Beranda Views Opini Neurosains dan Pendidikan (4)

Neurosains dan Pendidikan (4)

94
BERBAGI

Nusa Putra*

Inilah bukti bahwa pengalaman bisa menjadi penjara yang buruk, di samping sebagai guru yang baik. Mengapa bisa terjadi seperti ini?

Karena ada mekanisme di dalam otak yang membuat banyak pengalaman baik dan buruk tersimpan dalam memori jangka panjang dan sangat susaha dilupakan, apalagi dibuang. Ini terjadi karena otak sangat sensitif terhadap pengalaman yang di dalamnya ada bobot emosi yang sangat besar atau kuat. Tidak peduli emosi itu positif atau negatif. Pengalaman biasa yang tidak disertai emosi yang kuat biasanya tidak sampai tersimpan lama dalam memori.

Pembelajaran harus memanfaatkan pengalaman yang baik dari para pembelajar, dan mengelola serta mengolah pengalaman buruk agar tidak mengganggu proses belajar dan hasilnya. Pengalaman memang sangat memengaruhi pembelajaran.

Faktor lain yang memengaruhi adalah nutrisi, baik dalam jengka pendek maupun panjang. Karena nutrisi merupakan sumber bahan dan energi bagi tumbuh kembang manusia secara fisik. Bila mengalami kekurangan nutrisi dalam jangka panjang, manusia akan mengalami hambatan pertumbuhan. Efek buruk kekurangan nutrisi pada otak sangat kuat. Otak tidak dapat berkembang dan berfungsi dengan baik bila manusia mengalami nutrisi dalam jangka panjang.

Bahkan dalam jangka pendek pun, kekurangan nutrisi sangat mengganggu fungsi otak. Bila tidak sarapan pagi saat mengikuti pembelajaran, sekitar pukul sembilan si pembejar mulai terganggu. Ia tidak dapat berkonsentrasi dan kurang menangkap materi yang diberikan. Karena otaknya tidak dapat berfungsi secara optimal.

Ketidakberfungsian itu terjadi karena tidak ada “bahan bakar” otak untuk bekerja. Untuk dapat bekerja dan berfungsi dengan baik otak membutuhkan glukosa, oksigen dan zat-zat lain. Glukosa dan zat-zat lain berasal dari asupan nutrisi yang berasal dari sarapan pagi.

Sebaliknya, bila sarapan pagi dengan menu yang mengandung kemak berlebih, otak juga tidak dapat berfungsi dengan baik. Karena sistem metabolisme bekerja keras mengolah lemak itu yang menyebabkan kita mengantuk.

Selama mengikuti pembelajaran harus diusahakan para pembelajar cukup minum air mineral agar seluruh fungsi organ-organ tubuh berjalan baik karena tidak kekurangan zat cair. Penataan ruang juga harus diperhatikan agar oksigen bisa diperoleh pembelajar dengan maksimal.

Pentingnya nutrisi untuk tumbuh kembang dan kecerdasan anak inilah yang membuat Jepang, Israel dan negara-negara maju merancang program sistematis bagi semua rakyat, terutama anak-anak yang sedang tumbuh kembang. Pemerintah sangat menjaga ketersediaan, dan distribusi bahan-bahan pokok dengan harga terjangkau. Malaysia dan Singapura sampai menetapkan indikator dan mekanisme agar harga-harga bahan pokok tidak bisa melonjak tinggi seperti di negeri kita tercinta.

Penentu berikutnya adalah prapembelajaran. Para pembelajar akan berhasil dalam pembelajaran bila saat terlibat dalam pembelajaran ia dalam kondisi sehat, bersemangat, termotivasi, nyaman, menyenangkan, dan berniat untuk mendapatkan yang terbaik. Dengan demikian fikiran dan perhatiannya bisa fokus dan berkonsentrasi untuk mengikuti pembelajaran.

Jika situasinya sungguh rileks dan menyenangkan maka otaknya siap untuk berkinerja secara optimal. Sebaliknya bila si pembelajar merasa tertekan, kurang istirahat, ada beban, merasa terganggu misalnya karena saat hendak pergi sekolah orang tuanya perang mulut di rumah atau ia bertengkar dengan kakak atau adiknya. Sulit bagi otaknya untuk bisa fokus.

Agaknya kebanyakan kita memiliki pengalaman, mendengarkan lagu yang kita sukai pada pagi hari sebelum pergi sekolah, dan lagu itu lagu yang positif. Saat di jalan ketika lagu itu tidak lagi terdengar, kita menyanyikan kembali lagu itu dalam benak. Kondisi itu mendatangkan rasa nyaman. Kala mengikuti pembelajaran kita merasa santai dan mudah fokus.

Sebaliknya bisa terjadi. Ketika berangkat ke sekolah, motor yang mengantar di senggol orang dan ada pertengkaran kecil. Meskipun yang bertengkar bukan kita, tetapi pengantar yang membawa motor dengan yang menyenggol, boleh jadi suasana tak enak itu terbawa saat kita mengikuti pelajaran. Bisa jadi sepanjang hari.

