Beranda Views Opini Normal Baru atau Norma Baru?

Normal Baru atau Norma Baru?

200
BERBAGI
Andi Desfiandi. Foto: Istimewa

Andi Desfiandi

Pemerintah belum lama ini merencanakan untuk menerapkan “New Normal” atau “Kenormalan Baru”. Dalam new normal, beberapa daerah zona hijau dilonggarkan pembatasannya namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Secara bertahap aktivitas perekonomian, sekolah, tempat ibadah, pasar, dan lain-lain akan dijalankan, namun dengan persyaratan yang harus dipenuhi.

Maksud pemerintah tentunya baik: agar terjadi keseimbangan bagi rakyat untuk bisa memulai beragam aktivitas, tetapi tetap menjaga kesehatannya di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai.

WHO menetapkan ada enam kriteria dan pemerintah menetapkan ada tiga kriteria utama yang harus dipenuhi untuk bisa menerapkan new normal tersebut untuk daerah-daerah yang termasuk zona hijau atau penyebaran Covid-19 sudah terkendali.

Beberapa negara maju sudah menerapkan new normal termasuk negara-negara yang sebelumnya menerapkan lock down karena menganggap penyebaran virus tersebut sudah terkendali dan menurun drastis. Kebijakan tersebut dilakukan karena salah satunya adalah ekonomi negara dan rakyatnya menurun sangat drastis dan menuju krisis ekonomi yang sangat buruk. Namun,   setelah new normal tersebut dilaksanakan ternyata penyebaran virus covid-19 meningkat sangat tajam dikarenakan masyarakatnya lalai menjalankan protokol kesehatan, sehingga negara tersebut misalnya Korea Selatan kembali menerapkan pembatasan dengan ketat.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah akan berhasil atau nasibnya akan sama dengan Korea Selatan, Jerman, Tiongkok dll yang melonggarkan pembatasan dan kembali meningkat penyebaran virus di negara-negara tersebut? Apalagi tidak semua masyarakat Indonesia memahami apa maksud dari new normal  dan tingkat kedisiplinan kita jauh di bawah negara-negara tersebut.

Jangan sampai persepsi masyarakat menganggap bahwa kenormalan baru  tersebut dimaknai sebagai kembali normalnya kehidupan seperti sebelum pandemi dan semakin lalai dengan protokol kesehatan. Sehingga, sosialisasi dan edukasi kepada seluruh elemen masyarakat termasuk aparat dan tokoh-tokoh agama serta tokoh masyarakat harus efektif, sebelum pemberlakukan new normal yang sebenarnya sudah tidak normal lagi ini.

Harus juga kita pahami bahwa pandemi Covid-19 ini entah kapan benar-benar berakhir apalagi ada kemungkinan virus tersebut bermutasi sehingga vaksin maupun obat yang nanti akan ditemukan apakah juga bisa digunakan untuk virus yang sudah bermutasi. Kebiasaan baru atau tatanan baru dalam kehidupan kita kedepan entah sampai kapan harus kita jalani agar mampu bertahan hidup dan menjadi pemenang melawan Covid-19.

Saya lebih cenderung menyebut dunia atau Indonesia harus bersiap menjalani “New Norm ” atau ” Norma Baru”. Artinya,  kita akan menjalani “perilaku baru” atau “tatanan baru” atau “standar baru” atau “aturan baru” dalam menjalani seluruh aktivitas apapun hingga dunia benar-benar sudah bebas dari virus tersebut, dan mungkin pada akhirnya kemudian menjadi “budaya baru” kalau lama usainya.

Istilah norma mungkin akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat dibandingkan dengan new normal. Selain asing bagi sebagian besar masyarakat juga agar menghindari salah persepsi bahwa hidup dan perilaku kita sudah tidak bisa normal lagi.

Pilihan untuk menjalankan normal baru tersebut memang pilihan yang juga akan menimbulkan pro dan kontra tapi pasti mayoritas akan setuju, karena tidak akan ada satupun negara atau masyarakat yang sanggup bertahan hanya dengan berdiam diri saja. Namun, tentunya pemberlakuan kebijakan tersebut harus melalui kajian yang mendalam dan hati-hati serta harus juga mempersiapkan skenario terburuk apabila kebijakan tersebut tidak sesuai dengan harapan.

Mari kita semua bersiap menyongsong era normal baru dengan beradaptasi dan merubah kebiasaan kita untuk tetap mematuhi protokol kesehatan sambil kita mulai beraktivitas secara bertahap. Dan, jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.***

*Dr. Andi Desfiandi, S.E., M.A., Ketua DPP Pejuang Bravo Lima Bidang Ekonomi, Ketua IKA Unpad Komda Lampung, Ketua Lembaga Perekonomian NU Lampung

Loading...