Mutung

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Profesor Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Diksi “mutung” dalam istilah Filsafat Ilmu adalah termasuk Terminus aequvocus (Jujun Surya Sumantri: 1977); yaitu satu kata memiliki banyak arti, dan ini merupakan kelemahan bahasa yang menjadi keunggulan Matematika dan Statistika. Mutung bisa berarti gosong, tetapi bisa juga bermakna tidak mau lagi; dan apabila kata ini diserap dari bahasa daerah (baca: Jawa). jika kita gandengkan dengan kata benda; maka “mutung” menerangkan benda yang hangus terbakar.

Hal tersebut kita biarkan menjadi bahan pertemuan kuliah minggu ketujuh bagi mahasiswa pascasarjana yang mengambil mata kuliah Filsafat Ilmu di semester ganjil. Namun kata ini menjadi membahana jika dikaitkan dengan usaha perdagangan yang mutung karena merasa dipecundangi tentang pajak, dan ingin pindah usaha di wilayah yang bebas pajak.

Menjadi aneh tapi nyata, yang bayar pajak siapa yang mutung siapa. Namun karena sudah menyangkut “marwah” maka masing masing ngotot dengan membawa pembenaran masing masing. Padahal di hadapan mereka ada “meja” tripatrit yang pernah dibangun oleh Alm Soedomo dulu waktu menjadi Menteri Tenaga Kerja untuk dimanfaatkan sebagai media penyelesaian masalah. Namun karena masalahnya sudah menjadi masalah baru, maka masalah itupun menjadi permasalahan untuk dipermasalahkan.

Di tempat lain ada oknum yang ingin menjadi kompor untuk kegiatan yang mengatasnamakan perlawanan sosial hanya karena ingin menyalurkan syahwat tampil beda. Sehingga semua yang tidak sama adalah miliknya sementara yang sama adalah lawannya. Posisi pasangan dimaknai sebagai permusuhan; hukum sosial yang menyejajarkan dipaksakan untuk berhadaphadapan. Ini juga menjadi aneh lagi karena tidak merasa bahagia jika tidak bisa beda. Akibatnya yang bersangkutan tampil “mutungan” . jelas corona itu virus yang harus dihadapi bersama dengan disiplin bersama, yang bersangkutan dengan gagah berani mengatakan virus corona itu tidak ada; yang ada adalah rekayasa, untuk itu tidak harus dipercaya. Ternyata komentarnya ini muncul karena waktu rapat membahas corona yang bersangkutan merasa tidak dilibatkan, akibatnya mutunglah dia.

Di belahan lain saudara saudara kita para pejuang kemanusiaan sedang bercibaku menyelamatkan ribuan manusia yang terjangkit wabah ini dengan tidak mempedulikan kesehatan dan keselamatan dirinya; bahkan ada diantara mereka yang sudah tidak ketemu keluarga berhari hari karena tuntutan tugas, juga menjaga keselamatan keluarga. Tetapi ada sebagain kecil diantara kita yang menjadi Tikus Gudang memanfaatan kesempatan dalam kesempitan guna mencari keuntungan pribadi dengan korupsi. Membuat kita yang waras ini menjadi “mutung “untuk mempercayai hukum yang terlalu ringan dijatuhkan kepada mereka tatkala mereka tertangkap tangan.

Pada kesempatan lain pemerintah sedang berjuang bersama rakyat bahu membahu dengan asas gotong royong yang berwujud membantu warga yang sedang isolasi mandiri dengan memberikan bantuan, serta partisipasi warga membangun dapur umum kecil kecilan atau masak rantangan guna diberikan kepada saudaranya yang sedang tidak bisa keluar rumah, dilakukan secara bergantian. Tetapi di sisi lain ada yang sehat jasmaninya tetapi tidak sehat rohaninya karena tega teganya mengambil kesempatan akan mengganti pemerintahan. Mereka tidak memperhitungkan biaya sosial yang harus ditanggung oleh rakyat yang sedang menderita dan perlu bantuan untuk hidup dan bukan makan politik.

Kita boleh berbeda dan boleh ganti siapa memerintah kita kapanpun itu dan siapa pun itu asal dengan kesepakatan sesuai konstitusi; namun hati nurani, akal sehat seharusnya dikedepankan. Negara (baca: rakyat) sedang menderita dan dalam sejarah Negara ini terbentuk belum pernah ada wabah yang melanda begini dahsyat. Semenjak merdeka kita pernah kena serangan bakteri kolera di era akhir 1950-an, tetapi tidak sedahsyat ini. Kita pernah kena serangan kemarau panjang yang membuat gagal panen diera awal 1960an, sehingga banyak warga menyulihgati makanan pokok dengan makanan yang tidak layak, seperti gadung, biji karet, bonggol pisang. Tetapi hantaman telak tidak seperti virus yang sekarang ini.

Untuk itu, mari kita berpikir waras mendahulukan keselamatan rakyat dan menyelamatkan Negara. Perbedaan yang kita miliki mari kita simpan dulu di saku kita masing-masing, nanti tiba waktunya kita mainkan kembali. Syahwat ingin beda, ingin kuasa, ingin popular dan lain lainnya lagi, mari untuk sementara kita kendalikan. Fokuskan dulu pada penyelamatan negeri ini dari kebangkrutan karena wabah. Negara lain bisa, kita musti bisa.

Salam Sehat.

 

  • Bagikan