Nestapa Warga Lamsel: Suami Isolasi Mandiri, Istrinya Ditolak 6 Rumah Sakit Saat Hendak Bersalin

  • Bagikan
Slamet (40), suami Martini pasien ibu hamil yang dinyatakan reaktif Covid-19 dan mau melahirkan yang sempat ditolak di enam Rumah Sakit di Lampung.
Slamet (40), suami Martini pasien ibu hamil yang dinyatakan reaktif Covid-19 dan mau melahirkan yang sempat ditolak di enam Rumah Sakit di Lampung.

Zainal Asikin I Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah nestaspa yang dialami pasangan Slamet (40) dan Martini (35), warga Dusun Rancasadang, Desa Banjarsuri, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Di saat Slamet melakukan isolasi mandiri karena hasil tes swab antigennya reaktif, istrinya yang hasil tes swabnya reaktif berasa hendak melahirkan, Jumat malam, pekan lalu (16/7/2021).

BACA: Ditolak di 6 Rumah Sakit, Ibu Hamil yang Reaktif Covid-19 Akhirnya Melahirkan di RS Airan

Dengan alasan bed accupancy rate (BOR) atau ketersiadan tempat tidur pasien di sejumlah rumah sakit bagi pasien Covid-19 di Indonesia memang sedang tinggi, Martini harus pontang-panting untuk mencari rumah sakit untuk bersalin. Ia sempat ditotak dua rumah sakit di Lampung Selatan dan empat rumah sakit di Bandarlampung dengan dalih tidak ada lagi tempat tidur untuk pasien.

Belum jelas benas apakah penolakan itu semata-mata karena alasan tempat tidur benar-benar tidak ada atau lantaran hasil swab antigen Martini reaktif. Yang pasti, Martini harus terlunta-lunta selama dua hari sampai akhirnya ia benar-benar pasrah menunggu di dalam mobil di areal parkir  RS Airan Raya, Lampung Selatan hingga ketubannya pecah dan akhirnya melahirkan bayinya dengan selamat di RS Airan Raya pada Minggu malam (18/7/2021).

Sukiyem, ibu kandung Martini.
Sukiyem, ibu kandung Martini.

Sukiyem (60), ibu  kandung Martini,  saat ditemui media teraslampung.com dirumahnya di Desa Banjarsuri, Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan membenarkan kejadian anaknya tersebut yang mau melahirkan ditolak oleh beberapa rumah Sakit dengan alasan penuh.

BACA: Hasil Swab Antigen Reaktif, Ibu Hamil Ini Ditolak 3 Rumah Sakit Saat akan Melahirkan

Ia menceritakan, Jumat malam (16/72021) atau selepas Maghrib, ia ditemani keponakanya, menantu serta adiknya meminjam mobil tetangganya bernama Sugianto membawa Martini untuk bersalin di di bidan Meta di Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo. Slamet tidak ikut lantaran ia masih melakukan isolasi mandiri.

“Di rumah bidan Meta itu, ternyata air ketuban anak saya Martini ini sudah merembes pecah. Malam itu juga, anak saya langsung dirujuk ke Rumah Sakit swasta di Kalianda yakni RSIA Hidayah Ibu atau dr. Eny sekitar pukul 20.00 WIB,”kata dia, Senin (19/7/2021).

Begitu sampai di rumah sakit swasta itu dan sudah membayar pendaftaran sebesar Rp 250 ribu, Martini ternyata  tidak mendapatkan perawatan dan ditolak dengan alasan ruangan penuh.

Saat ditanya apakah ditolaknya hanya karena ruangan penuh, atau Martini dinyatakan reaktif Covid-19 karena sebelumnya telah dilakukan rapidtes antigen oleh pihak RSIA Hidayah Ibu tersebut,  Sukiyem mengaku tidak jelas alasanya.

“Kalau soal reaktif Covid-19, saya tidak tahu persis. Saya tahunya malam itu anak saya ditolak dirawat di RS swasta itu karena ruangannya penuh. Itu saja yang saya dapat informasinya. Yang buat saya heran, di RS swasta itu sudah diminta bayar pendaftaran Rp 250 ribu terus ditolak dan malah dikasih rujukan ke RS Bob Bazar,” katanya lirih.

Selanjutnya, malam itu juga anaknya dibawa ke RSUD Bob Bazar Kalianda dan tiba sekitar pukul 21.00 WIB. Setibanya di RS Bob Bazar yakni Rumah Sakit pemerintah, anaknya juga ditolak dengan alasan yang sama ruangannya penuh.

“Begitu sampai di RS Bob Bazar yang katanya RS pemerintah, anak saya di tolak lagi alasannya ruangan penuh. Malam itu saya pasrah, hanya bisa mengucapkan ‘ya Allah bagaimana ini anak mau melahirkan kok malah seperti ini’,”kata Sukiyem sembari meneteskan air mata.

