Beranda Views Opini Neurosains dan Pendidikan (3)

Neurosains dan Pendidikan (3)

74
BERBAGI

Nusa Putra*

Dalam kehidupan nyata sudah terbukti bahwa semua yang instan lebih banyak bahayanya daripada kegunaan dan keuntungannya. Semua makanan instan bila dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang bisa memunculkan berbagai penyakit. Kloning yang merupakan cara instan untuk mengembangbiakkan domba ternyata menghasilkan domba yang lemah dan gampang diserang penyakit.

Begitupun halnya dengan otak. Otak membutuhkan waktu untuk menyerap, mengolah, memanfaatkan dan membermaknakan informasi yang diterimanya. Gerakan refleks yang muncul bila kita berada dalam bahaya merupakan informasi yang tidak sampai ke otak. Hanya sampai batang otak kemudian direaksi dengan cepat. Otak lebih bersifat responsif daripada reaktif.

Itu artinya dalam proses pembelajaran semua pengajar harus membuat rencana pembelajaran yang tersistem, terstruktur, dan terukur bukan saja terkait dengan tingkat kesulitan pelajaran, juga rentang waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penyusunan rentang waktu yang akurat sangat menentukan keberhasilan proses dan hasil-hasil pembelajaran. Terutana terkait dengan langkah-langkah dan pentahapan untuk memahami dan membermaknakan pembelajaran.

Instanisme adalah musuh utama pendidikan yang baik, bermutu, dan bermakna. Pendidikan adalah proses yang direncanakan dalam rentang waktu. Ini sesuai dengan kodrat alami otak yang membutuhkan waktu untuk mencerna dan memaknai informasi yang kita peroleh. Tentu saja kemampuan dan waktu yang dibutuhkan setiap orang tidak selalu sama. Ada yang cepat, sedang, dan lamban. Namun, semuanya membutuhkan waktu.

Bila temuan para ahli neurosains di atas diperhatikan dan diujudnyatakan dalam proses pembelajaran yang nyata, diharapkan proses pembelajaran akan sesuai dengan kodrat alami otak, dan hasilnya akan bagus. Tentu saja tidak akan ada gunanya jika hanya dipelajari sebagai upaya untuk memahami pembelajaran, proses dan hasilnya.

Eric Jansen yang sangat banyak menulis buku tentang sumbangan neurosains terhadap pembelajaran menyatakan ada tujuh hal yang memengaruhi pembelajaran yaitu: gen, sifat dan tempramen, pengalaman, nutrisi, prapembelajaran, teman, dan disfungsi otak.

Setiap manusia memiliki kode gen yang berbeda, meskipun merupakan saudara kandung. Manusia tidak pernah tahu bagian gen yang mana dari orang tuanya yang diturunkan pada anaknya. Tetapi yang pasti ada bagian gen orang tua yang ikut serta membentuk sang anak.

Ada manusia yang secara genetis berIQ tinggi karena kedua orang tuanya berIQ tinggi. Banyak sifat bawaan yang memang diakui keberadaannya. Karena itulah ada anak yang disebut pintar seperti ayahnya dan baik seperti ibunya. Intinya adalah bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Tidak dapat diperlakukan sama persis dengan cara yang sepenuhnya satu dan seragam. Meskipun misalnya pembelajaran dikelola secara klasikal, keunikan atau kekhususan pembelajar hendaknya diperhatikan.

Dulu diyakini bawaan gen itu bersifat tetap. Ternyata hasil-hasil penelitian mutakhir menunjukkan ada potensi untuk berubah. Hal ini sama dengan sifat alami otak. Dulu diyakini otak orang dewasa itu matang dan mantap, tidak lagi dapat berubah. Ternyata hasil- hasil penelitian terbaru membenarkan sifat plastisitas otak. Artinya otak dapat berubah jika diusahakan secara sistematis.

Perubahan-perubahan pada gen dan otak bisa diusahakan dengan menciptakan proses belajar yang memberi kesempatan pada pembelajar melakukan hal-hal baru, tantangan yang terukur, menciptakan kebiasaan-kebiasan baru yang positif misalnya biasa dan ketagihan membaca.

Sangat penting bagi perkembangan diri para pembelajar sebagai manusia utuh, tidak hanya memekarkan kognisinya, untuk memperhadapkannya pada tantangan dalam dunia nyata. Tentu saja terkait dengan mata pelajaran dan tingkat usia.

Pelajaran matematika agaknya akan semakin menarik bila juga dilakukan dengan cara membawa pembelajar ke tempat-tempat yang menggunakan matematika atau hitung-hitung sebagai kegiatan utama. Jadi jangan hanya mengajarkan matematika di dalam kelas dengan cara yang kering dan membosankan. Guru secara bersama-sama bisa merancang program sehingga saat para pembelajar mengunjungi pasar atau supermarket misalnya, sejumlah konsep, sikap, dan keterampilan dari sejumlah mata pelajaran dikerjakan sekaligus. Tentu saja cara ini merupakan salah satu contoh bagaimana secara sistematis memengaruhi perubahan gen dan otak ke arah yang semakin positif.

Dengan demikian kita tidak terpaku dan jatuh pada pandangan deterministis, bahwa jika pembelajar diketahui memiliki gen yang kurang bagus dari orang tuanya maka dia tidak bisa lagi diubah dan pasti gagal. Begitu pula sebaliknya, bila pembelajar berhasil selalu dikaitkan dengan mengatakan, pembelajar itu berhasil karena orang tuanya juga pintar.

