Negeri Atas Angin

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Berdasarkan penelusuran literatur ternyata nama Negeri Atas Angin tidak banyak ditemukan jejaknya: hanya sedikit informasi bahwa nama itu untuk menggantikan negara India, Iran, Arab dan sedikit Negara Eropa yang menjadi sumber munculnya hembusan angin di belahan bumi ini.

Informasi lain menunjuk kepada bagaimana mitos dibangun oleh Kaisar Augustus memegang kunci gudang harta Romawi. Dia tak tahu lagi bagaimana menghamburkan emas yang dirampas dari seluruh daerah di Barat. Permintaannya terhadap rempah dan barang-barang eksotik dari dunia Timur kian menggila. ”Romawi yang mewah dan bercita rasa tinggi menginginkan produk-produk eksotik yang sudah langka di India sendiri,” tulis Bernard Philippe Groslier dalam buku Indocina Persilangan Kebudayaan (2002).

Saat itulah mulai dilakukan ekspedisi mencari Negeri Atas Angin sebagai penghasil rempah terutama Kamper atau Kapur Barus. Informasi inilah diyakini awal mula terbukanya daerah Barus di Sumatera Timur, sebagai lambang Negeri Atas Angin sebagai daerah eksplorasi baru perdagangan antar benua saat itu.

Informasi lain yang lebih kongkrit menunjuk pada pemandangan yang indah dari atas perbukitan atau gunung. Negeri Atas Angin, sebutan bagi daerah wisata di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Terhitung beberapa tahun terakhir, desa ini menawarkan keindahan alam dari atas perbukitan, dengan spot selfie menarik bagi para wisatawan yang datang, terutama anak anak remaja yang datang di akhir pekan.

Tulisan ini ingin meminjam istilah Negeri Atas Angin sebagai negeri yang “Gemah Ripah Loh Jinawi” perlambang negeri yang makmur; tentu juga tidak dihiasi dengan perilaku kejahatan, dari yang bersifat kriminal maupun yang bersifat “kerah putih”. Meskipun demikian, negeri serupa ini semua dalang wayang kulit atau wayang purwa, juga wayang golek, pernah mementaskannya dengan cerita “Petruk Dadi Ratu” (Petruk Menjadi Raja)  atau “Negara Welgeduwelbeh”.

Pesan atau pitutur yang ingin disampaikan pada episode itu adalah; sekelas punakawan saja berkeinginan menemukan negeri yang “Tata Tentrem lan Raharjo” (Damai dan Sejahtera). Juga dilengkapi dengan sastrawan sekaligus budayawan WS.Redra pernah menggunakan adagium Negeri Atas Angin. Di situ Rendra menampilkan keangungan diri sebagai sastrawan yang luar biasa.

Negeri impian seperti itu sebagai Negeri Atas Angin yang sampai saat ini hanya merupakan harapan ideal dari suatu cita cita mulya manusia, bahkan ada yang mengklasifikasikan kepada mitos. Semua pemimpin negeri inipun saat pemilihan bercita cita menjadikan negerinya sebagai Negeri Atas Angin. Tinggal memaknai kemudian memberi warna untuk diaplikasikan dalam program jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Namun, disesalkan dalam perjalanannya banyak wadyabala  dan petinggi negeri yang melupakan cita cita ideal itu, sehingga tega melakukan tindakan “memperkaya diri sendiri dan kroninya”, serta tindakan lain yang diibaratkan oleh dai terkenal almarhum Zainuddin MZ bak penumpang kapal laut yang melubangi palka kapal sehingga air masuk dan mengakibatkan kapal menjadi tenggelam.

Contoh nyata teranyar didedahkan Dr. Syarief Makhya, yaitu tentang dugaan korupsi pimpinan lembaga tinggi negara yang sebenarnya duduk diam saja sudah memiliki pendapatan tujuh miliar,  tetapi karena memiliki sifat tamak dan loba, maka uang negara yang merupakan uang rakyat pun disikat dengan cara halus (Azis Syamsuddin, DAK, dan Korupsi). Model pemimpin seperti inilah yang manis di muka busuk di belakang’ menjadi salah satu penghambat terwujudnya cita cita pendiri negeri ini sebagai negeri yang adil makmur. Sebab, adilnya untuk orang lain sementara makmurnya untuk pribadi. Lebih mengerikan lagi tampaknya pembelajaran dari pimpinan yang lama, dan beberapa anggota yang sedang bermasalah dengan kasus yang sama, tidak menjadikan urat malu jadi sensitif, malah cenderung bebal dan kebal.

Negeri Atas Angin sebagai negeri harapan memang tidak mungkin ada. Itu bukan realita, tetapi betul fiksi adanya; namun jika fiksi pun kita tak punya, apalagi realita; akan makin menjauh. Kapan kita bisa bermimpi jika tidur pun tidak?  Tampaknya banyak petinggi negeri ini sudah tidak bisa bermimpi atau kehilangan mimpi untuk memiliki negeri yang berkeadilan dan berkemakmuran. Buktinya rententan kejahatan korupsi laksana kita menonton drama Turki yang berseri. Belum selesai satu sudah disusul yang lain; menjadi khas kasusnya sama, bahkan berpola mirip.

Namun, semua kita jengah karena setelah di sidang ternyata putusan pengadilan pun tidak berpihak kepada rakyat dan atau rasa keadilan.Vonis yang diberikan dengan kekayaan yang dikeruk tidak sebanding dengan lamanya menjalani hukuman. Seiring perjalanan waktu, mereka dapat potongan hukuman. Karena hilang dari perhatian publik, mereka pun melenggang keluar penjara dengan santainya.

Negeri Atas Angin memang angan-angan. Sama halnya kemerdekaan dulu juga adalah angan. Namun,  jika masih angan pun sudah kita rusak, apalagi kalau itu nyata; mungkin akan jadi “rayahan” banyak orang. Untuk itu,  wahai para petinggi negeri, berhentilah dikau korupsi, karena negeri ini akan kita bawa ke puncak yang tinggi, sesuai dengan cita cita para pendiri negara ini.***

  • Bagikan