Beranda Views Opini Neurosains dan Pendidikan (2)

Neurosains dan Pendidikan (2)

114
BERBAGI
Nusa Putra*

 

Para pengajar pada berbagai jenjang pendidikan harus mampu terus menerus memperbarui materi yang diajarkan dan cara-cara mengajar. Dengan demikian para pembelajar bisa didorong untuk juga selalu mencari kebaruan karena merasakan secara langsung bahwa para pengajarnya selalu menampilkan kebaruan. Jangan pernah lupa bahwa keteladanan pengajar sangat memengaruhi si pembelajar.

Hal-hal baru sangat merangsang tumbuh kembang dan semakin memperkuat dan memperluas jaringan syaraf atau sinapsis dalam otak. Kebaruan bisa dikembangkan dengan banyak cara, misalnya memberi pengalaman-pengalaman baru dalam pembelajaran. Mulai dari kegiatan-kegiatan kecil seperti merotasi tempat duduk para pembelajar. Cara ini setidaknya bisa membuat siswa merasakan hal baru karena berada pada tempat yang berbeda. Memilih materi tertentu yang dipelajari tidak di kelas.

Kebaruan juga bisa berupa mendorong siswa mencari penjelasan-penjelasan dan contoh-contoh baru yang sama sekali berbeda dari contoh yang ada di buku dan contoh-contoh yang populer. Mendorong pembelajar memasuki pemikiran-pemikiran baru yang tidak biasa. Melihat dengan cara-cara baru. Misalnya, semua orang sudah terbiasa melihat iblis dan tuyul dengan cara negatif, coba cari nilai positif iblis dan tuyul yang bisa diteladani. Kebanyakan orang menghayati penyakit sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, coba minta siswa menulis tentang manfaat penyakit yang positif.

Dalam mata kuliah Filsafat Ilmu, pada pertemuan pertama, saya memulai kuliah dengan meminta mahasiswa membuat 35 pertanyaan tentang kentut. Mereka pada mulanya tertawa ngakak dan menganggap ini pekerjaan mudah.

Biasanya setelah pertanyaan kesepuluh tampak mereka mulai serius. Akan semakin serius dan mengalami kesulitan pada pertanyaan selanjutnya. Seringkali pada pertanyaan ketiga puluh, mereka bisa menghasilkan pertanyaan yang semakin tidak biasa, kacau, juga filosofis. Ujungnya saya tegaskan, Anda secara nyata sudah berfilsafat. Mengajukan pertanyaan yang mendalam secara sistematis, bahkan mempertanyakan. Sekarang rumuskan sendiri apa itu filsafat?

Kadang mahasiswa diberi permainan ringan. Diminta membaca buku, tetapi posisi buku yang dibaca terbalik. Pasti sangat sulit, bisa membuat kepala pusing karena mata bekerja lebih keras. Namun sensasi ini memberi otak sebuah kejutan yang menyenangkan. Carilah berbagai permainan yang membuat pembelajar mengalami pengalaman-pengalaman baru.

Mendorong dan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru. Kebaruan sangat merangsang otak secara positif. Oleh karena itu para pembelajar harus dipicu untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru yang sangat bermakna bagi perkembangan dirinya agar terbentuk kebiasaan yang berfungsi dan bermakna dalam hidupnya.

Untuk semua mata kuliah yang saya ampu atau ajarkan, mahasiswa diwajibkan membuat tulisan setiap minggu yang dikirimkan melalui email. Mulai dari tulisan bebas satu sampai dua paragraf, sampai komentar kritis atas berbagai tulisan dan kejadian yang relevan dengan mata kuliah. Meskipun pada mulanya terasa berat bagi mereka, namun karena dilakukan secara rutin akhirnya, mahasiswa yang paling malas dan agak lambat pun bisa menulis.

Tentu saja semua bentuk-bentuk kebaruan ini akan efektif dan bermakna jika disesuaikan dengan usia pembelajar. Karena itu kebaruan yang ditawarkan bisa sangat beragam.

