“Ngelop”, Tradisi Mandi Bersama di Pantai Jelang Puasa

  • Bagikan

Siti Qodratin, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Tradisi mandi jelang Puasa (ilustrasi)

KALIANDA—Masyarakat etnik Lampung memiliki tradisi menyambut Ramadan, seperti juga etnik-etnik lain di Tanah Air. Di Pulau Jawa biasa dikenal dengan padusan.

Sementara di Lampung selain belangir, tradisi mandi bersama, juga bagi masyarakat Kalianda, Lampung Selamat terkenal dengan ngelop.

Tradisi ngelop atau mandi bersama di pantai yang dilakukan sehari atau dua hari menjelang Ramadhan di Kalianda, Lampung Selatan, hingga Sabtu (28/6) masih berlangsung.

Ribuan warga memadati pesisir pantai di daerah itu untuk melaksanakan ritual ini. Tradisi mandi di laut ini dianggap sebagai salah satu bentuk pembersihan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.

Tradisi ngelop ini juga diharapkan dapat membersihkan hati, untuk menjalani ibadah selama Ramadan. Keyakinan seperti ini, membuat tradaisi ngelop sampai sekarang tidak hilang ditelan zaman.

Tradisi memang sulit untuk dihilangkan, meski terkadang kebiasaan turun-temurun itu seperti tidak masuk akal alias mengada-ada, dan tidak ada dalam tuntunan agama. Namun, masyarakat tetap merayakannya. Setidaknya sebagai bentuk rasa bahagia menghadapi Ramadhan.

Ngelop dilakukan tanpa menghiraukan usia, golongan, dan jenis kelamin. Mereka turun ke pantai dan mandi bersama.Tetapi, anak-anak dan perempuan lebih banyak.

Datanglah ke pesisir pantai di Kalianda, hampir seluruh pantai di sini dipenuhi warga yang melakukan ngelop.  “Tradisi ngelop dimulai sejak pagi hingga sore hari. Namun, mandi bersama lebih sering dilakukan antara pukul 14.00 WIB  hingga pukul 17.00 WIB,” kata Marwan, warga Kalianda, Sabtu (28/9) petang.

Warga memilih sore hari  karena sinar matahari tidak lagi menyengat. Selain itu, kata Marwan, akan membuat suasana mandi lebih sejuk.

Meski diyakini tradisi mandi bersama menjelang Ramadan tidak ada dalam tuntunan agama, namun sulit meniadakan tradisi  yang telah hidup sejak nenek-moyang. Tradsi ini juga dimanfaatkan untuk promosi pariwisata dan budaya.

Kalau bisa dikenas lebih baik, bukan tidak mungkin tradisi ini bisa menjadi peluang dari sektor pariwisata dan budaya, guna pendapatan daerah maupun masyarakat sekitar.

  • Bagikan