“Once Upon a Time in Kraton Ngayogyakarta”

Bagikan/Suka/Tweet:
JK, Jokowi, Sri Sultan HB X, dan GKR Hemas. (dok sunardian.blogspot.com) 
Sunardian Wirodono*

Percayalah
ini tulisan semi mistik. Tetapi, percayalah juga bahwa perubahan adalah juga sebuah
mistik, sebagaimana kepercayaan Sutan Takdir Alisyahbana, “mistik saya adalah
masa depan”.

Mari
sejenak membaca mistik.
Senja
turun di langit Yogya, pada Selasa Legi di bulan Juli 2014. Suara adzan maghrib
melengking di Masjid Gedhe Kauman, masjid milik Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat. Semua orang berkhidmat, buru-buru, menyerbu takjil yang terhindang
rapi di antara gelaran karpet. Suasana agak ricuh saat itu, karena ada yang tak
biasa di sana.
Prabowo
Subianto membatalkan puasa dengan meneguk air mineral gelas. Namun sama sekali
tak disentuhnya nasi bungkus yang disediakan, sebagai menu buka puasa oleh
takmir masjid. Nasi bungkus berisi telur mata sapi dengan sayur irisan tahu
tempe itu agaknya tak menarik minat capres dan rombongannya. Sega kucing, tentu
ta layak untuk Macan Asia. Mereka hanya menghabiskan air mineral dan memakan
sepotong kue.

Rencana
untuk jalan kaki dari masjid ke Keraton Kilen dibatalkan. Jarak tempuh yang
sangat dekat itu, akhirnya dilalui naik mobil. Pak Prabowo capek, begitu alasan
pengawalnya. Sepanjang perjalanan pendek itu, ratusan massa ormas Islam ikut
mengiringi mobil yang ditumpangi Prabowo. Mereka meneriakkan takbir, riuh-rendah.
Saat
mendatangi kediaman Sri Sultan Hamengku Buwana X di Keraton Kilen Yogyakarta,
Ahmad Dhani dan Mulan turut ikut masuk bersama rombongan Prabowo. Namun saat
Dhani dan Mulan sedang dikerubuti sejumlah pendukung Prabowo untuk berfoto,
Gusti Prabu (adik Sultan), mendatangi keduanya, “Mohon maaf ini pindah ke
tempat lain, karena nanti dipakai Ngarso Dalem,…”

Dan
sepasang selebritas itu pun pindah ke tempat lain, berkumpul dengan Titiek
Soeharto dan Ali Mochtar Ngabalin, beserta rombongan besar Prabowo dari Jakarta
dan Yogyakarta.
Sebulan sebelumnya, pada 2 Juni, Jokowi juga sowan pada Sultan, namun hanya
dengan sedikit rombongan. Dan Sultan menjamunya di ruang dalam secara khusus.
Bahkan, Sultan mengadakan dialog empat mata dengan Jokowi selama lebih 1 jam.
Kenapa berbeda? Sementara waktu pertemuan dengan Prabowo dan rombongan hanya
sekitar 33 menit.
Sultan
menemui Prabowo dan rombongan di ruang tamu luar Kraton Kilen. Namun Sultan
membantah jika ada makna tersembunyi di balik penyambutan tersebut. “Tidak
ada, cuma kebetulan Pak Prabowo dengan rombongan banyak,” jelas Sultan.
Gusti
Prabu mengatakan, perbedaan antara penyambutan Jokowi dan Prabowo itu karena
karena permintaan keduanya berbeda. “Kalau Pak Prabowo mintanya ada makan
bersama, ya di luar ruangan, sesuai permintaan saja,” kata Gusti Prabu.

