Beranda News Obituari Obituari: Bang Daniel, Jazz, dan Air Mata

Obituari: Bang Daniel, Jazz, dan Air Mata

650
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

SAYA lupa kapan pertama kali mengenal pria jangkung yang kemudian saya ketahui bernama Daniel H. Ghanie. Kalau tidak salah ingat, pertemuan pertama kami terjadi pada kisaran tahun 2001 di kantor Pusat Studi Stategi dan Kebijakan (Pussbik) di Jalan Cendana, Pahoman Bandarlampung. Kami kemudian makin sering bertemu di kantor Komisi Anti Korupsi (KoAk) di Jalan Kesehatan Bandarlampung.

Pertemuan kami lebih intens ketika Pussbik, KoAk, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung dan beberapa NGO lain di Lampung berkolaborasi dalam program perluasan partisipasi masyarakat dalam mengkritisi pembangunan di Lampung pada 2003. Bang Daniel, begitu kami memanggil, lebih sering nongol di kantor AJI Lampung di Jalan Diponegoro Gang Alpukat, belakang Kantor PLN.

Tahun itu adalah masa peralihan kepemimpinan AJI Lampung (lebih tepatnya sebenarnya AJI Bandarlampung) dari saya ke Mas Firman Seponada. Kala itu anggota AJI tidak lebih dari 15 orang. Yang aktif tidak lebih dari 10 orang.

Bang Daniel sering ke kantor AJI karena ia kami dapuk untuk membantu saya mengembangkan media cetak (Tabloid Akar) dalam program perluasan partisipasi masyarakat. Saya ingat, ia lebih rajin datang ke markas AJI yang dijadikan kantor redaksi tabloid Akar. Karena saya tahu jago pemasaran, saya mendapuknya sebagai manajer pemasaran. Ia dibantu Bang Felix. Karena ia punya apresiasi yang bagus tentang musik dan film, saya mempercayainya untuk memegang rubrik Musik. Di rubrik itu, ia merensi kaset atau film baru.

Berbeda dengan banyak kawan yang memanggilnya secara njangkar, ia selalu memanggil saya dengan menyelipkan kata “Mas” di depan namamu. Padahal saya tahu, usianya pastilah lebih tua dibanding usia saya.

Di AJI ia tidak hanya dekat dengan saya, tetapi dengan Kang Zainal Mutaqien (almarhum), Mas Firman Seponada, Damanhuri, Fadilasari, Bang Isbedy Stiawan ZS, M. Yamin Panca Setia (almarhum), Idi Dimyati, Sugiyanto, dan anggota AJI lain. Belakangan, setelah Mas Budisantoso Budiman pulang dari tugas belajar di India, Bang Daniel juga akrab dengan Mas Budi. Ia menjadi bagian dari AJI Lampung meskipun ia bukan anggota.

Dibanding dengan kawan-kawan lain di AJI maupun di pergerakan, Bang Daniel paling intens berkomunikasi dengan saya. Kami tidak hanya kenal secara personal karena urusan pekerjaan, wira-wiri nggak jelas, atau ngopi dan merokok bareng. Kami juga mengenal (tepatnya saya dipaksa untuk mengenal) keluarga besar masing-masing. Sebab itu, seperti penyair dan tokoh pergerakan Ahmad Yulden Erwin dan penyair Iswadi Pratama, saya juga mengenal dengan baik keluarga Bang Daniel.

Ia tempat kami berlari dan mengadu ketika menemukan jalan buntu mengatasi problem. Sebaliknya, jika ia punya problem besar, biasanya akan datang ke rumah saya. Bercerita A sampai Z dan minta saya memberinya masukan. Kami menyayanginya seperti menyayangi saudara kami sendiri. Tidak ada basa-basi atau ewuh pakewuh. Termasuk soal isi kantong.

Ia saudara andalan. Ia menjadi saksi proses anak-anak kami tumbuh dari kecil hingga menginjak remaja. Ia berusaha menjadi pemecah masalah ketika kami menemukan masalah. Ia berperan penting dalam peristiwa-peristiwa penting keluarga kami. Ia menjadi penasihat banyak orang untuk berbagai hal. Dari masalah rumah tangga, pekerjaan, politik, musik, mengelola komunitas.

Itulah sebabnya, jaringannya lumayan luas. Jaringan saya di dunia jurnalistik, beberapa di antaranya karena peran dia. Termasuk soal urusan bagaimana caranya Teraslampung.com punya kelompok pembaca, punya jaringan kuat di media sosial, dan tidak ditipu oleh para pemasang iklan.

Dia masih menjenguk saya ketika saya sakit syaraf kejepit yang tak kunjung sembuh. Ia masih datang lagi ke rumah untuk sekadar bercerita. Bukan cerita tentang sakitnya, tetapi tentang anak-anak asuhnya yang disekolahkannya di SMKK. Dalam kondisi sakit, ia masih sempat mengirim tulisan ke Teraslampung untuk membantu kelompok jazz Lampung yang akan pentas. Ia seperti tidak rela jika ada komunitas musik di Lampung pentas dalam kesendirian, tiada catatan atau rekam jejak digital.

Ketika mengantarkan kepergiannya untuk selama-lamanya, saya tidak bisa menahan tangis. Bukan semata-mata karena sedih, tetapi karena saya belum bisa membalas jasa baiknya kepada kami. Kalau dihitung dan timbang kemarahan dia ke saya dan kemarahan saya ke dia, saya masih terlalu banyak marahnya. Jika dihitung jasanya, ia sudah terlampau banyak memberi. Juga memberi “kehidupan” untuk jagat musik jazz di Lampung dan memberi semangat anak-anak muda dari berbagai komunitas untuk bisa berkiprah lebih baik.

Pada Rabu pagi, 12 Februari 2020, Bang Daniel meninggal dunia.

Hingga dua hari ia meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta, kami merasa ia masih ada. Saya masih sering menangis diam-diam jika mengingatnya. Namun, terkadang terselip rasa syukur karena di akhir hayatnya ia mengajarkan makna pasrah dan ikhlas.

“Sebelum ia sakit hingga sakit parah, Daniel rajin ibadah, mengajari anak-anak pondok mengaji. Ia ingin lebih bermakna di dengan fungsi paru-parunya yang tinggal 20 persen,” kata Adhie, sahabat saya yang juga sahabat sejak kecil dan sepupu Bang Daniel.

Untuk yang itu, aku iri padamu Bang. Belum tentu aku bisa mengikuti jejakmu: menemui-Nya dengan cara yang indah.

Husnul khotimahlah kau bang, orang baik…

Loading...