Beranda Views Kisah Lain Obituari: Cerita Tiga Hari Bersama M.Yamin, Ketua Seknas Jokowi

Obituari: Cerita Tiga Hari Bersama M.Yamin, Ketua Seknas Jokowi

466
BERBAGI
Muhammad Yamin (Foto: Istimewa)

Dedy Mawardi

Saya bertemu dengan Yamin setelah dari Lampung di Hotel Sahid Jaya di acara Seminar Publik tentang Pemberantasan Korupsi bersama K.H. Ma’ruf Amin.

Setelah Yamin memberi sambutan selaku Ketua Umum Seknas Jokowi, kami Duduk di satu meja dengan Dawai, Don Marut, Yuli, Marlin, dan Tumpak. Kami duduk satu meja ini juga kejutan karena dah lama gak kumpul satu meja para pengurus DPN Seknas. Yamin seperti biasa berceloteh dengan renyah dan gaya khasnya. Cerita pengalaman lama tentang mendidik rakyat Cilacap untuk melawan penguasa yang menindas haknya.

Cerita ini disampaikan karena Yamin diminta oleh Sofie dari Duta Jokowi untuk menjadi narasumber di giat Delta One di Bogor.

Obrolan makin panjang hingga larut malam dan kami bubar keluar gedung dengan rame-rame jalan kaki ke parkiran. Yamin mengantar Sofie dari Duta Jokowi dan tidak biasa Yamin membuka kaca mobil dan melambaikan tangan kepada saya, Juli, dan Don Marut.

***

Tidak biasa kami bertiga, Yamin, saya dan Isma selama 3 hari berturut-turut pasca-kembalinya Yamin dari Lampung, kami bisa berkumpul di kantor DPN di Jalan Cirebon, Menteng, Jakarta Pusat. Biasanya kami jarang bisa berkumpul di kantor pada saat menyambut Pilpres 2019. Yamin berkeliling di Jawa Barat, Banten dan berbagai daerah lainnya baik sebagai Ketua Umum Seknas Jokowi maupun sebagai Wakil Direktur TKN bidang Relawan, saya di Jawa Timur, DKI Jakarta dan Lampung sedangkan Isma biasa mewakili kami untuk rapat-rapat organ relawan di ibukota dan kadang juga blusukan di DKI.

Setelah saling lapor dari perjalanan masing-masing, Yamin bilang, “Ada yang musti diubah Ded… Dari strategi di lapangan untuk memenangkan Jokowi.”

“Strategi apa lagi yg mau dipake ? Rasanya semua cara udah dipake min…, keliling daerah kayak gasing sudah, mengetuk-ketuk pintu ke pintu di desa sudah, berdiri dipinggir jalan dan blusukan ke pasar-pasar tradisional dan mall bagi-bagi stiker sama kalender juga sudah. Bukan cuma Seknas Jokowi, hampir semua organ melakukan hal yang sama,” kata saya.

Obrolan kami berhenti karena Yamin menerima telepon dan lama-lama pembicaraan di telepon nadanya meninggi dan keras. Saya langsung memintanya untuk matikan hape dan sudahi ngomong dengan orang yang enggak jelas itu.

Obrolan berlanjut soal nasib Seknas setelah Pilpres 2019. Ternyata Yamin tetap berharap Seknas harus tetap ada jika Jokowi terpilih kembali.

Saya jawab, “Menangin Jokowi dululah, setelah menang baru kita ngomong lagi soal itu.”

Mengantar jenazah sahabat Muhammad Yamin ke peristirahatan terakhir.

Yamin berhenti sejenak sambil menarik dan melepaskan napas dengan panjang. Nampaknya ia menghendaki saya mendiskusikan dengan panjang soal Seknas itu tapi saya tidak merespons.

Lanjut obrolan ke soal pendribusian APK ke berbagai daerah. Yamin setuju dengan usulan saya dan Isma membagi APK yang ada tapi minim ke daerah yang belum pernah menerima dan menyisakan APK untuk giat blusukan dibeberapa titik di DKI Jakarta yang sudah dijadwal.

Kami berdua sempat menevaluasi acara seminar publik di Hotel Sahid yang ketua panitianya Isma. Saya perhatikan ia sangat seneng dengan acara itu dan mengapresiasi kerja Isma dkk (padahal Yamin paling pelit mengapresiasi suatu giat). Kemudian saya pamit pulang duluan karena saya sadar diri dengan kondisi badan pasca kena stroke ringan.

***

Hari Kamis, kami ketemu lagi masih di kantor DPN, ngobrol sambil nyeruput kopi ditemenin pisang goreng buatan bibi. Kami berdua berdiskusi ringan soal hobi baru Yamin dengan mobil-mobil lama, sambil menunjukkan foto mobil lama yang sudah dimilikinya.

