Oknum TNI Terlibat, Pembunuhan Pemred di Sumut karena Pemilik Tempat Hiburan Malam Dendam

  • Bagikan
Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak didampingi Pangdam I/BB, Mayjend TNI Hasanudin dan Direktur Reskrimum Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja menunjukkan barang bukti yang disita atas pembunuhan wartawan, Marsal di Simalungun. (Foto: Istimewa via Kabarmedan.com)
Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak didampingi Pangdam I/BB, Mayjend TNI Hasanudin dan Direktur Reskrimum Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja menunjukkan barang bukti yang disita atas pembunuhan wartawan, Marsal di Simalungun. (Foto: Istimewa via Kabarmedan.com)

TERASLAMPUNG.COM, MEDAN — Pembunuhan pemimpin redaksi lassernewstoday.com, Mara Salem Harahap,  pada Jumat (18/6/2021) malam, ternyata bermotif dendam. S, pemilik tempat hiburan malam di Pematang Siantar, jengkel karena tempat bisnisnya sering diberitakan ‘miring’. S lalu menyuruh  Y yang merupakan humas atau manajer di tempat hiburan malam milik S dan H.

Menurut Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, H merupakan oknum TNI.

Kapolda Sumut mengatakan, dalam kasus ini pihaknya sudah melakukan uji balistik untuk menemukan kesesuaian antara barang bukti proyektil dengan barang bukti yang diuji.

“Pertama terkait senjata, itu adalah senjata pabrikan. Nomor register jelas, buatan AS (Amerika Serikat=red),” kata Irjen RZ Panca Putra Simanjutak, dalam konferensi pers di Mapolda Sumut, Kamis petang (24/6/2021).

Menurut Panca, senjata pabrikan belum tentu masuk dengan benar dan semuanya milik kesatuan. Menurutnya, senjata pabrikan itu bisa saja dari perdagangan gelap dan tidak teregister di kesatuan.

Senjata api tersebut, kata Kapolda Sumut, ada nomor registernya dan pihaknya akan melakukan penelusuran terhadap sumber senjata api tersebut.

“Kedua, H adalah oknum (TNI). Makanya Pangdam hadir disini. Saya tegas sampaikan, siapa pun yang salah, akan tindak dengan tegas. Nggak usah bawa ke mana-mana. Tapi yang jelas oknum. Kesatuannya jelas dan itu akan disampaikan karena itu bukan kompetensi saya. Beliau akan serius,” katanya tanpa merinci H sebagai oknum TNI dari kesatuan mana.

Dalam kesempatan tersebut, Panca berulang kali menyatakan dirinya dan Pangdam I/BB, Mayjend TNI Hassanudin belasungkawa atas meninggalnya korban. Menurutnya, peristiwa yang dialami korban merupakan pelajaran berharga.

“Mohon teman-teman sekalian, jaga integritas kita bersama. Kita sepakat narkotika harus dibersihkan dari Sumut. Tapi tidak boleh, saya mohon teman-teman jangan sampai ada kejadian seperti ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, tersangka Y mengaku membawa sepeda motor bersama H. Dikatakannya, alasan korban dieksekusi karena korban membuat pihaknya tidak bisa menjalankan usaha dengan baik.

Menurutnya, pihaknya sudah berulang kali mencoba komunikasi dan memberi yang diminta oleh korban. Sehingga akhirnya atasannya, tersangka S, memerintahkan untuk memberi pelajaran kepada korban dengan cara menembak, tapi bukan membuatnya meninggal dunia.

Saat diperiksa polisi  tersangka S mengaku memerintahkan tersangka Y selaku humas di tempat usahanya (“F Bar and Resto”) untuk untuk memberi shock therapy.

“Cuma saya katakan ini selalu buat rusuh, kalau tak dibedil tak bisa. Biar ada ketakutan. Jadi di sini saya sangat menyesal dengan perbuatan kami. Dan kepada bapak-bapak media cetak dan online, saya mohon maaf sebesar-besarnya dan saya akan jalani hukuman sesuai aturan dan undang-undang di Indonesia,” katanya.

KABARMEDAN.COM

  • Bagikan