Nafsu Gede Tenaga Kere

  • Bagikan

Oyos Saroso HN

Jalanan sudah ramai saat Mat Kelam ngamprok di warung kopi Mbak Caca Marica Hehe. Sepagi itu, napas Mat Kelam sudah tampak ngos-ngosan setelah mengangkut beberapa keranjang barang dagangan istrinya ke Pasar Kangkung.

Di warung Mbak Caca, Mat Kelam memesan segelas kopi nastanla (panas tanpa gula) dan bubur ayam. Harum kopi lampung meruap.

Saat Mat Kelam hendak menyeruput kopi, ketika mulut cangkir baru hendak menempel di bibirnya yang hitam, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.

“Tumben nih setelah libur Lebaran pagi-pagi begini sudah ngantor.… Takut disemprit Mbak Caca ya?” ujar Dul Lamin, yang tiba-tiba sudah duduk di kursi panjang, hanya beberapa centi darinya.

(‘Ngantor’ adalah istilah nongkrong di warung Caca Marica)

Mat Kelam menoleh ke arah sumber suara. Kopi nastanla diseruputnya pelan-pelan. Ia cuma nyengir kuda mendengar ledekan sohibnya.

“Lha kamu sendiri jam segini juga sudah ngantor. Apa ndak ada tugas luar?” Mat Kelam gantian meledek.

Pengin sih dapet tugas luar. Tapi si bos lagi sering marah-marah karena semua proyeknya belum cair. Katanya pemerintah daerah sedang pailit. Defisit. Proyek jalan kampung bebas hambatan yang menghubungankan kampung sebelah dengan kampung kita sudah diberesin sama bos, tapi ungnya nggak cair!”

BACA JUGA:   Badut-Badut Intelektual

“Kok bisa gagal seperti itu? Mestinya tiru dong proyek jalan tol trans Sumatera. Lancar gancar karena dikejar Lebaran!”

“Hahahahhaha…. Lebaran kok dikejar,” kata Dul Lamin,”emangnya mau mengantar kematian para pemudik seperti proyek Tol Cipali dan Brebes Exit? Proyek tol Sumatera lancar gancar apanya? Samo bae bro! Nggak di Lampung nggak di Aceh, masalahnya sama. Pembebasan lahannya masih kisruh. Belum kelar…”

“Tapi woro-woronya kemarin selangit. Katanya jalan tol Sumatera di Lampung akan bisa digunakan para pemudik Lebaran tahun ini….” kata Mat Kelam.

“Woro-woro dan pamer ketangkasan ala pemimpin kita kan nggak perlu bayar. Beda kalau woro-woronya di advetorial media online dan koran… hehehhee…”

“Hiya juga ya,” timpal Dul Kelam,”sering nyebelin. Banyak pemimpin kita gede umpak kurang papak. Besar pasak daripada tiang. Kegedean gaya. Tong kosong ngglondang bunyinya…hehehee…”

BACA JUGA:   Sapardi Djoko Damono

“Istilah lainnnya, cowok pengantin baru kurang persiapan…” timpal Mat Lamin.

“Apaan itu?”

“Ya… nafsunya aja gede tapi tenaganya kere! Nafsunya saja yang gede. Tapi begitu tiba saatnya mau mengeksekusi, eh, malah loyo lunglai tanpa daya….”

“Itu masih mendingan. Nafsu gede dan tenaga kerenya pengantin baru hanya berdampak bagi dirinya sendiri dan pasangannya. Lha kalau yang nafsu gede dan punya tenaga kere itu pemimpin, apa ya nggak bikin repot rakyatnya?” ujar Dul Lamin.

“Padahal kalau sedikit sabar dan menunda nafsu untuk dipuji barangkali hasilnya bagus ya. Nggak perlu ada jalan tol yang belum 100 persen siap dipakai dipaksa dipakai sehingga bikin tragedi. Nggak perlu ada jalan yang sudah bagus malah ditutup sehingga bikin macet….”

“Ho oh,” kata Dul Lamin. “Jangan seperti saya. Tadi pagi saya ngotot membawa barang dagangan istri saya ke pasar sekali angkut. Mestinya saya angkut 2-3 kali. Akhirnya ngos-ngosan deh….”

 

 

  • Bagikan