Beranda Ekbis Bisnis Okupasi 2019 Naik, Swiss-Bellhotel Lampung Komitmen Pasang Tapping Box

Okupasi 2019 Naik, Swiss-Bellhotel Lampung Komitmen Pasang Tapping Box

251
BERBAGI
Sales Manajer Swiss-Bellhotel Lampung, Herry Yansyah
Sales Manajer Swiss-Bellhotel Lampung, Herry Yansyah

TERASLAMPUNG.COM — Meskipun ekonomi dunia agak lesu, tingkat hunian (okupa) Swiss-Bellhotel Lampung di Jalan Rasuna Said Bandarlampung pada 2019 diprediksi mengalami kenaikan dibanding okupasi  2018.

“Tahun 2018 okupasi sekitar 70 persen. Sedangkan tahun 2019 sampai bulan Oktober saja sudah 73 persen,” jelas Sales Manager Swiss-Belhotel, Herry Yansyah, kepada teraslampung.com, Selasa 22 Oktober 2019.

Menurut Herry, kenaikan okupansi di hotelnya tersebut disebabkan adanya gelaran even nasional.

“Kami bersyukur tahun ini dapet banyak even nasional dan banyak instansi yang melakukan pertemuan (meeting) di hotel kami,” tambahnya.

Terkait upaya Pemkot Bandarlampung mendongkrak pemasukan dari pajak hotel dengan pemasangan tapping box , Herry mengaku manajemen Swiss-bellhotel mendukung. Swisss-Bellhotel pun menjadi satu dari sekian banyak hotel di Bandarlampung yang dipasang alat tapping box.

Alat yang memantau transaksi yang berjalan di hotel tersebut dan dapat dipantau oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Bandarlampung.

Menuru Herry Yansyah sejak ada alat tersebut selama ini tidak ada kendala, tidak ada komplain dari para pengunjung.

“Sejak November 2018 alat itu dipasang. Sepengetahuan saya tidak ada komplain dari pengunjung. Sepertinya sosialisasi alat tersebut sudah sampai ke tamu-tamu kami. Tamu-tamu kami biasanya kan bukan hanya menginap di Bandarlampung, mungkin mereka sudah dapet informasi dari daerah lain,” jelas jebolan Fakultas Hukum Unila itu.

Dia menambahkan, hotelnya tertib dalam menyampaikan dan membayar pajak daerah.

“Soal nilai, yang tahu itu orang akunting. Tapi sepengetahuan saya, kami yang paling tertib dalam membayar pajak daerah karena kami paham pajak daerah itu digunakan untuk kepentingan pembangunan Kota Bandarlampung,” katanya.

Herry Yansyah mengaku tidak ada alasan menolak tapping box karena pajak daerah yang dipungut Pemkot Bandarlampung sumbernya dari para tamu hotel. Tapping box adalah alat monitornya.

“Pihak hotel, restoran, hiburan dan parkir hanya dibebankan memungut dari konsumen saja. Kami kan hanya memungut dari tamu. Beban pajak daerah itu kepada tamu. Jadi bagi kami nggak ada masalah,” jelasnya.

Untuk meningkatkan tamu hotelnya menawarkan program wisata yang diberi nama “Wong Kito Galo”. Dengan biaya Rp640 ribu/orang pengunjunjung menginap semalam di Swiss-Bellhotel Lampung plus wisata ke Pulau Pahawang, Pesawaran.

“Program ‘Wong Kito Galo’ itu kami buat untuk menjaring wisatawan asal Palembang. Dengan adanya jalan tol Palembang – Lampung kami harapkan wisatawan asal Palembang meningkat. Sementara ini program itu banyak dinikmati oleh wisatawan asal Jakarta,” kata Herry.

Dandy Ibrahim