Beranda Kolom Kopi Pagi Nasib Manusia

Nasib Manusia

67
BERBAGI

Nusa Putra*

Subuh gelap pekat, mendung menggantung di langit. Jalanan basah karena hujan malam tadi. Lampu jalanan masih hidup, memancarkan cahaya temaram. Aku berangkat setelah subuh agar tidak telat memulai kuliah pukul delapan. Mobil bergerak menempuh jalan yang biasa kulalui. Saat memasuki jalan yang panjang, jalanan ditutup. Ada tenda di tengah jalan. Ada orang meninggal. Ini kebiasaan buruk. Menutup jalan di bagian tengah, bukan di ujung jalan masuk. Rasanya seperti dijebak. Apa boleh buat, harus berbalik, agak susah, jalanan sempit.

Jalan memutar. Baru saja berjalan sekitar 200 meter, ban kanan belakang kempes. Menepi dan memeriksa. Rupanya ban robek. Ada besi tajam tergeletak di jalan dan hancurkan ban mobil.  Dalam situasi ini, orang tergoda untuk berandai-andai. Sopirku bilang, kalau tadi jalan gak ditutup, kita gak repot begini. Bisa telat kita, Pak, keluhnya. Aku bilang, santai aja. Kita ganti ban dan segera jalan lagi. Aku tambahkan, lebih baik bersyukur. Boleh jadi, kita diberi musibah kecil begini, agar terhindar dari musibah besar. Coba bayangkan jika pecah ban seperti ini terjadi di jalan tol, saat mobil kita melaju kencang.

Inilah nasib manusia. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana masa depan kita. Inilah fakta hidup manusia. Masa depan sungguh misterius. Wilayah gelap yang suka atau tidak harus kita hadapi dan masuki.

Kita menjalani hidup dengan mengikuti dan menjalankan kebiasaan. Kebiasaan yang kita bentuk dengan sadar atau tidak. Kita mulai terganggu bila kebiasaan itu tidak dapat dilaksanakan seperti lazimnya. Kita mulai bertanya, ada apa?

Kita membuat rencana, akan lakukan ini besok pagi, hendak kerjakan ini siang nanti, dan mau selesaikan ini sore hari bersama teman-teman. Terapi semua rencana itu bisa berantakan karena ada kejadian-kejadian tertentu yang sama sekali di luar perhitungan dan dugaan kita. Inilah hidup kita.

Kita menjalani hidup dengan membuat rencana dan menjalankan sejumlah kebiasaan. Kerap terjadi, rencana bukan saja tidak berjalan, bahkan yang terjadi kebalikan dari rencana yang telah disusun.  Hidup meneror kita dengan banyak kejutan. Anggota keluarga atau teman dekat yang sehat, tiba-tiba meninggal. Sedangkan yang telah bertahun-tahun sakit tetap bertahan, meski belum juga sehat.

Seorang teman yang bekerja keras dengan tulus, malah tetap miskin dan hidup menderita. Sedangkan teman yang curang dan pemalas, menikmati hidup berkecukupan dan penuh kesenangan. Orang yang baik dan menyenangkan tiba-tiba wafat, sedangkan orang yang jahat, curang dan memuakkan tetap hidup, malah sehat-sehat saja. Inilah hidup dan nasib manusia. Tidak selalu seperti yang kita inginkan dan harapkan.

Situasi ini seringkali membuat sejumlah orang frustrasi. Mengapa yang baik, rajin dan jujur harus kalah dan tersungkur. Sebaliknya yang culas, malas, dan menghalalkan segala cara malah berjaya dan kelihatan bahagia? Apakah ini adil?

Orang-orang bijak bilang, sesungguhnya kita semua berada dalam cobaan dan ujian. Ada yang dicoba dan diuji dengan kemiskinan, penderitaan, keapesan, dan melulu kesedihan. Ada pula yang diuji dan dicoba dengan kekayaan, kesenangan, dan kelimpahmewahan. Siapa yang bisa lalui ujian dan cobaan itu adalah pemenangnya.

Ungkapan itu pastilah benar dan enak diucapkan. Namun, sangat sulit dijalani. Apalagi jika bentuk ujian dan cobaan adalah kemiskinan dan penderitaan. Karena itu perlu dan penting untuk menciptakan sebuah ruang di dalam otak. Sebut saja namanya keranjang siap sedia. Bila berhadapan dan berbenturan dengan fakta dan kejadian yang tidak diharapkan dan bertentangan dengan akal, kebiasaan, dan keinginan, kita tidak langsung bereaksi dengan cara yang biasa.

Kita selalu bisa melihatnya dengan cara lain, dengan cara sebaliknya, mencoba melihat sisi positifnya atau mencoba mencari hikmah di balik kejadian tersebut. Jika keapesan menimpa diri, daripada menyalahkan orang lain, ada bagusnya dengan cermat dan hati-hati melihat kemungkinan berbagai kesalahan yang berakar pada diri sendiri. Mengaca diri.

Jika keinginan atau harapan tak terpenuhi, dari pada kecewa mendingan berpikir begini. Bila keinginan ini terpenuhi boleh jadi akan membawa kemudharatan, masalah, penderitaan atau kesengsaraan pada masa depan.  Perhatikan di sekitar kita, ada orang yang mendapat rezeki luar biasa. Mulanya tampak ia dan keluarganya begitu senang dan bahagia. Segala punya apapun ada. Namun, dalam perjalanan waktu, keluarga itu jadi berantakan. Karena rezeki yang berlimpah itu rupanya telah memunculkan banyak kebiasaan baru yang sama sekali tidak sehat bagi jasmani dan rohani mereka.

Seringkali apa yang semula dirasakan srbagai anugerah, akhirnya membawa bencana. perhatikan berapa banyak wanita cantik yang justru hancur hidupnya justru karena kecantikannya itu. Kecantikan yang merupakan kelebihan dan anugerah, akhirnya menghancurkan hidupnya karena digunakan untuk hal-hal yang tidak benar, dengan cara yang salah.

Kejadian sebaliknya sering terjadi. Ada orang yang tertimpa musibah. Mendapat kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen. Awalnya, kejadian ini sangat memukul dan menghancurkan si korban dan keluarganya. Dalam perjalanan waktu, setelah berusaha dengan susah payah, mereka merasakan bahwa musibah itu membawa anugerah luar biasa. Keluarga itu sekarang hidup dengan lebih tenang, karena yang menjadi korban yaitu sang ayah, kini bisa mendapatkan rezeki dengan membuka usaha di rumah dan tidak lagi tenggelam dalam kebiasaan buruk yang dulu menyebabkannya tabrakan dan cacat seumur hidup.

Inilah hidup manusia, takdir dan nasib manusia. Banyak kejadian mengejutkan, di luar dugaan dan tak terfikirkan, terjadi. Seringkali mendatangkan kesengsaraan pada mulanya dan berakhir dengan bahagia pada akhirnya, dan sebaliknya. Dalam kaitan ini bisa dimengerti bahwa dalam hidup kita bisa mengalami kejadian yang ‘happy ending’nya sedih.

Menghadapi nasib yang tak pernah kita tahu akan seperti apa dan berakhir bagaimana, sebaiknya TETAP BERPIKIR DAN BERTINDAK POSITIF, SERTA TERUS BERSYUKUR MENJALANI HIDUP YANG TAK PASTI.

* Dr. Nusa Putra adalah dosen di UNJ, banyak menulis buku tentang metodologi riset dan pendidikan.

Loading...