Beranda Views Opini Nunik, Srikandi PKB yang Sukses Berkarier di Politik Berkat Tempaan Konflik

Nunik, Srikandi PKB yang Sukses Berkarier di Politik Berkat Tempaan Konflik

1358
BERBAGI
Chusnunia Chalim (Nunik)

Oleh Syahidan MH

Sepanjang karier saya di PKB (1998-2007) dan dua periode saya duduk sebagai anggotalegislatif di DPRD Lampung Selatan 1999-2009,  hanya dua kali saya bertemu Chusnunia Halim (Nunik).Yaitu pada 2003 dan 2006. Itu pun saya bertemu karena kebetulan saya mengantarkan almarhum orang tua Nunik, yaitu K.H. Abdul Halim atau sehari-hari disapa dengan sebutan Gus Halim. Gus Halim saat itu kebetulan akan bertemu nunik.

Saya berhubungan baik dengan orang tua Nunik. Saya pun sering bersilaturahmi dengan Gus Halim di rumahnya di Desa Karang Anom, sebuah desa yang cukup terpencil di Lampung Timur. Saya sering meminta nasehat, pendapat, dan arah-arahan dari Gus Halim. Gus Halim pun sering ke rumah saya di Kecamata Natar.

Gus Halim juga dekat dengan orang tua saya (almarhum), kakak-kakak saya, dan istri saya. Bahkan ketika anak saya (Ma’ruf Ridho Syahrofi) dikhitan pada 2006, Gus Halim seharian berada di rumah saya guna memberikan penghormatan kepada saya sebagai wujud kedekatan hubungan silaturahmi kami berdua. Sayapun sudah terbiasa bepergian dgn Gus Halim, baik ke Semarang, Magelang, Jogja, Jakarta dll dalam rangkaian kegiatan-kegiatan partai dan kegiatan kyai NU dan Gus Halim selalu berada satu kendaraan dengan saya ditemani oleh Badarudin Muslihun (ketua FKB DPRD Lampung Selatan 2004-2009).

Tapi sayang, ketika saya sowan ke rumah Gus Halim di Karang Anom, saya memang tidak pernah bertemu dgn Nunik, karena memang kabarnya sejak kecil Nunik berada di Semarang dan menyelesaikan kuliahnya pun di IAIN Walisongo Semarang. Saya pertama kali bertemu dengan  Nunik pada 2003, ketika saya dan Gus Halim bersama-sama ke Semarang. Gus Halim saat itu menyempatkan diri bertemu dengan Nunik di Semarang. Pertemuan kedua saya dengan Nunik terjadi pada 2006, saat saya dan Gus Halim ada acara di Jakarta. Saat itu kami menyempatkan diri menemui Nunik di kantor DPP PKB di bilangan Kalibata,  Jakarta Selatan.

Konflik PKB dan Karier Politik Nunik

Lantas bagaimanakah karier Nunik di PKB bisa cemerlang seperti saat ini? Nunik pada awalnya adalah staf (tenaga ahli) wakil ketua DPRD Jateng, asal PKB Abdul Kadir Karding, yang menjadi wakil ketua DPRD Jateng tahun 1999-2004.

Setelah Karding menjadi anggota DPR RI 2004-2009, Nunik pun ikut hijrah ke Jakarta dan menjadi kepala sekretariat DPP PKB.

Lantas bagaimana Nunik bisa menjadi anggota DPR RI tahun 2009 lalu?.Sama-sama kita ketahui bersama, PKB sejak awal berdirinya selalu berkonflik di tingkat pusat dan imbas konflik itupun merambah ke DPW PKB Lampung. Diawali konflik pertama pasca-SI MPR tahun 2001 yang melengserkan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kursi Presiden. Kala itu terjadilah konflik antara Matori Abdul Jalil dan Gur Dur.

Matori yang pro-SI dipecat oleh GD dan Matori tetap bersikukuh menjadi Ketum PKB dengan Sekjen Abdul Kholik Ahmad. Sementara Gus Dur menggelar Munas Luar Biasa  di Yogjakarta tahun 2002 dengan menghasilkan duet Alwi Shihab dan Syaifullah Yusuf (Gus Iful) sebagai Ketum dan Sekjen DPP PKB.

