Beranda Kolom Kopi Sore Ngopi atawa Ngomong Politik: Jangan Ada Gula di Antara Kopi

Ngopi atawa Ngomong Politik: Jangan Ada Gula di Antara Kopi

166
BERBAGI
Jauhari Zaelani (dok nefosnews)
Virtual Product March 2019

Jauhari Zailani

AHY, paham betul Kafe, Warung Kopi, Kedai Kopi adalah tempat manusia berkumpul. Kumpul santai. Cocok betul dengan budaya Indonesia. Yang suka ngrumpi sembari kongko.

Suatu hari, ada anak muda yang membuat acara di Kedai Kopi. Dia dikenal sebagai seorang yang kreatif. Meskipun tujuannya berkampanye, acaranya dikemas menjadi acara “Lomba Lawak” dengan Tema “Jangan ada gula di antara Kopi”.

Malam itu, yang berkumpul sekitar lima puluh orang anak muda. Yang siap mendengar dan menyaksikan lawakan “amatir”. Semua serba dadakan, dan spontan. Sang EO-nya baru siang tadi memperoleh ide lomba lawak dan temanya.

Secara dadakan ia daulat temannya untuk menjadi MC dan mengatur peserta lomba lawak. Karena lomba lawak, ya serba ceria. Salah ucap dianggap melucu. Salah gerak dianggap sengaja melucu.

Di antara peserta lawak ada yang mengambil judul “Politisi, jangan ada gula di antara kopi”.

“Ah, masa iya sih tidak ada gula dalam politik? Eh, gula di antara kopi….”

Dan ketawa pun merekah. Apalagi, ketika menyebut gula yang berkarung-karung temuan Bawaslu.

***

Malam itu, Kedai Kopi ramai oleh gelak tawa dan renyah anak muda. Dan sang politisi muda pun menjadi pembicaraan. Padahal ia tak tampil melawak, tak juga tampil di panggung berpidato. Dia hanya berdiri dari kursinya dan tetap di mejanya. Ketika sang MC memperkenalkan sebagai yang punya hajat.

Malam itu, ngobrol di warung kopi, ngobrol politik soal Money Politik. Terima kopinya, pilih orangnya. Terima gulanya, jangan pilih orangnya. Pokoknya Tidak ada Gula di antara Kopi deh. Malam itu, sukses.

Loading...