Beranda Views Opini Nggak Fasik, Nggak Asyik?

Nggak Fasik, Nggak Asyik?

553
BERBAGI

Oleh Gatot Arifianto

Antara menjadi baik dan buruk jika disodorkan pada setiap orang, jawaban akan diberikan tentu menjadi baik. Hanya saja, baik bukan sekedar klaim, pernyataan melalui mulut, namun juga tindakan selaras, bukan berbanding terbalik antara pernyataan dan tindakan.

Kabar baik baru-baru ini, militer Indonesia setingkat di atas Israel. Dari 193 Sovereign States (negara berdaulat) atau negara di dunia versi PBB, tanpa Vatikan dan Palestina yang diklasifikasikan sebagai UN Observer States (negara dalam pengamatan PBB) serta Taiwan, kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI), dalam rilis Global Firepower menempati peringkat 15.

Prestasi lain Indonesia terkini ialah mendapat kepercayaan kembali menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, pada Jumat (8/6/2018). Lewat voting, Indonesia unggul dari Maladewa yang memperoleh 46 suara dari total 190 dari 193 negara anggota PBB yang menggunakan hak pilihnya.

Berapa anak bangsa memilih bangga, membuatnya menjadi bahan pembicaraan publik, produktif dan bervisi membangun peradaban hebat yang direpetisi seperti dilakukan Amerika Serikat melalui produksi film Holywood?

Prestasi ternyata memang tidak selalu renyah untuk disuguhkan. Yang bisa digoreng, disuguhkan untuk dinikmati publik, semacam pesan berantai tidak jelas dengan penekanan “bukan hoaks-ini asli” (sebagai misal), meme ngawur melalui WhatsApp grup hingga potongan video sengaja disusun tak lengkap.

Terkini, cuitan jurnalis Israel melalui akun twitter pribadinya, @simonarann, perihal undangan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke Israel, negara yang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Suguhan gorengan lain terkini dengan kemasan yang menimbulkan percikan amarah ialah pengulangan unggahan video lantunan Syubbanul Wathon di gereja yang sebenarnya sudah beredar di youtube sejak November 2017.

Lagu kebangsaan berbahasa Arab ciptaan KH Wahab Hasbullah, 1934 itu jika diterjemahkan artinya: Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negriku. Engkau Panji Martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa dibawah dulimu!

Publik yang terbukti awam terhadap kostum Al-Muttahidah, Agnes Monica (Agnesmo) hingga sandal yamin dan syimal kembali sensi, naik tensi, Arab sudah pasti Islam. Publik gagal memahami arti mars kebanggaan Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga suguhan informasi seolah merendahkan-menistakan Islam sebagai agama mayoritas tanpa tabayun dikunyah begitu saja dengan lahap.

Adakah tindakan tersebut sebangun dengan Firman Allah SWT dalam QS Al-Hujurat ayat 6? : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Islam hadir ke dunia berkepentingan dengan perilaku baik, agar manusia memiliki akhlak mulia. Innama bu’itstu liutammima makarimal Akhlaq, demikian Sabda Rasulullah SAW dalam HR Thabrani. Tujuan diturunkannya Alquran dan Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Namun,  dengan asyik, dan mengemuka dewasa ini dengan tindakan negatif seperti menyebar kabar bohong atau hoaks menjurus pada tindakan orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya: fasik. Sesuatu yang jauh berbeda dengan kritik (jika itu yang diinginkan).

Hoaks berbeda dengan kritik atau critism (Inggris) yang berasal dari bahasa Yunani (kritikos) yang berarti memisahkan, mengamati, membandingkan dan menimbang.

Kritik ialah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Karena itu, jelas berbeda dengan produksi hoaks, fitnah yang menuju fasik. Kritik sebangun dengan nilai-nilai peradaban luhur yang menjadi corak Islam Nusantara.

“Islam datang untuk menyempurnakan dan tidak untuk merusak, maka para wali dan dzuriyah nabi penyebar Islam di Indonesia tidak merusak yang ada, tapi memperbaiki. Itulah contoh nyata berharganya peradaban,” ujar Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), di aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI), Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/3/2017) menjelaskan pentingnya peradaban.

Dengan adanya peradaban, lanjut Gus Yahya kepada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IV, manusia punya kesempatan memperbaiki kualitas hingga mendekatkan diri pada Tuhan.

Tanpa ada peradaban, kerusakan akan selalu terjadi, kata Juru Bicara Presiden RI Ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sebenarnya sejak lama diundang oleh The Israel Council on Foreign Relations dalam kapasitas sebagai perwakilan ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) 13 Juni mendatang.

Kedatangan Gus Yahya di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem akan membawakan materi: Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation.
Suatu penawaran memindahkan kalkulus geopolitik: dari konflik menjadi kerjasama. Suatu ijtihad satu anak bangsa Indonesia untuk turun tangan, memberikan sumbangsih pemikiran untuk menyelesaikan agresi dan konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

“Saya akan disiplin menjaga posisi deniable (berkewajiban untuk membantah). Kalau tindakan saya merugikan kepentingan negara atau sekedar tidak ada manfaatnya, dapat dilakukan tindakan apa pun yang diperlukan untuk mengingkari atau menegaskan terlepasnya tindakan saya ini dari negara. Kalau ada benefit, mari di follow up agar menjadi keuntungan nyata,” tulis Gus Yahya dalam klarifikasinya tersebar melalui sejumlah WhatsApp grup, menanggapi bangunan kegaduhan ciptaan arsitektur dengki di media sosial.

Saat aksi bela Palestina digelar di Monas, Jakarta, Minggu (17/12/2017), sejumlah politisi dan aktivis dengan lantang meminta Pemerintah Indonesia tegas mengambil sikap, jangan hanya merasa prihatin tanpa ada tindakan.

Dan ketika satu anak bangsa Indonesia, yang meyakini peradaban itu penting dan berharga, memiliki kesempatan emas, berbuat untuk kemanusiaan, negara, perdamaian, bukan untuk organisasi apalagi pribadi, kenapa sejumlah pihak justru asyik menuju fasik dengan curiga hingga melempar ujaran kebencian?
Kualitas menurut Aristoteles, filsuf Yunani, murid Plato, bukanlah tindakan, tapi kebiasaan.

Lantas peradaban apa akan dicapai Indonesia mendatang jika masyarakatnya yang mayoritas muslim, terbiasa memproduksi dan berbagi hoaks, menjaga perasaan dengki yang jika dikelola berkelanjutan berdampak negatif?

Dendam dan amarah sebagaimana dilansir dari Huffington Post merujuk sejumlah riset ilmiah berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung, mempengaruhi anak, implikasi kesehatan, membahayakan kesehatan mental, stres hingga diabetes tipe 2. Masyarakat sakit sangat mustahil mendukung tercapainya negara kuat dan sehat. Itukah harapan dari pilihan repetisi tindakan negatif menuju fasik? Nggak asyik banget! Berpikir dan bertindak positif jelas lebih asyik.

*Penulis adalah Gusdurian dan Asinfokom Satkornas Banser