Faktor kedua yang sangat potensial memperkaya otak adalah tantangan. Jika kita tinjau dengan seksama sejarah panjang manusia, kemajuan-kemajuan yang diusahakannya merupakan upaya sadar untuk menjawab tantangan nyata dalam kehidupan.

Kemampuan manusia akan sangat meningkat bila bisa mengatasi tantangan nyata yang dihadapinya. Tampaknya ini merupakan hukum yang berlaku universal. Karena penelitian-penelitian neurosains semakin menegaskan kebenaran hukum ini, konsekuensinya harus dimanfaatkan secara maksimal dalam proses pembelajaran pada semua satuan dan jenjang pendidikan.

Para pendidik harus merancang dengan cermat tantangan yang diperhadapkan pada pembelajar. Bila tantangan terlalu ringan atau cemen, tidak akan berhasil membangkitkan semangat dan menimbulkan perasaan yang meremehkan. Sebaliknya tantangan yang terlalu berat bisa melahirkan perasaan kalah, gagal dan putus asa.

Tantangan memang harus direncanakan dengan tepat. Karena itu sangat penting untuk mengetahui dan memahami kondisi, karakteristik, dan sifat, serta sikap para pembelajar, agar tantangan yang diperhadapkan padanya tepat dan bermakna.

Dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia, pada pertemuan pertama saya meminta mahasiswa menulis apa saja, semaunya mahasiswa. Tidak ada persyaratan yang harus diikuti atau dipenuhi, yang penting menghasilkan tulisan.

Cara ini dilakukan agar semua keraguan, gangguan, hambatan dalam menulis bisa diatasi. Langsung mengalami menulis lebih baik dan tepat dilakukan daripada menjelaskan segala sesuatu tentang menulis. Mengalami langsung menulis merupakan tantangan tersendiri pada awal kuliah. Setelah tulisan jadi, dilakukan diskusi untuk menggali hambatan apa yang sungguh-sungguh dirasakan untuk menghasilkan tulisan? Mahasiswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan secara bebas hambatan-hambatan yang dialaminya.

Setelah itu secara bertahap dengan persyaratan yang terus meningkat, mahasiswa diminta menulis setiap minggu. Peningkatan persyaratan itu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan tantangan secara terukur dan sistematis.

Tantangan yang diberikan harus terkait langsung dengan mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkan. Tantangan itu harus merupakan bagian dari upaya untuk menumbuhmekarkan dan menajamkan kompetensi yang telah ditetapkan untuk dicapai.

Sebagai contoh lain, dalam Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan sebagaimana mata kuliah lain, mahasiswa sekaligus diberikan Rencana Pembelajaran dan Panduan Tugas Mata Kuliah. Secara garis besar ada dua jenis penugasan. Dalam Rencana Pembelajaran, tugas-tugas diberikan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk mendalami pemahaman seluruh konsep yang ada dalam mata kuliah. Jadi sifatnya lebih intelektual-kognitif.

Sementara itu tugas-tugas dalam Panduan Tugas Mata Kuliah memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk menguasai keterampilan-keterampilan dasar meneliti yaitu melakukan observasi atau pengamatan, wawancara, analisis dokumen, dan membuat laporan pengamatan dan wawancara.

Penugasan untuk melakukan pengamatan, wawancara, analisis dokumen dan membuat laporan dilakukan dalam kelompok kecil 2-3 mahasiswa. Pada setiap tahap tugas-tugas itu terus ditingkatkan tantangannya. Pada mulanya melakukan pengamatan dan wawancara dengan komunitas yang relatif dikenal. Bila sudah mulai terampil akan ditugaskan ke kelompok yang lebih sulit untuk dimasuki. Begitulah seterusnya. Tugas-tugas itu secara terstruktur ditingkatkan tantangannya tahap demi tahap.

