Beranda Views Kopi Sore Neruda, Kegelapan, dan Taman Bunga

Neruda, Kegelapan, dan Taman Bunga

691
BERBAGI
Asarpin*
–untuk
Ahmad Yulden  Erwin

Barangkali tak ada penyair dunia yang begitu basah oleh politik melebihi Pablo Neruda.  Baik dalam kata maupun dalam laku.  Ke dalam kata, ia mampu menghasilkan ribuan sajak yang berpihak kepada para pekerja dan kaum papa. Ke dalam laku,  ia terjun ke gelanggang politik, masuk Partai Komunis Cile dan aktif melakukan agitasi dan membangun organisasi massa dan sempat dicalonkan sebagai presiden Cile tapi ia memilih mundur.  

Mungkin juga tak ada penyair abad ke-20 lalu yang menghasilkan begitu banyak puisi melebihi Neruda. Apa yang dilihatnya, dirasakan, disentuh dan dibacanya, menjelma jadi puisi.  Saya teringat sebuah novel pendek Antonio Skarmeta, iL Postino—terimakasih untuk Damanhuri yang telah meminjamkan bukunya—yang menyebut buku puisi Obras Completas Neruda terus-menerus direvisinya hingga pada tahun 1968 buku puisi itu mencapai ketebalan 3.237 halaman.

Sahabat-sahabat Neruda juga bermandikan politik, penganjur komunisme, tapi tak sekuyub dirinya karena ia tak membiarkan bocah-bocah bergelimpangan di jalanan akibat perang yang ganas. Neruda pernah menulis untuk anak-anak korban perang dengan jerit yang terpendam: “para bandit dengan rombongan biarawan hitam memercikkan berkah/datang melintasi langit untuk membunuhi anak-anak/dan darah anak-anak berlari sepanjang jalan begitu senyap, laiknya darah anak-anak” (larik sajak Kujelaskan Beberapa Hal terjemahan Ahmad Yulden Erwin).

Neruda mengajak anak-anak berkomunikasi melalui puisi karena puisi-puisinya memang komunikatif. Ia memasukkan suara para jelata, para pekerja keras, buruh dan nelayan buta huruf,  kemudian menggugat ketidakadilan dan penindasan melalui puisi, pidato dan pamflet, dan selebaran.

Cile di masa Neruda penuh intrik dan pergolakan politik, mulai dari kolonialisme hingga kudeta militer. Masyarakat miskin, para pekerja dan nelayan terhuyung di jurang penindasan yang berlarat-larat. Dalam sebuah puisinya yang diterjemahkan Ahmad Yulden Erwin beberapa waktu lalu, sungguh kena melukiskan pergolakan Neruda dengan kata. “Perjuanganku sungguh kasar dan aku kembali/dengan sepasang mata lelah/ketika kusaksikan dunia tiada berubah,/namun ketika tawamu hadir/tawa itu pun terlontar ke angkasa/dan segera mencariku/dan membuka pintu-pintu hidupku”.

Sebuah sajak yang mengenang sahabat-sahabat penyairnya di Spanyol, sangat fasih melukiskan apa yang ia saksikan dan rasakan, yang oleh Erwin diterjemahkan dengan judul Kujelaskan Beberapa Hal:  “Aku tinggal di pinggiran Kota Madrid, dengan genta-genta, dan jam-jam, dan pohon-pohon. Dari sana dapat kautatap bentangan wajah kering Castille bagai lautan kulit. Rumahku disebut pula rumah bunga, karena pada setiap sudutnya bebunga geranium pun meledak: itulah rumah nan indah dengan anjing dan anak-anak. Raul, kau ingat? Rafael, kau ingat? Federico, kau ingat  saat dari bawah tanah, dari balkonku, kau ingat cerahnya bulan Juni membenamkan aneka bunga ke mulutmu? Saudaraku, saudaraku!”

Sajak-sajak keterlibatan Neruda rupanya mampu menyemarakkan jiwa aktivis dan kepenyairan Erwin hingga terjemahannya berkaok-kaok menangkap setiap kata dan isyarat yang didedahkan sang penyair.  Hampir kebalikan dari sajak Sapardi tentang Hujan Bulan Juni, dalam sajak Neruda itu ia justru menyebut cerahnya bulan Juni yang mampu membenamkan bunga-bunga. Metafor-metafornya bukan sesuatu yang muram, melainkan sesuatu yang cerah, bercahaya dan merekah.

Dalam Pidato Nobelnya,  Neruda berusaha memperjelas posisinya, keberpihakan dan keterlibatannya. Ia memilih jalan sukar berliku bercecabang untuk membagi tanggungjawab kepada kemanusiaan.  Bahwa ia juga asyik dengan dunia percintaan remaja, ikut mencicipi anggur dan cinta,  menulis tentang rumput, laut dan pepohonan, hal-hal yang surealis, semua orang sudah tahu. Tapi itu semua tak mengurangi secuil pun atas sikap dan laku aktivisnya. Ini diakuinya sendiri: dalam menulis puisi ia melibatkan persahabatan tidak hanya dengan mawar dan simetri, yang mengagungkan cinta dan keindahan abadi, tetapi—ini yang utama—dengan kesibukan manusia merana yang tiada henti,  para pekerja dan kaum papa.

