Oknum Polisi di Tulangbawang Barat Intimidasi Jurnalis, Ini Sikap AJI Bandarlampung

  • Bagikan
Ketua AJI Bandarlampung, Hendry Sihaloho. Foto: Juwendra Asdiansyah

TERASLAMPUNG.COM — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandarlampung mengecam intimidasi yang dilakukan oknum polisi terhadap jurnalis Lampung Post, Ahmad Sobirin. Intimidasi  dalam bentuk kekerasan verbal dialami Sobirin usai meliput pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) di Tulangbawang Barat.

“Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap jurnalis. Apalagi, itu berkaitan dengan aktivitas jurnalistik,” kata Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho, Selasa, 30/3/2021.

Hendry mengatakan, Sobirin mengalami intimidasi sepulang meliput pengoplosan BBM pada Jumat sore, 26 Maret 2021. Waktu itu, dia menerima telepon dari nomor tak dikenal. Belakangan diketahui, orang yang menelepon itu adalah oknum anggota Polres Tulangbawang Barat.

Dalam percakapan via telepon, oknum polisi itu berbicara dengan nada tinggi .

“Kamu ini enggak sepandangan lagi. Sudah itu, kamu ajak anggota dewan pula. Nanti, kamu ketemu saya. Jangan kau lihat saya baik-baik,” kata oknum polisi tersebut. “Kamu kayaknya mau tahu betul sama saya. Nanti ketemuanlah ya. Nanti saya cari kamu. Biar kamu tahu saya.”

Selain dihubungi oknum polisi,  malam harinya Sobirin juga disatroni  dua pria. Salah satu dari pria tersebut adalah mantan anggota TNI. Mereka datang ke rumah Sobirin terkait pengoplosan BBM. Mereka minta Sobirin untuk berhenti memberitakan pengoplosan BBM.

Terkait ancaman itu, Hendry meminta semua pihak untuk menghormati kerja-kerja jurnalistik. Sebagai bagian dari pers, jurnalis memiliki peran yang sangat spesifik dalam masyarakat.

Hendry menegaskan, tugas para jurnalis adalah mempersenjatai publik dengan informasi. Tujuannya, memberdayakan warga negara untuk memperkuat institusi demokrasi dan demokrasi itu sendiri.

“Kami mengingatkan bahwa tugas jurnalis dilindungi UU 40/1999 tentang Pers. Tindak kekerasan akan menghambat jurnalis memenuhi tujuan jurnalisme, yakni menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa mengatur hidupnya secara bebas,” ujarnya.

Dia menambahkan, jurnalis perlu mendapat perlindungan dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik. Sebab, keberadaan jurnalis untuk menjamin dan memastikan hak-hak publik terpenuhi, di antaranya hak atas informasi. Artinya, aksi kekerasan yang itu menghambat tugas jurnalis sama saja mengebiri hak publik memperoleh informasi yang dijamin konstitusi.

Rl

  • Bagikan