“Loe punya hobi kayak gue aja Ded. (Ini lebih baik) daripada hobi burung…”

Saya tertawa terbahak-bahak karena melihat mimik Yamin yang sangat lucu ketika ngomong burung. Entah apa maksudnya dengan burung itu tapi kami ngobrol yang ringan itu dalam suasana yang nyaman.

Obrolan beralih ke soal hasil survei Litbang Kompas. Saya tanya ke Yamin, “Bagaimana Seknas mensikapi hasil survei itu..?”

Dengan gaya cengengesan Yamin jawab,”litbang kompas itu kan bukan lembaga survei jadi gak perlu panik, cukup dijadikan referensi untuk mengevaluasi kerja Seknas ke depan. Itulah pentingnya gue ngajak ngobrol elo kemarin soal atur strategi baru.”

Saya bilang, “Capeklah Min.. diskusi soal strategi baru di tengah-tengah situasi logistik yang gak jelas ini”.

Ia menghela napas dengan panjang, mungkin ia gak senang dengan jawaban saya. Ia lalu pergi ke toilet. Tidak lama kemudiania ngobrol dengan seseorang via telepon. Lagi-lagi suara obrolannya keras dan nadanya marah-marah.

Saya datangi lagi dan minta untuk untuk mematikan hapenya. Tak lama Yamin masuk lagi ke ruang rapat. Tiba-tiba Yamin bilang “2014 kita sudah sudah mengantarkan Jokowi jadi Presiden. Susah nyari orang baik untuk presiden, Ded. Jadi Seknas musti jadiin Jokowi presiden lagi walaupun kita belum tentu dapet posisi”.

Itulah semangat luar biasa yang saya tangkap dari Yamin untuk memenangkan kembali Jokowi sebagai Presiden di 17 April 2019 nanti.

Soal pernyataan terakhir Yamin yang mengatakan “walaupun kita belum tentu dapat posisi”, saya baru ketemu jawabannya dari tulisan pendek yamin yg diposting dan disebar di beberapa WAG terakhir.

Yamin pindah ke meja dapur ngobrol ama Ucok (Imran Hasibuan). Tak lama ikut gabung ngobrol mantan dubes Vietnam. Jam 15.30 hape Yamin berdering, diujung sana suara kawan Handoko, Sekjen Projo (kalau gak salah) mengingatkan Yamin untuk rapat di Jalan Veteran karena Pak Moeldoko sudah menunggu.

Yamin pun pamit dan masih mengingatkan saya untuk datang besok pagi untuk “melepas” rombongan Seknas dan alumni UII yang akan berangkat ke Yogya menghadiri Deklarsi Alumni Jogja untuk Jokowi di Stadion Kridosono, Sabtu 23/3/19.

Saya mengiyakan walaupun saya Jum’at pagi tidak datang ke kantor Seknas untuk “melepas”. Itulah yg saya sesali, saya tidak memenuhi keinginan Yamin terakhir. Sekitar jam 16.00 saya dapat kabar yang sangat mengejutkan dari Fahim, “Ded… dah denger kabar, Yamin meninggal di Majalengka”.

Mendengar kabar yang sepertinya tidak mungkin itu, karena sekitar 1 jam lebih sebelum menerima kabar itu, Yamin masih menelepon saya. Mendengar kabar yang tak terduga itu saya berusaha menahan emosi, berusaha tenang, dan saya menyandarkan diri setenang mungkin di kursi mobil. 20 menit kemudian saya minta sopir untuk kembali ke kantor Seknas.

Tiga hari bersama Yamin rasanya masih terngiang apa saja yang ia sampaikan ke saya walaupun ia sudah duluan naik gerbong (istilah Pak Mahfud) menuju Sang Khaliq.

Selama tiga hari itu saya melihat kondisi fisik dan pikiran Yamin itu sesungguhnya sangat “lelah”. Tapi kelelahan itu dengan pandainya ia selubungi rapi oleh semangat dan komitmennya untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019. Yamin seolah-olah dirinya bertanggung jawab sepenuhnya urusan pilpres itu dan hal itulah yang menjadi beban pikirannya sebelum mengembuskan napas terakhirnya di Majalengka.

Selamat Jalan Kawan Yamin…Cita-citamu, semangatmu dan komitmenmu akan kami teruskan. Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa menempatkan dirimu di surganya.***

*Dedy Mawardi, Sekjen Seknas Jokowi

BACA JUGA: Ketua Umumnya Meninggal, Seknas Jokowi Tetap Semangat Menangkan Jokowi-Ma’ruf

Loading...