Beranda News Budaya Novelis Aceh Arafat Nur akan Tampil dalam Asean Literary Festival

Novelis Aceh Arafat Nur akan Tampil dalam Asean Literary Festival

182
BERBAGI
Arafat Nur

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Jakarta–Novelis Arafat Nur dari Acwh akan tampil mengisi dua sesi acara di Asean Literary Festifal (ALF) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta yang akan berlangsung 21-23 Maret 2014. Arafat Nur akan tampil memaparkan masalah konflik Aceh di sesi Writter’s Coner. Malamnya akan tampil membacakan petikan novel terbarunya Burung Terbang di Kelam Malam dalam sesi Performance Arts.

Asean Literary Festival merupakan festival sastra pertama kali digelar untuk negara-negara ASEAN, dengan mengusung tema “Anthems for the Common People” yang terinspirasi dari “Nyanyian Akar Rumput”, sajak dari penyair Indonesia, Wiji Thukul.

“Saya senang sekali mendapat undangan mengisi acara ini. Setidaknya, saya dapat mengabarkan situasi Aceh pada waktu perang dan pengaruhnya di masa sekarang,” tutur Arafat Nur, Kamis (20/3), di Jakarta.

Novel terbaru Arafat “Burung Terbang di Kelam Malam” menggambarkan situasi sosial dan politik akibat kebijakan buruk pemerintah di masa lalu. Namun, karena novel itu baru saja terbit Februari 2014 lalu, tentu belum banyak penikmat di Indonesia yang membacanya.

Lebih dari 40 penulis, akademisi, dan kritikus dari Indonesia dan negara lainnya, baik ASEAN dan non-ASEAN akan ikut andil. Tak kurang dari 600 sastrawan dari seluruh daerah di Indonesia dan luar negeri menyatakan diri untuk hadir memeriahkan perhelatan yang digelar selama tiga hari berturut-turut ini.

Para peminat dipersilakan datang mengikuti semua acara tersebut tanpa dipungut biaya. Di antaranya dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, Cina, Korea, Inggris, Australia,  dan Belanda.

ALF ingin mendedikasikan diri sebagai festival untuk semua orang yang suaranya selama ini tidak terdengar. Di dalamnya, setiap orang bebas merayakan seni dan sastra secara bersama-sama. “Dalam hal ini saya juga akan menyinggung tentang ketidak-pedulian Pemerintah Aceh terhadap sastra,” ujarnya.

Disebutkan, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), memiliki banyak kesamaan termasuk dalam hal sastra dan budaya. Kedekatan tersebut tampak dari beberapa hal, seperti sejarah menjalani masa penjajahan, demokratisasi, ekonomi, seni budaya, serta bahasa.

Banyaknya kesamaan tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorong digelarnya ASEAN Literary Festival (ALF) oleh Yayasan Muara, dengan dukungan penuh dari Hivos dan Kementrian Luar Negeri.

Loading...