Beranda News Nasional Neraca Perdagangan Indonesia pada Juli Defisit 2,03 Miliar Dolar AS

Neraca Perdagangan Indonesia pada Juli Defisit 2,03 Miliar Dolar AS

256
BERBAGI
Ilustrasi impor Lampung

TERASLAMPUNG.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2018 mengalami defisit hingga 2,03 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Pada Juni 2018, perbandingan antara nilai ekspor dan nilai impor mengalami surplus sebesar 1,74 miliar dolar AS.

“Desifit terjadi karena total impor yang membengkak melampaui nilai ekspor. Tercatat, ekspor Juli di angka US$16,24 miliar dan impornya di angka US$18,27 miliar. Jadi tahun ini, Januari defisit, Februari defisit, Maret surplus, April defisit, Mei defisit, Juni surplus dan Juli kembali defisit,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam paparan Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2018 di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Terkait hal itu, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto berharap segera ada perbaikan  sehingga secara total dari Januari – Desember 2018 nantinya surplus seperti pada 2017 lalu.

BPS mencatat, posisi ekspor Indonesia pada Juli 2018 sebesar 16,24 miliar dolar AS atau naik 25,19 persen dibanding Juni 2018. Ekspor ini disumbang oleh sektor migas sebesar 1,43 miliar dolar AS dan nonmigas 14,81 miliar dolar AS.

“Nilai ekspor per sektor disumbang oleh migas menyumbang ekspor USD 1,43 miliar, pertanian USD 0,3 miliar, industri pertanian USD 11,79 miliar dan pertambangan serta sektor lainnya menyumbang USD 2,72 miliar,” jelasnya.

Hanya saja, pertumbuhan impor ternyata lebih besar ketimbang ekspor. Seluruh golongan impor mengalami kenaikan di atas 50 persen secara bulanan. Impor barang konsumsi naik 70,5 persen secara bulanan karena ada impor beras dan apel dari China. Sementara itu, bahan baku mengalami kenaikan 59,28 persen secara bulanan gara-gara impor kacang kedelai, bahan organik, dan kapas.

Barang modal juga naik  71,95 persen karena Indonesia masih mengimpor barang modal dalam bentuk engine generator dan portable receiver dari China.

“Tapi karena ini barang modal, semoga bisa meningkatkan investasi ke depan,” papar dia.

Dari sisi impor tercatat sebesar 18,27 miliar dolar AS atau naik 62,17 persen dibandingkan dengan Juni 2018. Migas menyumbang  2,61 miliar dan non migas menyumbang impor 15,66 miliar dolar AS.

Nilai impor tertinggi per sektor disumbang oleh konsumsi sebesar  1,72 miliar dolar AS naik 70,50 persen. Bahan baku sebesar USD 13,67 miliar atau naik 59,28 persen serta barang modal diimpor sebesar 2,88 miliar dolar AS atau naik 71, 95 persen.

Loading...