Dialah penyair kiri yang paling tak bisa diremehkan oleh lawan-lawannya yang kanan, yang merayakan kemerdekaan individu di tengah puing bencana. Dia pula penyair paling berpengaruh di kalangan bawah dan disegani oleh kalangan atas karena kata-katanya penuh tenaga dan berjiwa.

Tapi di negeri ini, ada upaya mensterilkan Neruda,  mendepolitisasinya dengan menonjol-nonjolkan puisi erotik dan surealis—seakan-akan dalam puisi semacam itu kosong muatan politik dan seakan-akan yang surealis itu kurang bobot muatan ideologinya.  Lalu dilansir “puisi-puisi indah” Neruda yang menurut mereka yang indah itu minus politik. Kalau pun ada,  kadarnya sangat rendah. “Saya lebih suka membaca puisi cinta Neruda,”  kata seorang penulis, seakan-akan cinta tak bisa bertendens politik. Bahkan ada juga yang melansir puisi-puisi Neruda yang katanya melankolis, liris dan estetis dengan anggapan bahwa ketiganya jauh panggang dari massa. 

Sudah jelas bahwa dalam setiap puisi dari penyair besar—penyair besar dalam definisi Neruda adalah mereka yang memiliki keutuhan pemahaman dalam dirinya—ada suasana melankolis, liris dan estetis.  Tapi apakah itu semua tak ada hubungannya dengan pergolakan politik?

Salah satu puisi cinta Neruda yang menampilkan humor yang  membuat pembaca mengulum senyum pernah diterjemahkan Ikranegara dan dikumpulkan Sapardi Djoko Damono dalam antologi Puisi Nobel (2001): “Di lain waktu di sebuah Kedutaan Besar/aku jatuh cinta pada seorang wanita berambut hitam/Yang tak bersedia menanggalkan pakaiannya di tempat ini/Dan dengan berang kusalahkan dia: /Gila kamu ini, patung liar/Bagaimana kamu bisa goyang kalau masih pakai pakaian?”.

Seorang kritikus terkemuka, setelah melakukan tamasya ke keluasan cakrawala perpuisian Neruda,  dengan melacak perubahan-perubahan pengucapan dalam puisi yang pernah ditulisnya,  akhirnya menyatakan bahwa,  ia lebih menyukai puisi-puisi terbaik Neruda yang sabar mencintai benda-benda, yang tak lagi melambung-lambungkan aku-nya demi cinta politis maupun cinta erotisnya, ia yang jatuh kasmaran kepada bahasa sehingga kata-kata bukanlah alat juang, melainkan kembaran benda-benda itu sendiri.

Puisi terbaik Neruda macam apa pula itu? Neruda dalam khayalan atau Pablo Neruda? Yang dimaksud barangkali adalah puisi-puisi Neruda  yang titik-beratnya pada estetika. Baiklah kalau dikotomi estetika dan politik masih juga tak mati-mati. Neruda menulis puisi tak pernah menitik-beratkan pada estetika, dan kita mesti mendengar suaranya juga baru kemudian menyimpulkan sendiri apa sesungguhnya titik berat proses kreatif yang diperjuangkannya.

Dalam novel tentang biografi penyair ini, yang telah disinggung di muka, sebuah kutipan dari Pablo Neruda ketika hingar-bingar usulan pencalonan dirinya sebagai presiden Cile layak disebut:  “Kehidupan politik menyerbuku bagai halilintar dan merenggutkan aku dari karyaku. Massa besar manusia adalah guru paling agung yang pernah kupunyai. Aku bisa mendekati mereka dengan rasa malu bawaan seorang penyair atau kehati-hatian seorang pemalu, tetapi begitu berada di tengah-tengah mereka, aku merasa berubah. Aku adalah bagian dari mayoritas hakiki; aku hanyalah sehelai daun dari pohon besar manusia”. 

Sekali pun aktivitas politiknya mampu “merenggutkan aku dari karyaku”, tapi tidak sejengkal pun ia susut dari perjuangan politik praksis. Dalam pidato penerimaan Nobel ia juga menegaskan; “tugas kemanusiaan saya tak lain adalah bergabung dengan kekuatan besar massa rakyat yang terorganisir, bergabung dengan kehidupan dan jiwa yang akrab dengan derita dan harapan. Sebab hanya dari arus besar  rakyat inilah perubahan yang diperlukan muncul, demi sekalian pengarang dan demi bangsa….itulah cara paling sederhana jika kita menghendaki kegelapan menjadi taman bunga, jika kita ingin membagi perhatian kepada berjuta-juta rakyat yang tidak pernah belajar membaca apa yang kita tulis atau bahkan tidak belajar membaca apa pun sama sekali, yang tidak bisa menulis, apalagi menulis kepada kita”.

*Esais

Loading...