Konflik Matori dan GD ini, berimbas pula ke Lampung. Kubu Matori di Lampung dimotori oleh Mukhtar Hasan, Agusman Arief, Jauhararoh Hadat, Alm Fes Muhammad dll. Sementara kubu Gur Dur digawangi oleh Syafrin Romas, M Habib dan termasuk saya selaku ketua DPC PKB Lampung Selatan.

Masuk dalam jajaran kubu Matori di Lampung adalah Sholeh Bajuri (kini ketua PW NU Lampung). Pada  pileg 2004 Sholeh Bajuri yang saat itu adalah Ketua PC NU Lamsel berkampanye untuk PBR dan dalam kampanyenya selalu berteriak-teriak, bahwa “warga NU di Lamsel boleh memilih partai apa saja kecuali PKB.”

Namun, kala itu  PKB Lampung Selatan menjadi satu-satunya DPC yang berhasil menambah prolehan kursi dari 4 kursi hasil Pemilu 1999-2004 menjadi 5 kursi hasil Pemilu 2004-2009. Saya adalah Ketua DPC PKB Lamsel.

Pasca- Pemilu 2004, PKB kembali berkonflik, imbas dari Pilpres 2004, saat itu Gur Dur menolak pencalonan SBY sebagai Presiden, tapi Alwi Shihab dan Gus Ipul selaku Ketum dan Sekjen PKB tetap mendukung SBY dan lagi-lagi Gur Dur kembali memecat Alwi Shihab dan Gus Ipul dari jabatan ketum dan Sekjen DPP PKB dan mengangkat Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar masing-maisng sebagai Penjabat Ketum PKB dan Sekjen DPP PKB.

Sebagai ucapan terima kasih SBY kepada Alwi dan Gus Ipul, mereka berduapun menjadi menteri di awal-awal era SBY menjabat presiden. Saat keduanya menjadi menteri itulah, Alwi dan Gus Ipul menggugat pemecatan mereka berdua ke pengadilan dan pengadilan memenangkan gugatan tersebut, sehingga Alwi dan Gus Ipul tetap sah sbg Ketum dan Sekjen DPP PKB.

Muktamar PKB tahun 2005 di Semarang diharapkan sebuah upaya meng akhiri konflik. Dalam Muktamar tersebut Gus Ipul mencalonkan diri sebagai Ketum. Ia didukung mayoritas DPW dan DPC PKB seluruh Indonesia. Namun, manuver Cak Imin membuat Gus Ipul dan Alwi Shihab keluar dari arena muktamar. Muktamar pun tetap dilanjutkan dan terpilihlah Muhaimin Iskanda sebagai Ketum dan Lukman Edy sebagai Sekjen DPP PK,sedangkan  Ketua Dewan Syuro tetap dipegang Gur Dur.

Imbas dari hasil Muktamar tersebut, kubu Alwi Shihab kembali menggugat ke pengadilan dan sempat memenangi gugatan tersebut di pengadilan tingkat pertama. Perpecahan di DPP PKB tersebut juga berimbas ke Lampung.

Kubu Muhaimin-Gusdur di Lampung, tetap di komandoni oleh Syafrin-Habib. Kubu Alwi akhir tahun 2006 membuat carateker DPW PKB Lampung dengan menunjuk Harun Muda Indrajaya (almarhum) sebagai ketua carateker dan bulan Mei tahun 2007, Kubu Alwi Shihab-Gus Ipul melaksanakan Muswil di lampung (di Hotel Shahid Bandarlampung).

Kala itu saya mengalahkan Jolly Sanggam (saat ini Ketua DPW Perindo Lampung) dalam pemilihan ketua. Saya akhirnya menjabat Ketua DPW PkB Lampung pro-Alwi Shihab didampingi oleh Mofaje Caropaboka (saat ini adalah Ketua Garda Pemuda Nasdem Prov Lampung) sebagai Sekum DPW PKB pimpinan saya.

Namun sayang, gugatan Alwi Shihab pada bulan Agustus 2007 kalah pada tingkat kasasi. Alwi Shihab kemudian mendirikan PKNU. Saya sendiri karena saat itu masih  tercatat sebagai anggota DPRD Lampung Selatan maka saya mundur dan tidak bersedia menjadi ketua DPW PKNU Lampung. Saya memilih Mofa sebagai Ketua PKNU Lampung dan Yansen zainabun sebagai Sekum DPW.