Dalam kaitan ini kesempatan yang sama harus diberikan pada pembelajar yang memiliki sifat bawaan atau gen yang baik untuk berkembang. Begitu juga bagi pembelajar yang diduga memiliki gen yang kurang baik. Intinya gen memengaruhi proses pembelajaran secara positif dan negatif. Namun, para pendidik tidak menjadikannya sebagai alasan bagi kegagalan. Justru bisa dimaksimalkan dengan cara-cara yang terencana dan terukur.

Penentu berikutnya adalah sifat dan karakter. Semua pembelajar pada tingkat apapun, pada umur berapa pun saat datang ke lembaga pendidikan bukanlah “gadget yang kosong”. Mereka adalah “gadget yang telah berisi beragam program”. Semakin bertambah usianya maka programnya semakin bertambah pula. Salah satu isi program itu adalah sifat dan karakter.

Keduanya tidak sepenuhnya merupakan bawaan gen atau bentukan lingkungan terutama lingkungan keluarga. Keduanya merupakan campuran dari gen dan pengasuhan. Ada pembelajar yang introvert, terdapat pula yang ekstrovert. Ada yang pemalu, ada pula yang pemberani. Ada yang santun dan sangat peduli, terdapat juga yang cepat naik pitam dan kurang bisa kendalikan diri.

Sifat dan karakter yang telah tertanam dalam sistem otak sebagai hasil sintesis gen dan pengasuhan sangat memengaruhi pembelajaran. Pembelajar yang pendiam kadang terasa memberi keuntungan dalam sistem klasikal. Namun bisa saja membuat gurunya kurang sabar sebab sangat lambat mengerjakan tugas. Sedangkan yang suka membuat keributan sangat cepat mengerjakan tugas-tugas dan selalu meminta tugas tambahan. Inilah realitas pembelajaran. Tidak ada pembelajaran yang diikuti hanya oleh pembelajar yang sifat dan karakternya semuanya positif atau semuanya negatif.

Para pendidik seyogianya menyadari, sifat dan karakter itu tertanam di dalam otak. Karena otak tidak hanya berisi dan mampu mengolah hal-hal yang besifat intelektual. Di dalam otak ada sistem limbik yang biasa disebut otak emosi. Sifat dan karakter yang dikelola di dalam otak sebagai pusat pengendali merupakan sistesis dari banyak bagian otak, bahkan dengan batang otak.

Sifat dan karakter merupakan campuran dari bawaan dan pengasuhan. Karena itu pastilah bisa diubah jika negatif dan dipertahankan serta terus dikembangkan bila positif. Karena sifat dan karakter yang negatif seperti suka mengganggu teman, kurang percaya diri, tidak menghargai orang lain, pastilah akan sangat mengganggu pembelajaran. Sebaliknya sifat dan karakter yang positif seperti berdisiplin, suka bekerja keras, sabar dan mau bekerjasama akan sangat membantu pembelajaran.

Sangat penting untuk memerhatikan keberagaman sifat dan karakter ini. Dengan demikian dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran keduanya sungguh sangat diperhatikan agar bisa dikelola bagi pembelajaran yang bermutu. Mengabaikan keduanya pastilah akan sangat mengganggu proses pembelajaran.

Coba perhatikan dengan teliti bagi siapa pun yang pernah terlibat dalam pembelajaran di kelas. Ada dua anak yang menunjukkan aktivitas yang sama yaitu mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas di kelas. Bentuk gangguan yang ditunjukkan juga sama yaitu melempar kertas ke teman yang berisi komentar yang meledek atau mengganggu teman.

Meskipun aktivitas mengganggunya sama, tetapi lahir dari dua pembelajar dengan sifat dan karakter yang berbeda terkait dengan tingkat kecerdasannya. Pembelajar pertama mengganggu temannya karena tugas yang diberikan guru telah diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Sementara teman-temannya masih sangat serius mengerjakan tugas itu. Ia mulai bosan dan iseng mengganggu teman-temannya.

Sedangkan pembelajar kedua mulai frustrasi karena tidak dapat mengerjakan tugas itu sama sekali. Ia mulai frustrasi. Ia berfikir, daripada hanya aku yang dihukum tidak dapat mengerjakan tugas, lebih baik mengganggu teman-teman agar tidak dapat menyelesaikan tugas seperti aku. Bila dihukum ya dihukum ramai-ramai.

Fakta seperti ini mengharuskan pengajar sangat memperhatikan dan memperhitungkan sifat dan karakter si pembelajar agar dapat merancang pembelajaran yang baik dan bermakna. Pengabaian sifat dan karakter si pembelajar pasti sangat berpotensi mengganggu pembelajaran.

Seperti sifat dan tempramen, setiap pembelajar telah mengalami banyak pengalaman sebelum mengikuti pembelajaran. Pengalaman itu bisa memengaruhi pembelajaran secara positif atau negatif. Pembelajar yang memiliki pengalaman positif dan menyenangkan saat mengikuti pembelajaran pada masa lalu, boleh jadi akan memiliki pemikiran dan semangat yang positif kala mengikuti pembelajaran yang kini dijalani. Sedangkan yang sebaliknya juga bisa terjadi.

Pembelajar yang memiliki pengalaman buruk terhadap mata pelajaran tertentu, mungkin merasa trauma dan sudah merasa tidak nyaman dan frustrasi saat mengikuti pelajaran yang sama pada tingkat yang lebih tinggi dengan guru yang berbeda. Ada pula pembejar yang memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan pengajar  bertipe atau memiliki karakter tertentu. Pengalaman buruk ini sangat potensial membuatnya tidak nyaman saat bertemu dengan guru dengan tipe yang sama.

* Dr, Nusa  Putra, M.Pd, dosen UNJ