Nilai-Cermin Jawa dan Bugis

  • Bagikan

Mochtar Pabottinggi*
Saat kereta yang kutumpangi menderu meninggalkan Stasiun Tugu menuju Jakarta, aku jelas merasa telah meninggalkan Mochtar yang memasuki Yogya di penghujung tahun 1968. Mochtar yang bertolak ke Jakarta di penghujung 1974 tak lagi ditandai dengan pandangan kultural tentang “Jawa” dan “Bugis” yang naif-simplistis. Aku merasa bahwa Mochtar yang bertolak ke Jakarta itu telah memperoleh setingkat sofistikasi dalam hal pandangan tentang keutamaan dan nilai-nilai.

Dalam History of Java  yang kubaca bertahun-tahun kemudian, Thomas Stamford Raffles menyatakan bahwa “Jika engkau hendak mencari kehalusan (“refinement”), carilah pada orang Jawa. Tetapi jika engkau menghendaki karakter, carilah pada orang Bugis.” Aku tak tahu bagaimana Raffles sampai pada kesimpulan seberani itu. Aku juga tak tahu sejauh mana itu benar. Dalam retrospeksi, setelah “mengalami Jawa”, menjadi sulit bagiku untuk membina karakter sejati tanpa kehalusan atau untuk membina kehalusan sejati tanpa karakter.

Internalisasi nilai-nilai Jawa membuatku bisa mengoreksi kecenderungan-kecenderungan tertentu dari laku budaya Bugisku dan sekaligus meningkatkan kedalamannya pada sisi-sisi lain. Sama halnya, aku bisa melihat beberapa titik di mana sistem nilai atau tradisi laku budaya Jawa berpeluang mendapatkan koreksi atau peningkatan harkat dengan injeksi nilai-nilai Bugis tertentu.

Namun hingga kini aku tetap tak bisa memastikan di bagian-bagian mana saja “yang Bugis” menyisih dalam diriku sementara “yang Jawa” masuk, dan sebaliknya. Begitu pula dalam hal relasi sistem nilai Jawa atau Bugis dengan pengaruh ajaran-ajaran Islam atas keduanya serta permata-permata dari Yunani yang semuanya turut membentuk jiwaku.

Tak pelak lagi, tinggal dan belajar di Yogya selama enam tahun telah memberiku loncatan cakrawala yang menurutku sungguh berarti. Salah satu bentuk loncatan itu adalah senantiasa tersedianya dalam diriku seperangkat nilai-nilai Jawa untuk menjadi cermin atau timbangan bagi sistem nilai Bugis yang telanjur tergurat dalam pada jiwaku. Berkat adonan kimiawi dari kumulasi pengalaman dan pemahaman kultural serta intelektual selama itu, sungguh aku menjadi semakin bangga menjadi
putra bangsaku, putra Tanah Airku.

Dengan suasana kejiwaan seperti itulah aku memasuki Jakarta.***

* Prof. Dr. Mochtar Pabottinggu adalah peneliti utama LIPI. Tulisan ini merupakan petikan dari Bagian 4, Mochtar Pabottingi: BURUNG-BURUNG CAKRAWALA

  • Bagikan