Oknum Kades di Lamsel Diduga Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Staf Desa

  • Bagikan
ilustrasi/@Tempo - Inda Fauzi

Zainal Asikin | Teraslampung..com

LAMPUNG SELATAN — Seorang oknum Kepala desa (Kades) di Lampung Selatan di wilayah Kecamatan Candipuro berinisial BAP, diduga melakukan pelecehan seksual terhadap RF (20) yang tidak lain adalah staf desanya. Aksi pelecehan seksual tersebut, diduga dilakukan di kantor desa dan di dalam mobil ambulans desa.

Mencuatnya dugaan pelecehan seksual tersebut, setelah RF menceritakan kejadian yang dialaminya ke kerabatnya dan munculnya pemberitaan di salah satu media. Saat itulah menjadi ramai perbincangan warga masyarakat desa Rawa Selapan, dan juga warga desa lainnya di Kecamatan Candipuro.

Tidak hanya itu saja, atas perbuatan tidak terpuji yang diduga dilakukan oknum Kepala Desa terhadap staf kantor desanya, warga desa Rawa Selapan merasa malu dan geram lantaran aksi pelecehan seksual itu dilakukan di Kantor desa yang notabenenya sarana pelayanan publik masyarakat dan ditambah lagi dilakukan di mobil ambulan desa.

Kemudian kasus dugaan pelecehan seksual tersebut, korban RF dikabarkan sudah mendatangi Polres Lampung Selatan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dengan didampingi kerabatnya belum lama ini.

Sampai saat ini, masyarakat desa setempat masih merasa geram dan ingin permasalahan ini diproses hukum untuk dapat mengungkap kebenarannya.

Dari informasi itu, teraslampung.com mencoba melakukan penelusuran dan berusaha menemui korban RF untuk mengetahui kebenaran informasi dugaan pelecehan seksual yang berkembang di masyarakat.

Saat ditemui, korban RF yang didampingi kerabatnya menceritakan kejadian yang dialaminya. Ia membenarkan bahwa dirinya menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oknum pimpinannya (Kades) lebih dari lima kali. Yaitu di kantor desa dan di mobil ambulans desa.

“Lebih dari lima kali pelecehan seksual yang dilakukan pak Kades ke saya. Dilakukannya di kantor desa pak, yakni diruangannya dia (Pak Kades) dan dua kalinya itu di mobil ambulan desa,” kata RF kepada teraslampung.com sembari mengusap air matanya.

Meski dihantui rasa ketakutan, RF berusaha tegar dan kembali menceritakan kejadian yang dialaminya. Ia mengatakan, selain digerayangi bagian vital tubuhnya, pak Kades berusaha menggahinya mencoba memasukkan alat vitalnya dikemaluannya tapi itu tidak terjadi atau berhasil karena ia berontak meski terus dipaksa.

“Dua kali saya hampir digagahi, tapi itu tidak sampai terjadi karena saya berontak meski terus dipaksa. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana nasib saya ke depan nantinya dan harus berbuat apa saya,”ucapnya dengan nada lirih dan bergetar.

RF mengungkapkan, saat dilecehakan, dirinya sudah berusaha berontak tapi tetap saja ia ditarik oleh pak Kades masuk ke dalam ruangannya.

“Pak Kades menutup pintu ruangannya lalu dikunci. Bagian kaca pintu serta kaca lainnya di ruangan itu juga ditutup rapat,” tuturnya.

Di dalam ruangannya itulah, ia menjadi korban pelecehan seksual. Saya sudah berusaha berontak, tapi saya kalah tenaga dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi,”ujarnya.

Menurutnya, ia pernah ditawari mau diberi uang oleh Pak Kades usai dilecehkan, tapi ia menolaknya.

“Pernah mau diberi uang, tapi saya menolak karena saya bukan wanita bayaran seperti itu,”bebernya.

