Ciri dan Bentuk Sajak

  • Bagikan

Iswadi Pratama

Ada dua unsur yang dominan di dalam sajak. Pertama, dalam bentuk formalnya, sebuah sajak adalah sebuah karya tulisan (sastra) yang dibangun oleh adanya unsur baris/larik dan bait. Kedua, setiap sajak mengandung unsur kepuitisan yang dikuatkan atau dijelmakan melalui diksi (pilihan kata), rima, bunyi, ambiguitas (kemenduaan) arti, obscure (kemisterian). Namun, dalam perwujudannya, kedua unsur itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling mendukung. Sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Ada sajak yang mementingkan unsur atau bentuk formal, sehingga setiap puisi mesti mempunyai baris dan bait meskipun polanya belum tentu teratur atau baku, sedangkan unsur puitis dianggap sebagai pelengkap.

Misalnya di dalam sajak tradisional atau pantun, sajak mesti ditulis dengan mengikuti pola yang telah disepakati tentang bagaimana sebuah pantun harus ditulis; jumlah baris, jumlah kata, persajakan, dan lain-lain. Pada pantun, harus ada rima akhir, sampiran, dan isi atau maksud. Dua baris pertama disebut sampiran, sedangkan dua baris terakhir disebut isi atau maksud. Setiap baris terdapat pemenggalan, sewaktu membacakannya.

Contohnya:

Tujuh tali mengikat tiiang
Jadi jembatan di tengah ladang
Bila adik sudi mengundang
Pastilah Abang akan datang

Dalam ranah sastra di Indonesia, pola penulisan
semacam ini diikuti dalam masa sangat panjang hingga pada masa angkatan Pujangga Baru. Sajak-sajak yang ditulis Amir Hamzah, walaupun telah memilkiki keberbedaan, namun
sebagian besar masih menunjukkan ciri seperti pantun di atas.

………………..
Aduh, kasihan hatiku sayang
Alahai hatiku tiada bahagia
Jari menari doa semata
Tapi hatiku bercabang dua

(Amir Hamzah, “Doa Poyangku)

Sajak lain yang masih mementingkan bentuk formal, meskipun polanya tidak teratur, tetapi masih sangat mementingkan baris dan bait:

HUJAN DI PASAR MALAM

sekelompok perempuan
memilih selendang
sesosok anak
menunjuk bintang

sebaris bintang menghilang
sehelai selendang
melayang

(Inggit Putria Marga, 2005)

2. Ada pula sajak yang lebih menekankan pada unsur puitis, sehingga mengabaikan bentuk formal sajak. Bait atau baris bisa dikatakan tidak begitu difungsikan lagi, karena sajak lebih dirasakan sebagai urutan kalimat belaka. Hanya karena keterbatasan ruang di halaman, sebagian dari puisi itu mesti dituliskan di bawah bagian sebelumnya. (Junus, 1981;28, dalam Hasanudin WS, 2002; 23)

Pada sajak tipe ini, secara visual lebih mirip seperti prosa, lebih mengutamakan unsur kepuitisan dari pada bentuk formal sajak yang mengutamakan baris dan bait. Misalnya dalam sajak “Ayat-Ayat Api” Sapardi Djoko Damono di bawah ini:

IKLAN

Ia penggemar berat iklan. “Iklan itu sebenar-benar
Hiburan,” kata lelaki itu. “Siaran berita dan
cerita itu
sekedar selingan.” Ia tahan seharian di depan
televisi.
Isterinya suka menyediakan kopi dan kadang-kadang
Kacang atau kentang goreng untuk menemaninya
Mengunyah iklan

…………………………… dst.