Kemenangan kubu Cak Imin-Gur Dur pada tingkat kasasi, membuat teman-teman saya yang pro Alwi harus diganti sebagai anggota DPRD (pergantian antarwaktu/PAW). Antara lain Joli Sanggam (saat itu anggota DPRD Kota Bandarlampung), Ahmad Syafe’i (saat itu anggota DPRD Tanggamus), Hadi Siswanto (DPRD Lampura) dan Kustini Subagio (DPRD Tulang Bawang). Sementara saya, meski berkas usulan PAW telah diajukan sejak tahun 2006, tapi sampai akhir masa jabatan periode ke kedua tahun 2009, saya tidak ter-PAW. Saya bisa mengahiri masa jabatan sebagai anggotaDPRD Lamsel  dengan penuh selama dua periode yaitu tahun 1999-2004 dan 2004-2009 .

Pasca-kemenangan Cak Imin dan Gur Dur atas Alwi Shihab, maka DPW PKB Lampung melaksanakan Muswil pada akhir tahun 2007 dan terpilihlah Musa Zainudin sebagai ketua DPW menggantikan Syafrin Romas.

Rupanya konflik di DPP PKB belumlah berakhir,. Sekitar awal tahun 2008, lagi-lagi Gur Dur kembali memecat Muhaimin Iskandar dari jabatan ketum. Dan lagi-lagi pengadilanlah tempat PKB menyelesaikan konfliknya. Imbas perpecahan antara Gur Dur dan Cak Imin juga terjadi di Lampung. Kelompok Cak Imin di Lampung dikomandoni oleh Musa Zainudin, sementara kelompok Gur Dur membentuk cateker di Lampung dengan Hermawi F Taslim (ketua DPP PKB) sebagai ketua cateker.

Upaya hukum yang dilakukan oleh Cak Imin, oleh pengadilan diputuskan bahwa posisi kepengurusan DPP PKB dikembalikan ke hasil Muktamar Semarang, dimana hasil Muktamar Semarang adalah Cak Imin sebagai ketum DPP PKB dan Gur Dur sebagai ketua dewan syuro. Namun Muhaimin malah mendaftarkan pengurus DPP PKB hasil MLB di Ancol dan mengganti Gur Dur sebagai Ketua Dewan Syuro.

Lantas dimana posisi Nunik? Saat Abdul Kadir Karding (1999-2004) menjabat Wakil Ketua DPRD Jateng, Nunik adalah staf pribadi Karding. Ketika bulan Oktober 2004 Karding menjadi anggota DPR RI hasil pileg 2004, Nunik pun ikut hijrah ke Jakarta.

Karding adalah orang yang teramat dekat dengan Muhaimin Iskandar. Nunik pun kemudian menjadi staf di DPP PKB dan akhirnya menjadi kepala sekretariat DPP PKB.

Saat konflik antara Cak Imin dan Gur Dur terjadi, Nunik berada di barisan Cak Imin dan tahun 2009, dalam usia yang msh belia ia menjadi caleg DPR RI dapil Lampung 2 dan terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014. Hal itu kemudian dilanjutkan periode 2014-2019. Namun, oada 2015 Nunik maju dalam Pilkada Lampung Timur dan menang, Ia pun terpilih sebagai Bupati Lampung Timur.

Ya, tidak banyak orang Lampung yang tahu sejarah Nunik,bahwa Nunik  tampil dan sukses berkarier di dunia politik hasil dari sebuah konflik di dalam tubuh PKB.

Jika PKB tidak berkonflik, bisa jadi tidak ada Nunik di Lampung. Nunik adalah loyalis sejati Muhaimin, melalui tangan Muhaimin-lah Nunik muncul di kancah politik nasional. Jadi wajar, jika Nunik amat patuh dengan Muhaimin.

Teruslah berjuang,Nunik! Politik adalah kepentingan. Bisa jadi ini adalah kesempatan dan kesempatan tidak akan terjadi dua kali.

Loading...