temannya menyampaikan, kejadian tidak seperti itu. Itu adalah karung kentang yang jatuh, kemudian dinjak-injak tukang ojek yang biasa membawa kentang petani.

Ia dan adiknya yang kebetulan sedang berada di rumah sangat tidak percaya dengan kejadian tersebut. Istri saya dibesarkan di Kayu Aro dan masih sering berkunjung ke sana. Adiknya sehari-hari tinggal di sana.

Rasanya, kata mereka, tidak mungkin petani di Kayu Aro melakukan protes semacam itu, meski harga kentang yang jatuh sudah cukup lama mereka keluhkan. Kayu Aro yang berada di kaki Gunung Kerinci adalah sentra pertanian, terutama kentang dan kol.

Saya segera mencari berita yang dimaksud. Sindonews.com menulis dengan judul “Harga Anjlok, Petani di Kerinci Gelar Aksi Buang Kentang di Jalan”. Berita dilengkapi foto tiga laki-laki di tengah jalan di atas serakan kentang dan kol. Seorang di antaranya terduduk selonjor.

Caption foto menyebutkan ratusan petani Kecamatan Kayuaro, Kabupaten Kerinci menggelar aksi buang puluhan kilogram kentang dan sayur kol di jalan raya. Di ujung caption tertera foto/SINDOnews.

Keterangan foo versi Sindonews: Ratusan petani Kecamatan Kayuaro, Kabupaten Kerinci, Jambi menggelar aksi buang puluhan kilogram Kentang dan sayur Kol, di Jalan Raya Kayuaro Kerinci-Padang Aro, Solok Selatan, Sabtu (26/1/2019). Foto/SINDOnews

Saya membaca berita 7 paragraf tersebut. Di sana diinformasi ada ratusan petani menggelar aksi membuang puluhan kilogram kentang dan sayur kol, karena rendahnya harga jual. Harga sekilo kentang disebutnya Rp3 ribu, padahal normalnya Rp6 ribu hingga Rp8 ribu.

Juga disebutkan yang dibuang cabai merah dan bawang merah. Lokasinya di depan BBI Sub Terminal Agribisnis.

Disebutkan juga aksi protes ratusan petani itu membuat jalan sepanjang 200 meter berwarna merah dan membuat arus lalu lintas Kerinci-Solok macet.

Ada kutipan dua petani pada berita. Satu bernama Maria, petani kentang. Satu lagi Sugi, petani cabai.

Media siber grup Tribun dari berbagai daerah menayangkan berita serupa. Tribunkaltim.co yang pertama saya lihat juga memuat foto yang sama dengan Sindo dengan keterangan “tribunjambi/ist” (di media Tribunjambi.com keterangan foto juga sama).

Beritanya kopas dari Tribunjambi.com. Berbeda dari Sindonews. Berita Tribunjambi ini menyebutkan petani ramai-ramai membuang kentang dan sayuran kol yang baru dipanen ke jalan raya. Tidak disebutkan “ratusan petani”. Aksi juga disebutkan karena kesal harga anjlok.

Di sini disebutkan bahwa video kekesalan para petani viral di medsos sejak diposting Sabtu siang. Disebutkan bahwa di video karung berisi kentang dibuang ke tengah jalan dan karungnya dirobek dan kentangnya diinjak.

Aksi disebutkan menyebabkan jalan Kayu Aro-Solok Selatan menjadi terganggu. Meski tidak membuat macet namun pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas.

Di berita disebutkan “Informasi yang didapatkan” dan seterusnya…. Data bagian bawah berita sama dengan Sindonews dengan narasumber juga sama: Maria, petani kentang dan Sugi, petani cabai yang mengomentari harga, bukan aksi demo.

Tribunjambi.com memposting berita pada Minggu, 27 Januari 2019 pukul 11:50 WIB. Sedangkan Sindonews pada 01:30 WIB.

Jika ditelusuri, informasi injak kentang yang disebut viral berasal dari postingan Ei Vhoz di grup terbuka “Forum Masyarakat Peduli Kerinci” di Facebook, 26 Januari pukul 14.52 WIB dengan video dan foto-foto (satu di antaranya foto yang dimuat Sindonews dan grup Tribun). Postingan berisi teks: “Masyarakat mengeluh! Akibat anjloknya harga sayuran.. Kayu Aro, Kerinci 26.1.2019”.

