Beranda Politik Pemilu 2019 Ini Kata Habiburokhman Soal Pernyataan Yusril yang “Seolah-olah” Salahkan Prabowo

Ini Kata Habiburokhman Soal Pernyataan Yusril yang “Seolah-olah” Salahkan Prabowo

132
BERBAGI
Habiburokhman (Foto: Istimewa)

TERASLAMPUNG.COM — Langkah Yiusril Ihza Mahendra menjadi kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2018 dan belum merapatnya Partai Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril ke kubu Prabowo-Sandiaga Uno mendapatkan sorotan banyak pihak. Salah satunya dari Habiburokhman.

Petinggi Partai Gerindra yang juga Ketua Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) itu merespons pernyataan Yusril Ihza Mahendra yang mengatakan bahwa hingga kini belum ada jawaban dari Prabowo-Sandi soal strategi yang disiapkan agar partai pendukung bisa mendapatkan keuntungan dalam pemilihan legislatif 2019? Prabowo dan Sandiaga Uno.

BACA: Yusril Ihza Mahendra: Rizieq Shihab Pun Tak Bisa Telepon Prabowo

“Sikap Yusril Ihza Mahendra yang seolah menyalahkan Paslon Prabowo-Sandi terkait sikap Partai Bulan Bintang (PBB) yang belum resmi memberikan dukungan menurut saya tidak tepat,” kata Habiburokhman dalam rilis yang diterima Teraslampung, Kamis (8/11/2018).

“Saya baca di media jika Bang Yusril mempertanyakan strategi yang disiapkan agar partai-partai pendukung pasangan tersebut juga berjaya di Pileg 2019. Lebih jauh Bang Yusril memberi contoh format koalisi partai di Malaysia sebagai format koalisi yang mungkin dianggap ideal,” katanya.

Habiburokhman mengatakan, aneh kalau membandingkan format koalisi Pilpres Indonesia dengan format koalisi Pemilu Malaysia. Sebab, menurutnya,  ada perbedaan sistem yang ekstrem.

“Di Indonesia, Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif secara administratif dilaksanakan secara terpisah walau pada tanggal yang sama, sementara di Malaysia, Pilihan Umum Raya secara prinsip hanya memilih parlemen, sedangkan Perdana Menteri dipilih dari partai pemenang Pemilu Parlemen. Jadi tidak mungkin format koalisi di Pemilu Malaysia diterapkan di Indonesia,” katanya.

Yang lebih parah, kata dia, sistem Pemilu Legislatif dalam UU Pemilu kita sangat liberal, yakni siapa caleg yang memperoileh suara terbanyak dalam satu partai, dialah yang akan terpilih lebih dahulu.

“Jadi persaingan di Pemilu Legislatif kita bukan hanya terjadi antar partai, persaingan bahkan sering lebih sengit terjadi di internal partai antar caleg dalam satu daerah pemilihan,” ujarnya.

“Dengan kondisi seperti ini bagaimana mungkin Pak Prabowo dan Pak Sandi dimintai tanggungjawab untuk menjamin berjayanya seluruh partai-partai pendukungnya di Pileg sementara? Di sisi lain kerja pemenangan Pilpres saja sudah sangat berat,” Habiburokhman menambahkan.

Habiburokhman mengaku dirinya justru melihat  berjayanya partai-partai pendukung Prabowo-Sandi di Pileg 2019 akan sangat tergantung bagaimana masing-masing calon legislatif (Caleg) pada partai tersebut mencitrakan pada masyarakat jika mereka adalah Caleg Pendukung Prabowo-Sandi.

“Pengalaman saya di daerah pemilihan, semakin saya menunjukkan sebagai pendukung Prabowo-Sandi, semakin mudah masyarakat menerima saya sebagai caleg.
Harapan saya daripada Bang Yusril berusaha membawa gerbong PBB untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, akan sangat baik jika Bang Yusril mendorong PBB untuk segera secara resmi mendukung Prabowo-Sandi, saya yakin dengan demikian elektabilitas PBB akan meroket dan insya Allah lolos Parliament Treshold 4 persen.” tandasnya.

Loading...