Faktor berikutnya yang dapat memperkaya otak adalah umpan balik. Dalam proses pembelajaran harus dipastikan ada umpan balik kepada para pembelajar dalam berbagai bentuk. Mulai dari memuji secara langsung hasil kerja pembelajar yang baik, atau melakukan koreksi terhadap kesalahan. Segera mengembalikan tugas dan hasil ujian atau tes.

Mengapa umpan balik penting? Bila pembelajar mengerjakan tugas atau tes dengan benar, umpan balik yang bersifat memuji akan mempekuat kebenaran yang telah terekam dalam memorinya. Sekaligus memberikan rasa senang dan nyaman yang bisa mendorongnya untuk lebih giat belajar dan merasa bahwa apa yang dikerjakannya dihargai dan bermakna.

Jika pembelajar melakukan kesalahan, umpan balik yang bersifat memperbaiki membangun kesadaran dan pemahaman bahwa ia belum benar dan harus memperbaiki. Dengan demikian konsep yang salah atau kesalahan itu tidak tertanam dalam memori jangka panjangnya. Sangat berbahaya bila ia terus menerus hidup dengan kesalahan yang dibiarkan.

Faktor berikutnya adalah kebermaknaan. Sejatinya semua makhluk sangat berkehendak agar keberadaannya bermakna. Bukan hanya untuk dirinya, juga orang lain. Karena itu dapat ditegaskan bahwa semua manusia tanpa terkecuali memiliki dorongan kuat untuk bermakna, KEHENDAK UNTUK BERMAKNA.

Banyak cara untuk mewujudkan KEHENDAK UNTUK BERMAKNA. Dalam proses pembelajaran, para pembelajar harus memahami dan merasakan apa makna mata pelajaran atau mata kuliah yang sedang diikutinya bagi hidupnya.

Para pembelajar harus diberi pemahaman dan dibangun kesadarannya terkait dengan makna mata pelajaran atau mata kuliah. Bukan saja kebermaknaan yang bersifat teknis seperti mendapatkan nilai yang baik, bertambah pintar, dan  bisa naik kelas atau selesai dalam jenjang pendidikan yang sedang dilaluinya.

Melampaui kebermaknaan yang teknis itu, dibangun kesadaran tentang kebermaknaan bagi hidupnya pada kekinian dan keakanan, pada masa kini dan masa depan dalam hidup nyata. Di samping itu juga penting memekarkan kesadaran tentang makna mata pelajaran atau mata kuliah itu bagi pembentukan sejumlah sifat dan sikap yang sangat menentukan hidup si pembejar dalam dunia nyata. Misalnya, bagaimana matematika bisa membangun sifat teliti dan jujur.

Bila para pembelajar tidak dibangun kesadarannya tentang kebermaknaan mata pelajaran atau mata kuliah, terutama kebermaknaan bagi hidup, ia akan menjalani pembelajaran secara mekanis, seperti membayar hutang saja. Kebermaknaan membuat apa yang didapatnya dalam proses pembelajaran lengket tertanam dalam memori jangka panjang si pembelajar.

Otak menyimpan dalam memori jangka panjang pengalaman-pengalaman hidup yang bermakna. Itulah sebabnya meski sudah berlalu lebih dari tiga puluh tahun, banyak orang tidak bisa melupakan kenangan bertemu pertama sekali dengan orang yang kini menjadi pasangan hidupnya. Kenangan itu bisa diuraijelaskan dengan rinci dan lengkap. Namun, orang tersebut tidak dapat mengingat kegiatan rutin yang dialami sebulan yang lalu. Inilah cara kerja alami otak terkait dengan kebermaknaan.

Faktor kelima yang sangat bisa memperkaya otak adalah rentang waktu. Artinya otak tidak bisa diperkaya dengan cara-cara instan. Ada proses, tahapan, jenjang, urutan, dan langkah demi langkah yang harus dilalui.

*Dr. Nusa Putra, M.Pd adalah dosen UNJ
Loading...