Nalar Keagamaan Kita

  • Bagikan

Syamsul Arifien*

Ketika masa kecil dulu saya mengaji di surau desa yang masih diterangi lampu petromak. Kami, anak-anak yang belajar agama kepada guru ngaji surau, sepekan sekali bergantian ‘iuran’ sebotol minyak tanah agar petromak tetap bisa menyala. Jangan ditanya mana listrik PLN, karena di masa-masa kecilku listrik masih merupakan barang mewah yang baru bisa dinikmati warga kota.

Botol-botol berisi minyak tanah itu bisa dari macam-macam dari botol bekas minuman alkohol bir, anggur malaga, atau ada juga botol bekas kecap bangau. Tak lupa, selepas shalat isya’ kami meningalkan surau secara berkelompok, di tengah gelap wajaah-wajah kami tampak menyembul ditampar nyala obor bambu bersumbu sabut kelapa atau kain lap yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Kegembiraan tiada tara mewarnai kekentalan jiwa kebersamaan kami. Ya kegembiraan khas anak-anak desa.

Juga kisah pengalaman yang membuat saya sering tersenyum bahagia – jika mengingatnya – adalah ketika kami saling bertukar sayur dan lauk bekal bontot nasi makan sahur di bulan puasa. Seusai berkeliling kampung membangunkan warga dengan bunyi-bunyiaan rebana dan kentongan bambu, lalu kami kembali ke surau menyantap bersama bekal santap sahur itu.

Puluhan tahun kemudian, surau-surau desa sudah berganti wajah. Tak dijumpai lagi surau tradisional berdinding geribik, papan, juga yang beratap welit. Anak-anak sudah tak lagi perlu menenteng botol minyak tanah dan obor bambu.  Tak ada lagi keriuhan keliling kampung membangunkan warga bersantap saur, karena speaker pengeras suara telah menggantikannya, yang tak berhenti melonglong sepanjang malam  ramadhan.

BACA JUGA:   Bapak Prabowo, Anda Layak Dapat Bintang!

Semua masjid, mushola, langgar atau surau kini sudah permanen. Terlebih-lebih lagi sejak berlakunya otonomi daerah, dana bantuan sosial banyak mengucur ke rumah-rumah ibadah melalui kegiatan safari ramadhan pejabat atau dari pencairan proposal-proposal yang diajukan pengurus masjid dan moshula. Ini era dimana pengurus masjid – moshola  telah semakin canggih ilmu dan ketrampilannya membuat dan mengedarkan proposal-proposal bantuan dana.

Belum lagi ketika musim Pemilu atau Pilkada tiba, proposal-proposal pembangunan masjid dan mushola bertebaran ke alamat para calon Legislatif dan calon Kepala Daerah. Ditambah lagi maraknya kegiatan menjaring amal di jalan-jalan raya yang dikreasi panitia pembangunan masjid dan mushola.

Al hasil makin banyak masjid dan mushola berdiri megah di mana-mana. Meskipun ada resiko pahitnya juga, banyak kejadian Caleg dan Calon Kada yang gagal akhirnya menarik paksa kembali bantuan yang telah mereka berikan. Pun pula dengan model kreatifitas konyol jaring amal dana pembangunan masjid atau mushola  di jalan-jalan raya, itu apakah tidakkah pernah terbayangkan bagaimana perasaan Tuhan – dipermalukan oleh hamba-hambaNya.

***

Kemodernan zaman ternyata tidak selalu ekuivalen dengan kesiapan mental manusianya itu sendiri di dalam merespon maupun menyikapi trend global inovasi dan dinamika perubahan yang berlangsung cepat dan selalu terbarukan.

Kaum muslim Indonesia yang juga tinggal di rumah peradaban, termasuk yang mengalami gagap realita (ketidak siapan) mental manusia modern itu. Di ranah budaya masjid misalnya, jamaah masih dicurigai sebagai orang-orang yang belum dewasa dan belum matang nalarnya, sehingga selalu perlu untuk diperingatkan secara formal dan verbal.

BACA JUGA:   Kanker, Bisnis atau Penyakit?

Maka, mana ada di masjid-masjid atau mushola sekarang ini yang di tiang atau di dinding-dindingnya yang tidak tertera pesan bernada peringatan, seumpama ” di sini batas alas kaki”, juga “di dalam masjid HP harap dimatikan”. Terus terang saya merasa geli dan mengurut dada membaca pesan-pesan maha sangat penting itu.

Apakah kaum muslim itu adalah manusia-manusia primitif, sehingga tidak akan bisa memahami makna kesucian diri dan kesucian tempat ibadah, sehingga  musti diperingatkan sebagaimana peringatan “awas ada anjing gila!”.

Apakah sudah sedemikian parah manusia modern mempertuhankan teknologi, sehingga ketika akan shalat di masjid, pun merasa kurang afdol atau kurang kadar nilai kekhusukannya jika alat telekomunikasinya itu dimatikan, sehingga perlu otoritas di luar dirinya yang harus ‘berteriak-teriak’ mengingatkan?

Berabad-abad umat Islam mensyiarkan dakwah agama, tetapi tidak beranjak menggunakan cara berpikir dan bertindak dengan kedewasaan nalar. Ketidak dewasaan nalar itu juga berbanding lurus dengan ketidak adanya rasa percaya diri umat dan rendahnya kepercayaan antar sesama umat muslim.

Ketulusan perjuangan dakwah bil hikmah wal mau’izhah hasanah yang dilakukan para mujahid agung di masa-masa terdahulu, sepertinya tidak dijadikan ibrah dan tauladan oleh umat kemudian. Dan sebagaimana secuil gambaran di awal tulisan ini, tak akan lebih keindahan budaya ber-tolabul ilmi semacam itu dapat dimaknai,  kecuali hanya sebatas lipatan kenangan masa silam belaka.



* Ketua Kelompok Musik Gamelan Jamus Kalimosodo Lampung

  • Bagikan