Nelayan Lampung Keluhkan Rendahnya Harga Rajungan

  • Bagikan
Miswan (kiri)dan para pembicara pada pelatihan Singkat Kampanye Media Rajungan Untuk Masyarakat Sejahtera (JUARA ) untuk Wartawan Lampung yang digelar Coral Triangle Center (CTC) Hotel Emersia Bandarlampung, Sabtu (18/9/2021).
Miswan (kiri)dan para pembicara pada pelatihan Singkat Kampanye Media Rajungan Untuk Masyarakat Sejahtera (JUARA ) untuk Wartawan Lampung yang digelar Coral Triangle Center (CTC) Hotel Emersia Bandarlampung, Sabtu (18/9/2021).

TERASLAMPUNG.COM–Nelayan Rajungan di Lampung mengeluhkan rendahnya harga jual rajungan di pasaran. Hal ini terungkap dalam acara pelatihan Singkat Kampanye Media Rajungan Untuk Masyarakat Sejahtera (JUARA ) untuk Wartawan Lampung yang digelar Coral Triangle Center (CTC) Hotel Emersia Bandarlampung, Sabtu (18/9/2021).

“Nelayan rajungan jauh dari kata sejahtera, karena harga jual rajungan ditingkat nelayan rendah,” kata Ketua Forum Nelayan Rajungan Lampung, Miswan.

Menurut Miswan selama ini harga jual rajungan masih rendah di tingkat nelayan, yaitu sekitar Rp 100.000/kg.

Selain itu, peranan pemerintah tidak dirasakan para nelayan rajungan baik secara langsung maupun tidak , baik bantuan berupa modal / materi maupun alat tangkap.

” Selama ini kalau ada acara pelatihan dari dinas kelautan dan perikanan untuk nelayan yang diundang justru bukan nelayan tapi bos nelayan, tengkulak ( nelayan pengumpul), dan pihak pihak yang tidak berkompeten dibilang rajungan,” jelas Miswan (41).
Dikarenakan banyaknya kendala di lapangan terkait masalah rajungan, akhirnya Miswan bersama teman nelayan lainnya berinisiatif membuat forum nelayan rajungan Lampung yang dibentuk pada April tahun 2021 ini. Forum nelayan ini dibentuk agar bisa koordinasi bersama teman teman nelayan di kabupaten lainnya dan bisa sharing masalah masalah terkaot rajungan untuk dicarikan solusinya. Serta sosialisasi dengan teman-teman NGO untuk alat tangkap .
Miswan juga menjelaskan selama ini belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam bentuk apapun baik modal usaha maupun pelatihan pelatihan.

“Kami ini nelayan kecil yang tradisional.Selama ini banyak diboongin / dikibulin , kabarnya akan dapat bantuan dari pemerintah namun gak ada, padahal sudah kumpulin e- KTP,” jelasnya. Belum lagi , adabya nelayan pengumpul ( tengkulak) serta bos besar yang semakin membuat hidup mereka terhimpit.

“Terkadang kami kurang modal , pinjam bos besar Rp 5 juta pada tahun ini. Selanjutnya tahun depan hutang semakin meningkat bukan Rp 5 juta lagi karena adanya bunga yang tinggi.”

Miswan yang mengaku menjadi nelayan sejak SD ini berharap agar pemerintah berperan aktif membantu nelayan rajungan agar nelayan bisa sejahtera.

Pelatihan ini diikuti sejumlah media cetak, televisi dan online dari Lampung yang mengangkat tema “Kontribusi Media dalam Pelestarian Perikanan Rajungan Berkelanjutan di Indonesia” menghadirkan narasumber diantaranya, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung Sutaryono, Ayu Afinia dari Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) , Ketua Forum Nelayan Rajungan Provinsi Lampung (Miswan ), Enviromental Defence Fund (EDF) Adityo Setiawan dan
organisasi mitra kerja KPPRB DKP Provinsi Lampung .

Mas Alina

  • Bagikan