Nikmatnya Bisnis “Air Suteng”

  • Bagikan
Sumur Suteng tidak pernah meskipun kemarau panjang
BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com –Pada musim kemarau, berbagai daerah di Lampung dan Indonesia boleh kekeringan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Nana Iryana, 45, warga Telukbetung, Bandarlampung. Tidak hanya berlimpah air, Nana juga mendapatkan penghasilan lumayan dari “bisnis air” yang ditekuninya.

Bisnis air yang ditekuni Nana sebenarnya tak kenal musim. Meskipun musim penghujan, bisnisnya tetap lancar karena banyak keluarga di kawasan Telukbetung perlu air bersih.

Memasuki musim kemarau bisnis Nana makin lancar. Sebab, sementara sebagian besar warga Telukbetung kekurangan air karena sumurnya kering, sumber mata air di rumah Nana terus mengucurkan air bersih. Meski begitu, Nana tidak mau meningkatkan usahanya itu menjadi bisnis besar. Dia hanya mengandalkan sumber mata air yang sudah ada—warisan orang tuanya—dan menjualnya dengan harga murah.

Usaha air bersih milik Nana dikenal sebagai “Air Suteng”. Berada di Jalan Ikan Bawal Bandarlampung, tiap hari para pelanggan Nana melayani ratusan konsumen. Pada musim kemarau seperti sekarang konsumen meningkat sekitar 20 persen.

“Sejak musim kemarau banyak warga membeli air di sini. Mereka berdatangan dari berbagai kecamatan seperti Tanjungkarang hingga Rajabasa. Dengan mobil sendiri, air langsung dibawa mereka, tetapi untuk sekitar Telukbetung ada tukang air yang keliling,” kata Nana.

Nana mengaku bisnis air yang telah dilakoninya sekarang ini merupakan turunan dari orang tuanya sejak tahun 1968.Di kenal dengan nama “Air Suteng” karena masyarakat menamakan daerah itu dengan sebutan Suteng.

Menurut Nana, dulu air bersih diambil dari sumur dengan cara ditimba. Namun sejak tahun 2002 seiring dengan bisnis air yang cukup menjanjikan, Nana berinisiatif memasang tiga unit sumur pompa yang letaknya di samping rumah. Sumber air di “Air Suteng” diyakini Nana tidak pernah mengalami kekeringan meski daerah sekitar Telukbetung kemarau.

Sebenarnya “Air Suteng” milik Nana bukan hanya diminati warga Telukbetung pada musim kemarau. Beberapa warga di Telukbetung, terutama yang dekat dengan pantai Teluk Lampung, juga menjadi pelanggan “Air Suteng”. Sebab, di daerah tersebut airnya sudah berasa asin karena terintrusi air laut.

Dengan modal tenaga untuk memompa dan membawa keliling air, tukang air dapat meraih untung sekitar Rp400 ribu—Rp500 ribu/bulan.

Harga air bersih yang ditawarkan Nana cukup terjangkau. Untuk satu pikul air atau dua jerigen hanya Rp1.000 sampai Rp2.500/pikul. Harga yang bervariasi itu disesuaikan dengan jauh dekatnya. Harga air bersih tergantung jauh atau dekat jarak tempuh tukang air. Semakin jauh jaraknya maka harga air semakin tinggi. Misalnya untuk konsumen yang ada di daerah Purwata, Telukbetung Selatan bisa mencapai Rp2.000/pikul, untuk  Umbul Asem, TelukBetung Rp2.500/pikul.

Nana menambahkan dalam menjalankan bisnis air bersih ini, dia memperkerjakan tukang air sebanyak 46 orang. Setiap tukang air menyetor kepada Nana hanya Rp1.500/orang/hari. Dengan setoran sebanyak itu Nana mendapatkan penghasilan sebesar Rp2.205.000/bulan.

Itu penghasilan yang didapatkan dari setoran. Sementara pendapatan yang didapatkan dari penjualan di rumah lain lagi. Para konsumen yang datang untuk membeli “Air Suteng” biasanya membawa mobil box dengan beberapa jerigen. Nana mematok hargo Rp 500/jerigen.

“Para pembeli yang datang ke sini biasanya dari jauh. Misalnya dari Rajabasa, Natar (Lampung Selatan), dan Sukarame. Sehari saya bisa melayani 200-300 jerigen. Pemasukan antara Rp 100 ribu-Rp 150 ribu. Itu belum termasuk pemasukan dari 46 tukang air,” kata Nana.

Meski diakuinya penghasilan yang didapat tidak cukup besar, dia mengakui tidak masalah karena baginya yang terpenting bisnis air ini dapat mengentaskan penganguran. “Itu yang penting. Selain itu para tetangga yang airnya asin karena sumurnya kena air laut juga bisa ikut menikmati air bersih milik saya. Toh air ini milik Tuhan, yang diwariskan orang tuakepada saya,” ujarnya.

Sementara itu, Nurkocin (35) tukang air yang bekerja di “Air Suteng” mengaku mendapatkan penghasilan sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu/bulan.

“Dengan bekerja sebagai tukang air, saya bisa menyekolahkan anak saya di kelas 4 dan 6 SD.

Dan mudah-mudahan saya bisa menyekolahkan mereka sampai SMA,” kata Nurkocin yang telah bekerja sejak 4 tahun lalu.

Nurkocin mengaku sehari dapat mengangkut air bersih dengan gerobak yang berisi jeriken sebanyak 4—5 kali. Air yang di bawa rata-rata digunakan untuk minum dan memasak.

Nurkocin keliling menawarkan air bersih ke sekitar Telukbetung seperti di  TPI Gudang Lelang, Purwata hingga Umbul Asem.

“Sekarang banyak konsumen yang sudah memasang air PAM  jadi mereka hanya membutuhkan air untuk minum dan memasak saja. Tetapi dulu ‘Air Suteng’ juga digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian juga,” kata Nurkocin.

Mas Alina Arifin

  • Bagikan