Pada Senin malam postingan ini dibagikan 1,3 ribu kali. Namun pada Senin pukul 15.14 WIB, Ei Vhoz di grup yang sama memposting permintaan maaf:

“Kami minta maaf atas video yang kami kirimkan meresahkan banyak orang. Kejadian ini terjadi secara spontan atas kekecewaan anjloknya harga kentang dan kol. Namanya manusia pasti mempunyai perlakuan salah, khilaf. Sekali lagi kami minta maaf. Dan permintaan maaf kami ini tanpa ada pemaksaan dari pihak manapun. Kayu Aro 28.1.2019”

Senin muncul video permintaan maaf dari empat orang yang didampingi dua orang. Dua orang yang mendampingi disebutkan Ketua Gapoktan dan Kepala Desa Sangir Arif Fandani.

Seorang membacakan surat permintaan maaf, sedangkan tiga lainnya memegang kentang dan kol.
Disebutkan pernyataan maaf dibacakan Pak Vos nama panggilan akrab dari Rosi Vaskal yang mewakili rekan-rekan pedagang dan pengojek sayur. Ia menyampaikan bahwa kentang, kubis, dan kol yang dibuang adalah “reject”.

Video tersebut sepertinya telah mendapat tanggapan serius dari Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan dan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Kerinci.

Kejadian ini di satu sisi memiliki dampak positif, yaitu tersalurkannya informasi sangat murahnya harga sayuran seperti kentang, kol, dan cabe di era Jokowi sehingga merugikan petani. Meski harga komoditas yang murah menyenangkan konsumen.

**

Yang ingin saya sorot dalam kasus ini adalah proses jurnalistik media-media online yang memberitakan peristiwa tersebut. Jurnalistik adalah fakta yang dihimpun melalui displin verifikasi dengan kejujuran menyampaikan informasi.

Jika informasi didapatkan dari Facebook, harusnya disampaikan seperti itu. Tidak bisa menyebutkan di medsos saja, karena ada beberapa jenis media sosial. Jika melaporkan apa yang dilihat dari sebuah video, laporkan apa yang dilihat dan didengar, jangan ditambah.

Tetapi yang paling penting adalah seorang jurnalis mengecek ke lapangan. Jika ketinggalan atau lokasi sulit dijangkau, setidaknya menelusuri kembali dengan mengontak narasumber yang berkompeten.

Ketika membaca berita insiden injak kentang ini, saya tidak menemukan disiplin verifikasi. Jurnalis dan medianya mengaburkan narasumber, mengaburkan proses verifikasi, pada beberapa bagian juga mengarang (fiksi), serta tidak mencantumkan sumber foto.

Berita gagal menulis dengan akurat siapa yang melakukan “protes” dan berapa orang (Who), tidak mewawancarai orang yang melakukan “protes” sehingga tidak menemukan apa, kenapa, dan bagaimana (What, Why, dan How).

Selain itu juga mengarang dengan menyebutkan ada ratusan petani yang protes. Ratusan itu artinya “beratus-ratus” atau sedikitnya 200 orang. Juga menyebutkan 200 meter sayuran berserakan dan menyebabkan kendaraan yang melintas ekstra hati-hati. Tidak bisa membedakan mana kentang dan kol pilihan dan mana yang “reject”.

Berita juga tidak “cover both sides” atau berimbang. Ketika petani memprotes pemerintah karena harga anjlok, meskinya pejabat pemerintah yang berkompeten diminta tanggapannya, misalnya pejabat di Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura.

**

Perkembangan pers siber di Indonesia dewasa ini memang mengecewakan, karena berita-berita semacam ini cukup sering ditemukan. Membacanya menimbulkan kebingungan. Celakanya berita-berita semacam ini diproduksi oleh media-media siber yang resmi versi Dewan Pers, lulus verifikasi pendataan dan wartawannya (terkadang) lulus uji kompetensi. (*)

*Syofiardi Bachyul Jb, Ketua Majelis Etik Nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan anggota AJI Padang

Loading...