Terakhir kali dia (Kades) berusaha melakukan pelecehan seksual itu, lanjut RF, belum lama ini yakni bulan Februari 2021.

Karena sudah tidak tahan perlakuannya itu, ia pun memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai operator dan Kaur TU umum di kantor desa.

“Beberapa kali saya mau berhenti kerja, tapi selalu saja dihalangi oleh Pak Kades supaya saya jangan berhenti. Hingga akhirnya saya memberanikan diri tetap memutuskan berhenti kerja,”jelasnya.

Sejak keluar dari pekerjaan itu, RF mengaku merasa bingung, malu, takut dan harus berbuat apa. Selain itu juga, ia memikirkan bagaimana nasib dirinya ke depan dan bagaimana dengan keluarganya. Akhirnya, ia memberanikan diri menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya sendiri.

“Setelah siangnya saya menceritakan kejadian ini, anehnya malam harinya, Hu, sopir ambulans, ini tiba-tiba datang ke rumah saya. Yang menemui bapak saya. Sejak malam itulah, saya merasa takut,”kata dia.

“Saya takut bener pak. Ya takutnya, nanti malah balik ke saya yang disalahkan kalau saya laporkan ke pihak berwajib apalagi saya ini kan orang nggak punya. Saya masih bingung mau gimana. Apakah saya harus terima yang saya alami ini meski sebenarnya saya tidak terima dunia akhirat,”pungkasnya.

Sejak kasus ini mencuat, banyak dukungan dari kerabat RF dan masyarakat desa Rawa Selapan mengalir kepada RF. Mereka memberikan dukungan agar RF dan keluarganya kuat dan jangan takut mengungkap kebenaran. Akhirnya, RF didampingi kerabatnya mendatangi Mapolres Lampung Selatan dan menceritakan kejadian yang dialaminya dibagian Unit PPA.

Hal itu dibenarkan oleh kerabat RF yang saat itu ikut mendapingi RF ke Mapolres Lampung Selatan.

“Ya benar, belum lama ini RF kami dampingi ke Mapolres Lamsel. Memang belum laporan yakni masih kordinasi dulu, tapi kami sangat menyayangkan katanya masalah ini tidak bisa ditindaklanjuti,”kata salah seorang kerabat RF kepada teraslampung.com, Selasa (9/3/2021).

Dikatakannya, RF ini merasa ketakutan sehingga psikisnya terganggu, kami kerabat sepakat membawa RF untuk segera diberikan pendampingan bimbingan konseling agar psikisnya segera pulih.

Ayah RF, yakni Sunaryo mengaku, sejak saat itu putrinya RF memang benar merasa ketakutan. Bahkan setiap melihat orang yang lewat didepan rumahnya, RF ketakutan karena mengira kalau orang itu suruhan Pak Kades.

“Saya binggung harus berbuat apa, melihat anak saya RF ini sangat ketakutan. Mau ke kamar mandi saja takut, sehingga ia banyak di dalam kamar. Selain itu juga susah kalau disuruh untuk makan. Saya menyerahkan masalah ini ke kerabat saya agar psikis RF pulih serta kasusnya dapat diproses secara hukum,”ujarnya.

Sementara Kades Rawa Selapan, BAP saat dihubungi teraslampung.com melalui ponselnya terkait hal tersebut, enggan menanggapi secara serius permasalahan tersebut.

Kades termuda di Lamsel dengan gelar akademik Sarjana Hukum ini hanya menjawab secara singkat kalau permasalahan tersebut sudah diklarifikasi.

“Sudah diklarifikasi permasalahannya,”katanya sembari menutup panggilan teleponnya, Selasa (9/3/2021)

Saat ditanya permasalahan tersebut melalui pesan WhatsAp yang dikirimkan teraslampung.com. Kades BAP juga tetap menjawab singkat pertanyaan tersebut.

“Tunggu proses. Biar jelas, jadi ya tunggu gimana,” katanya.

 

Loading...
  • Bagikan