Oleh karena itu sangat penting bagi para pengajar tidak buru-buru masuk ke pelajaran, apalagi jika pada jam pertama. Perlu melakukan pengkondisian agar semua pembelajar siap memasuki pembelajaran dengan fikiran positif dan semangat yang tinggi. Mulailah dengan doa, dan mengucapkan ungkapan-ungkapan yang positif, yang mendorong para pembelajar menjadi positif, bersemangat dan fokus.

Selanjutnya, yang bisa ikut dan sangat berpengaruh terutama pada pembelajar yang sedang tumbuh mekar adalah teman. Apakah si pembelajar memiliki teman yang selalu positif, peduli dan saling memperkuat untuk bersemangat menghadapi pembelajaran atau sebaliknya?

Interaksi dengan teman, terutama teman-teman sebaya sangat berpengaruh karena sangat berkaitan dengan perasaan yang dimunculkannya. Bila kumpul bersama teman-teman yang menyenangkan dan selalu memiliki tujuan baik bersama pasti akan mendatangkan semangat dan persaan atau emosi yang positif.

Mengapa bisa begitu berpengaruh? Karena ternyata berdasarkan penelitian LeDoux yang kemudian dikembangkan oleh Golleman otak emosi manusia sangat kuat memengaruhi otak berfikirnya. Sistem limbik yaitu otak emosi sangat memengaruhi bahkan bisa membajak neokorteks atau otak berfikir.

Itulah sebabnya selalu terbukti, para pembelajar remaja bila terjebak pada berbagai perbuatan yang tidak benar seperti kecanduan narkoba, sebagian besar disebabkan oleh pertemanan yang tidak baik dalam kelompok teman sebaya. Bagaimana ia bisa fokus mengikuti pembelajaran bila teman-teman atau anggota “gank” nya tidak muncul di kelas?

Sebaliknya, para pembelajar yang berkumpul dengan teman-teman yang baik dan positif akan terbawa pada aura positif itu. Teman, terutama teman sebaya memang sangat memengaruhi.

Dulu, sewaktu remaja, emak atau ibuku selalu katakan, lebih baik tidak punya teman daripada berteman dengan orang yang salah, atau berteman dengan cara yang salah. Terbukti sejumlah temanku yang berteman dengan orang yang salah atau berteman dengan cara yang salah, sungguh-sungguh tidak melanjutkan pendidikannya sampai SMP atau SMA karena mengikuti pola dan jalan hidup yang salah. Jadi, penyebabnya bukan tidak ada biaya, tetapi karena salah berteman.

Penentu berikutnya adalah disfungsi otak. Sangat banyak jenis dan derajat disfungsi otak. Mulai dari kekurangan nutrisi karena tidak sarapan pagi atau disebabkan kuran tidur, sampai disfungsi otak yang disebabkan oleh kerusakan permanen.

Otak adalah organ yang paling rumit, adaptif dan juga rentan. Bila seorang ibu hamil mengalami stres berkepanjangan atau distres, otak bayi yang dikandungnya bisa rusak secara permanen karena kekurangan pasokan oksigen. Begitupun jika kekurangan nutrisi. Lingkungan yang buruk juga membuat otak disfungsi. Pengasuhan yang tidak baik sangat potensial membuat disfungsi otak karena anak sejak kecil dibiasakan melakukan berbagai aktivitas yang tidak positif seperti makan berlebihan, kurang istirahat dan terlalu banyak menikmati makanan pabrikan.

Disfungsi otak kebanyakan memang terkait dengan aspek biologis otak seperti otak yang ukurannya di bawah normal, jaringan neuronnya tidak berkembang, atau kemasukan virus. Juga karena kelainan gen seperti autis. Namun, disfungsi otak bisa juga dikarenakan persoalan psiklogis, seperti anak yang tidak diperhatikan, diperlakukan atau mengalami kekerasan dalam pengasuhan, dan pengabaian yang akut.

Para psikopat biasanya adalah orang yang secara inteletual cerdas dan sangat cerdas. Namun, ada masa dalam pengasuhan, ia mengalami pengalaman buruk yang memengaruhi sistem otaknya. Akhirnya otaknya mengalami disfungsi akut yang membuat ia menjadi pembunuh sangat kejam.

Maknanya, disfungsi otak sangat memengaruhi pembelajaran. Para pendidik harus mengetahui dengan pasti dan rinci pembejar yang mengalami disfungsi otak agar tidak salah dalam mengelolanya. Ada pembelajar yang sangat sulit belajar matematika namun sangat kuat memorinya untuk menghafal. Sementara itu ada pula yang termasuk pembelajar yang lambat dan sangat lambat, susah berkonsentrasi, dan sulit kendalikan diri. Semua ini adalah contoh-contoh tampakan luar dari disfungsi otak.

Para pembelajar yang mengalami disfungsi otak harus dilayani dengan perhatian lebih dan tidak boleh dikucilkan karena berbagai kekurangannya itu. Semua anak dalam perspektif neurosains harus mendapat perhatian dan perlakuan sesuai dengan potensi dan kondisi kemanusiaannya secara utuh.

NEUROSAINS TELAH TERBUKTI SANGAT BERGUNA BAGI PENDIDIKAN.

* Dr. Nusa Putra,M.Pd, dosen UNJ