Beranda Kolom Kopi Pagi Nadiem Makarim, Harapan Baru

Nadiem Makarim, Harapan Baru

166
BERBAGI
Salah satu pendiri yang juga CEO Gojek Nadiem Makarim melambaikan tangannya saat berjalan memasuki Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.
Salah satu pendiri yang juga CEO Gojek Nadiem Makarim melambaikan tangannya saat berjalan memasuki Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.

Oyos Saroso H.N.

Ketika Nadiem Makarim dipanggil Presiden Jokowi ke Istana Negara pada 21 Oktober 2019 saya menduga ia akan didapuk menjadi Menteri UMKM atau menteri yang berkaitan dengan bisnis, perdagangan, dan ekonomi. Dugaan saya meleset. Putra tokoh hukum Nono Anwar Makarim dan pendiri Gojek itu ternyata diplot sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saya tidak sendiri ketika bersikap pesismistis terhadap pengangkatan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Saya dan banyak terutama para kawan yang mengenyam pendidikan menengah dan pendididikan tinggi di ilmu keguruan heran dengan pengangkatan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Soalnya sederhana: meskipun Nadiem mengenyam pendidikan di luar negeri di perguruan tinggi ternama, tetapi menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia tidaklah mudah. Dan, ini yang utama, Nadiem tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu pendidikan atau setidaknya punya pengalaman di bidang pendidikan.

Namun, jika merujuk pada alasan Presiden Jokowi menunjuk orang-orang muda seperti Nadiem Makarim untuk menjadi menteri, saya bisa menahan keraguan. Jokowi beralasan, Nadiem akan bertugas menyelesaikan masalah SDM terutama agar output lulusan sekolah menengah bisa mendapatkan lapangan kerja. Jokowi pun mengutip istilah link and match, sebuah istilah yang pernah gencar dipopulerkan Mendikbud Wardiman Djodjonegoro di era Orde Baru — yang ternyata gagal dalam praktik pendidikan di lapangan.

Kesuksesan berbisnis Nadiem dalam usia sangat muda adalah catatan tersendiri yang susah disaingi siapa pun di Indonesia. Itu sama halnya dengan sukses seorang B.J. Habibie muda menjadi seorang jenius di bidang penerbangan (merancang pesawat terbang).  Di sinilah menurut saya ada kesejajaran alasan Soeharto memilih Habibie sebagai Menristeki dan Jokowi memilih Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Habibie dan Nadiem menjadi idola anak muda, menjadi inspirasi banyak orang.

Masih terlalu pagi untuk menilai Nadiem Makarim mampu atau tidak mengemban amanah. Yang menggembirakan: Nadiem tampak rendah hati. Ia mengaku dalam 100 hari akan banyak belajar tentang pendidikan, berdiskusi dengan para pakar pendidikan.

Nadiem mengatakan dunia pendidikan Indonesia adalah yang terbesar keempat di dunia, namun belum banyak perubahan dalam 20-30 tahun terakhir meskipun Mendikbud dan Menristekdikti sudah membuat banyak kemajuan.

Ia mengakui sudah banyak hal baik yang dilakukan menteri sebelumnya, yaitu  Muhadjir Effendi (Mendikbud) dan Mohamad Nasir (Menristek Dikti). Pernyataan ini bisa ditafirkan sebagai kerendahhatian. Ia cukup paham bahwa memimpin Kemendikbud (yang kembali digabung dengan Dikti) bukanlah hal yang enteng. Menurut Nadiem di Indonesia ada 300 ribu sekolah dan 50 juta pelajar. Oleh karena itu dia akan menerapkan apa yang dilakukan di Gojek yaitu meningkatkan peran teknologi untuk memodernisasi pendidikan.

“Mau nggak mau dengan 300 ribu sekolah dan 50 juta murid, peran teknologi akan sangat besar dalam kualitas, efisiensi dan administrasi sistem pendidikan. Jadi peran teknologi sangat penting. Kita harus mendobrak, kita harus berinovasi,”kata Nadiem kepada para awak media.

Di luar soal kehebohan pengangkatan sebagai Mendikbud, Nadiem Makarim sendiri “dari sononya” berasal dari keluarga mumpuni banyak hal. Ayahnya — Nono Anwar Makarim —  adalah seorang aktivis dan pendukung gerakan antikorupsi dan notaris terkenal. Kakeknya dari garis ibu — Hamid Algadri — adalah tokoh perintis kemerdekaan yang turut menjadi delegasi RI ketika berunding dengan Belanda.

Semoga menteri muda itu benar-benar menjadi harapan baru bagi Indonesia untuk bisa mengatasi sengkarut masalah pendidikan yang sudah berlangsung sejak lama.

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaBPNB Jawa Barat akan Gelar Festival Kesenian Lampung
Artikel berikutnyaBupati Parosil Buka Sosialisasi Proda dan PTSL di Gedung Surian
Oyos Saroso HN alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta/UNJ). Mengawali karir jurnalistik sejak 1992 sebagai penulis freelance. Tulisannya berupa opini, esai, puisi, dan resensi dipublikasikan di Republika, Media Indonesia, Kompas, Suara Karya Minggu, Harian Terbit. Bergabung dengan Harian Lampung Post pada 1996-1999, Harian Trans Sumatera (1999-2002), dan The Jakarta Post (2002-2015). Selama beberapa tahun ia menjadi editor majalah "Sapu Lidi" terbitan Komite Anti Korupsi (KoAk) Lampung. Beberapa puisinya terkumpul di sejumlah antologi bersama.