Beranda Hukum Kriminal Oknum Pendamping Diduga Perkosa Anak di Bawah Umur di Lamtim, Ini Kata...

Oknum Pendamping Diduga Perkosa Anak di Bawah Umur di Lamtim, Ini Kata Kak Seto

431
BERBAGI
Ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto.
Ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau Kak Seto

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) yang merupakan sebuah lembaga independen yang aktif menjalankan kegiatan pemenuhan hak dan kepentingan terbaik untuk anak di Indonesia sejak tahun 1997, mengecam dan mengutuk keras kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur dan perdagangan manusia (human trafficking) yang diduga dilakukan oknum pendamping Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur berinisial DA.

“Kami sudah mendapatkan informasinya dan pastinya sangat kecewa dan menyesalkan adanya peristiwa tersebut, oleh karena itu kami mengecam dan mengutuk keras terhadap pelaku yang telah melakukan tindakan biadab terhadap korban NF. Apalagi, terduga pelaku DA ini seorang aktivis perlindungan anak P2TP2A Lamtim yang seharusnya melindungi anak,”kata Ketua umum LPAI, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto kepada teraslampung.com saat dihubungi melalui ponselnya, Rabu (8/7/2020).

Kak Seto mengatakan, sebagai sebuah lembaga perlindungan anak dan perempuan P2TP2A Lampung Timur, semestinya memberikan perlindungan kepada anak dan perempuan yang mengalami tindakan kekerasan. Apalagi korban ini juga mendapat perlakukan tindakan asusila yang dilakukan paman korban, dan pamannya saja mendapatkan hukuman 13 tahun penjara dan itu hukuman yang optimal supaya menimbulkan efek jera bagi siapapun juga yang diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk melindungi anak.

“Korban NF inikan dititipkan di situ (P2TP2A) karena menjadi korban asuslia, korban ditipkan disana yakni untuk mendapatkan pemulihan rehabilitasi baik secara psikologisnya maupun fisik karena ada suatu akibat pemerkosaan. Harusnya korban ini, mendapat perhatian serius untuk memulihkan kondisi kesehatan dan kejiwaannya oleh lembaga yang bersangkutan,”ujarnya.

Tapi, lanjut Kak Seto, malah justru sebaliknya, korban mendapat perlakukan tindakan asusila berikutnya dari terduga pelaku DA, yang seharusnya terduga pelaku tersebut memberikan perlindungan terhadap korban di rumah aman lembaga swadaya selaku mitra dari P2TP2A Lampung Timur tersebut.

“Orang yang harusnya melindungi anak dari tindakan kekerasan seksual, ini malah justru menjadi pelaku predator anak. Rumah aman yang semestinya aman bagi korban, justru menjadikan korban tidak aman. Dengan hal ini, saya mengapresia Dinas PPPA Provinsi Lampung yang telah memberikan perlindungan terhadap korban,”ungkapnya.

Kak Seto mengutarakan, selain mengutuk keras perbuatan biadap yang dilakukan terduga pelaku DA selaku oknum pendamping P2TP2A Lampung Timur, pihaknya mendesak Polda Lampung untuk segera membuktikan hal tersebut dan segera menetapkan terduga DA sebagai tersangka dan segera dilakukan penahanan.

Selain itu juga, pihaknya mendorong Polda Lampung agar terduga pelaku dihukum secara optimal sesuai peraturan perudangan dan diberikan pemberatan hukuman, karena terduga pelaku adalah orang yang seharusnya memberikan perlindungan aman terhadap anak sebagai korban kekerasan seksual.

“Kalau sudah jelas terbukti, penyidik harus segera mungkin menetapkan pelaku sebagai tersangka dan melakukan penahanan karena lebih cepat maka lebih baik. Kami mendorong proses hukum ini dilakukan secepatnya, dan meminta ada pemberatan hukuman terhadap pelaku,”terangnya.

Kak Seto kembali menegaskan, pihaknya mengutuk keras tindakan biadap terduga pelaku DA terhadap korban berinisial NF (14), warga Lampung Timur yang menjadi korban tindakan kekerasan seksual dan perdagagangan orang (human trafficking). Dengan adanya bukti tersebut, selain dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak, terduga pelaku dijerat pasal perdagangan orang.

“Selain melakukan kekerasan seksual, terduga pelaku DA ini diduga telah menjual korban kepada orang lain. Kami meminta terduga pelaku diberikan sanksi yang berat dijerat pasal berlapis, karena tindakan yang dilakukan terduga pelaku terbilang sangat kejam dan biadab,”pungkasnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua LPAI Lampung, Muhammad Zainuddin. Ia merasa prihatin dan miris adanya kejadian tersebut, mestinya orang dewasa dan terduga pelaku ini sebagai pendamping anak yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap anak justru menjadi pelaku yang merusak masa depan anak tersebut.

“Miris dan kejam sekali mendengarnya. Karena mengingat hal seperti ini bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, oleh karena itu saya berharap kasus kekerasan seksual korban dibawah umur ini harus segera diungkap,”ujarnya.

Apalagi terduga pelaku DA tersebut, kata mantan Ketua LPAI Lampung Selatan ini, selain melakukan kekerasan seksual, pelaku ini juga diduga telah menjual korban terhadap orang lain untuk disetubuhi. Selain dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak No. 34 tahun 2014 atas perubahan UU No. 23 tahun 2002, dimana Pasal 81, 82 adanya ancaman kekerasan ataupun bujuk rayu terhadap anak. Tidak hanya itu saja, terduga pelaku dapat dijerat pidana perdagangan orang.

“Kami meminta kepada para penegak hukum, agar dapat segera mengungkap kasusnya dan menangkap para pelakunya agar bisa memberikan efek jera kepada para pelaku lainnya untuk tidak lagi melakukan kekerasan terhadap anak,”terangnya.

Menurutnya, bilamana ada kasus kekerasan terhadap anak dan adanya laporan, karena kasus anak ini memiliki undang-undang sendiri atau leks spesialis maka para penegak hukum segera menelusuri atau mengembangkan informasi yang dihimpun dari korban dan keluarga korban.

“Sehingga oknum pendamping P2TP2A yang diduga sebagai pelaku, bisa segera dilakukan pemeriksaan. Bilamana terbukti, maka harus segera dilakukan penahanan,”pungkasnya.

Loading...