Sepintas, kita bisa bertanya, di mana unsur puitisnya? Mengapa tidak ada ungkapan yang “puitik” sama sekali seperti “hujan berguguran di dalam matamu”. Kepuitisan atau keindahan dalam sajak di atas tidak dijelmakan dalam bentuk frasa atau kata atau ungkapan yang puitik. Melainkan justru dengan cara melukiskan sesuatu yang sehari-hari dan remeh dengan bahasa yang sekadar saja untuk kemudian “diubah” menjadi tidak biasa lagi dengan cara pemaknaan sehingga apa yang rutin dan sehari-hari itu menjadi “hal baru”, menjadi puitik. Pada sajak di atas, itu terjadi pada frasa “Mengunyah iklan”.

Kehadiran frasa ini membuat kita tersentak dan mau tidak mau merenungkan lagi apa yang dituliskan penyair. Selain itu, sajak di atas tetap mementingkan irama. Itu bisa dilihat dari rangkaian kata dalam setiap lariknya menimbulkan irama tersendiri.Dalam sajak di atas irama itu dibangun melalui pilihan kata: penggemar—sebenar-benar—sekedar. Iklan-hiburan. Berat—berita—cerita…dst. Sebab, tanpa irama, ia akan benar-benar seperti prosa.

Di samping itu, bila dilihat dari unsur penggunaan bahasa, sajak bisa dibedakan dalam dua kelompok besar sebagai berikut:

1. a. Sajak yang mementingkan unsur kata

Kekuatan sajak dicari pada permaianan atau manipulasi yang bersumber pada pilihan kata. Sebuah kata dipilih karena artinya sebagai sebuah kata, bukan sebagai unsur sebuah kalimat dan bukan pula karena bunyinya, atau juga bukan karena keduanya.

b. Sajak yang mementingkan unsur kalimat Kekuatan sajak dicari pada manipulasi pemakaian kalimat. Kalau ia berhubungan dengan pemakaian kata, maka kata bukan dilihat sebagai kata, tetapi sebagai sebuah unsur dalam kalimat.

2. a. Sajak yang mementingkan kata sebagai unsur arti dan bunyi. Sajak-sajak Indonesia sebelum perang termasuk ke dalam golongan ini.

b. Sajak yang mementingkan kata dalam hubungan unsur artinya, terutama dalam hubungan pemakaian sebuah kalimat. Karya yang termasuk kategori ini adalah sajak-sajak yang dipelopori oleh Chairil Anwar hingga Goenawan Mohamad.

c. Ada sajak yang lebih cenderung mementingkan unsur bunyi yang ada pada sebuah kata. Seperti pada sajak-sajak Sutardzi era
70-an.

Ciri dan bentuk sajak yang lain yang membedakannya dengan prosa adalah:

1. Sajak pertama-tama bukan merupakan suatu deretan peristiwa, sehingga tidak ditemukan suatu plot. Sajak pertama-tama adalah monolog, monolog aku lirik.

2. Satuan-satuan pada sajak lebih bersifat satuan
irama, satuan bunyi, sedangkan satuan pada prosa adalah satuan sintaksis; artinya sajak dapat saja tidak mengikuti struktur logis kalimat, penyimpangan mungkin saja dilakukan untuk kepentingan irama, untuk kepentingan kepuitisan; dan

3. Bahasa yang dipergunakan di dalam sajak cenderung mengarah kepada konotatif. Hampir semua sajak memanfaatkan konotasi bahasa. Di samping itu, bahasa pada sajak terasa padat dan terpusat yang berbeda dengan bahasa prosa (fiksi). Bahasa fiksi cenderung pada makna denotatif, bersifat menguraikan, mendeskripsikan, serta memaparkan.

Lebih khusus lagi, menurut Timur Pradopo, di dalam sajak terdapat tiga unsur pokok: Pertama, ide atau emosi. Kedua, bentuknya. Ketiga, kesan. Semua itu terungkap melalui unsur bahasa. Ketiganya tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Mereka hadir secara bersamaan dan saling mendukung untuk mencapai efek kepuitisan sehingga melahirkan sajak.

 

  • Bagikan