Karena ditolak oleh pihak RS Bob Bazar Kalianda, Sukiyem sembari mengusap air matanya kembali menceritakan kisahnya mendampingi perjalanan ananknya yang mau melahirkan. Malam itu juga, Ia membawa Martini yang kondisinya segera membutuhkan pertolongan medis ke Kota Bandarlampung.

Menurutnya, pertama ia membawa anaknya tersebut ke Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM), lalu RS Advent, RS Imanuel dan RS Graha Husada. Dari empat Rumah Sakit di Bandarlampung tersebut, ternyata anaknya ditolak juga dengan alasan yang sama ruangannya penuh atau tidak ada tempat lagi.

“Orang tua mana yang nggak sedih melihat kenyataan seperti itu, kalau anak saya Martini ini sakit biasa, ya nggak apa-apa. Lha inikan mau lahiran, kalau terjadi ada apa-apa bagaimana,”ketusnya dengan nada kesal.

“Apalagi kondisi anak saya Martini ini malam itu sudah lemas, karena air ketubannya sudah pecah dan di dalam mobil itu sudah basah semua sama air ketuban,”ungkapnya.

Malam itu juga, kami langsung menuju ke Rumah Sakit Airan Raya dan sampai di RS itu sekitar pukul 02.00 WIB dinihari. Tapi saat itu belum dirawat, katanya belum ada ruangannya. Karena sudah bingung dan merasa lelah harus kemana lagi, akhirnya kami memutuskan menunggu di RS Airan Raya sampai pagi.

“Mulai dari jam 02.00 WIB dinihari itu, anak saya Martini berada didalam mobil sampai pagi. Sekitar jam 10.00 WIB, akhirnya ada keajaiban datang dan anak saya Martini bisa dirawat RS Airan Raya,”bebernya.

Setelah memastikan anaknya dirawat, Sukiyem pun pulang ke rumahnya di Desa Banjarsuri pada Sabtu sore. Sementara yang menungu anaknya dalam persalinan di RS Airan Raya itu, yakni menantu dan juga adiknya.

“Saya dan keluarga sangat berterima kasih sekali dengan bidan desa ibu Imania (Nia) dan juga Bapak Pjs Kades Banjarsuri, Juliansyah karena sudah membantu anak saya dapat pertolongan medis di RS Airan Raya,”pungkasnya.

Sementara Slamet (40), suami Martini mengatakan, dirinya tidak ikut mengantarkan istrinya saat mau persalinan di Rumah Sakit. Dikarenakan, dirinya dinyatakan reaktif Covid-19 dan sedang menjalani isolasi mandiri (Isoman) di rumah. Sehingga, ia tidak mengetahui mengenai istrinya ditolak enam Rumah Sakit tersebut.

“Saya tidak ikut jadi tidak tau, karena saya masih menjalani isolasi mandiri. Saya dinyatakan reaktif Covid-19, setelah saya periksa di Klinik dr. Wahyu di Sidomulyo. Alhamdulilah, lima hari ini saya isolasi mandiri di rumah kondisinya baik dan sehat,”kata Slamet kepada teraslampung.com.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini merasa kecewa, karena seharusnya Rumah Sakit apalagi punya pemerintah bisa memberikan pelayanan yang baik kepada siapa saja, ini malah justru sebaliknya membuat kecewa.

“Kesel dengarnya, sudah jauh-jauh keluarga bawa istri saya yang mau melahirkan dari desa ke Kota tapi hasilnya ya itu tadi mengecewakan,”keluhnya.

Ia berharap, agar pihak Rumah Sakit lebih mengedepankan kebijakan yang baik, karena saat itu istrinya harus segera mendapatkan penanganan medis karena mau melahirkan membutuhkan pertolongan medis segera. Sebab, orang melahirkan inikan taruhannya nyawa dua orang sekaligus (bayi dan ibunya).

“Adanya kejadian seperti ini ya sedih. Sampai nangis saya mas, begini amat nasib istri saya mau lahiran ditolak beberapa Rumah Sakit karena alasannya penuh. Padahal, kami sekeluarga ada BPJS, dan setiap bulannya bayar terus kenapa masih ditolak juga,”ucapnya.

Dikatakannya, anak yang mau dilahirkan istrinya, adalah anak ke empat. Ia pun merasa bersyukur, masih ada Rumah Sakit yang mau membantu persalinan istrinya.

“Semuanya empat anak saya, tapi anak pertama meninggal lalu anak kedua laki-laki alhamdulilah diberi panjang umur, anak ketiga meninggal juga dan yang mau lahir ini anak keempat,”tandasnya.

  • Bagikan