Setelah
bersalaman dan cium pipi kiri-kanan, Sultan kemudian mempersilakan para tamu
menikmati santap malam. Sultan dan Prabowo sempat melakukan pembicaraan, tak
lebih dari 3 menit, sebelum akhirnya menuju meja makan.
Sementara
di meja makan telah tersedia menu khas Yogyakarta. Gudeg, krecek, sayur labu
serta opor ayam, yang tentu berbeda dengan hidangan takjil di Masjid Gedhe
Kauman.
Mantan
Danjen Kopassus itu dipersilakan lebih dahulu mengambil makanan yang telah
tersedia. Prabowo menyendok sendiri mulai dari nasi putih, lauk pauk hingga
kerupuk yang menjadi pelengkap makan malamnya.
Setelah
siap mengambil nasi dan lauk pauk untuk makan, Prabowo lalu menuju meja makan
yang berbentuk bundar. Di sana duduk Sri Sultan, Aburizal Bakrie, M
Romahurmuziy, Hidayat Nur Wahid. Dalam rombongan itu ada juga Ahmad Dhani,
Mulan, juga Titiek Soeharto dan Ali Mochtar Ngabalin, tapi entah di mana
mereka. Yang pasti, di beranda Kraton Kilen itu penuh manusia, yang bisa jadi
telah terlalu lama menahan lapar. Prabowo sempat kembali ke meja makan yang berisi
hidangan gudeg dan lauk pauk lainnya. Mengisi piringnya dengan lauk yang
sebelumnya ia makan. Nambah.
Pertemuan
itu, tak lebih hanya berlangsung 33 menit. Tiba di Kraton Kilen pukul 18.17,
Prabowo kemudian berpamitan pada 18.50. Intinya hanya kulo-nuwun karena mau
kampanye di Yogyakarta.  Prabowo dan rombongan agaknya hendak
buru-buru sowan ke ndalem Prabasutedjan, rumah kediaman adik tiri Soeharto.
Titiek Soeharto yang tampil dengan  kerudung warna soft, tampak mesra
duduk bersebelahan dengan Prabowo.
PERTEMUAN
DENGAN JOKOWI
 Saat Jokowi datang sebulan sebelumnya, Sultan
menerimanya di ruang tamu dalam Kraton Kilen. Bahkan, Sultan menyiapkan ruang
VVIP untuk meminta Jokowi mengadakan pembicaraan tertutup di ruang khusus.
Hampir satu jam, dan baru kemudian Sultan meminta Jusup Kalla ikut bergabung.
Berbeda
dengan Prabowo, Sultan memberi perhatian lebih pada Jokowi. Meski Sultan tampak
hati-hati, dengan menegaskan tetap netral dan tidak mau mendukung salah satu
calon mana pun. “Siapapun yang menang untuk dapat jadi presiden yang lebih
baik. Dalam arti bermanfaat betul-betul untuk rakyat, tanpa memihak,”
tuturnya. Sultan ini berbeda dengan raja-raja lainnya.
Jokowi
mengatakan tidak datang untuk meminta dukungan Sultan, “Kami datang untuk
bersilaturahmi dan mohon restu kepada Sultan. Karena, selain sebagai gubernur
dan raja, Sultan adalah bapak bangsa.”
“Jogja
adalah sebuah kota yang memegang peran penting dalam pembentukan Republik ini.
Pak Jokowi dan saya juga merasakan betul kota ini sebagai sebuah kota pelajar
karena kami berkuliah di kota ini,” ujar Anies Baswedan, juru bicara
capres Jokowi, yang sebelum ke Kraton Kilen menyempatkan untuk blusukan ke
Malioboro dan Pasar Beringharjo.
“Saya
berterimakasih sekali karena Pak Jokowi dan Pak JK bersilaturahim, saya punya
harapan semoga sukses,” kata Sultan waktu itu seusai pertemuan dengan
Jokowi-JK.
Sultan
menjelaskan, dalam pertemuan tertutup sekitar satu jam, banyak hal yang ia
bicarakan bersama Jokowi. Ia mengaku harus menyiapkan ruangan khusus agar
proses dialog dapat berjalan maksimal. Namun, karena berbagai alasan, Sultan
tak dapat menyampaikan materi perbincangan dengan Jokowi tersebut.
Ia
hanya berpesan agar jika terpilih nanti, Jokowi-JK dapat memegang teguh amanah
yang diberikan oleh rakyat dan dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. “Hanya dengan cara seperti itu, kita bisa menatap masa depan
dengan bangga. Semoga sukses. Saya punya
harapan besar kalau beliau (Jokowi-JK) mendapatkan ridho menjadi seorang
pemimpin, semoga kekuasannya nanti diabdikan untuk rakyat,” ujar Sultan.
Memang
saat bertemu, Jokowi dan Sri Sultan memasuki ruang VVIP di lingkungan Keraton
lebih dulu dan JK menunggu di luar. Sekitar 45 menit kemudian, JK baru
dipanggil masuk ke dalam ruangan untuk ikut dalam perbincangan. Menurut Anies Baswedan, dalam pertemuan tertutup itu
mereka banyak membicarakan perjalanan bangsa ke depan.
“Kita ingin menyerap prinsip filosofi pemimpin dari
Sultan, di mana pemimpin harus hadir untuk rakyat dan menjadi sandaran bagi
rakyat,” tukas Jokowi dalam sambutannya. “Kami dan Pak JK
silaturahmi dan memohon doa restu kepada Sultan. Pertama kami berdua sangat
menghormati beliau. Karena selain raja dan gubernur, Ngarso Dalem adalah guru
bangsa, kebudayaan, dan multikultur.”

Apa
hal lain yang dibicarakan dalam pertemuan? Jokowi mengaku mendapat banyak bahan
dan materi berkaitan dengan pemerintahan yang akan datang. “Intinya, atas
pemikiran beliau, kami sejalan. Baik berkaitan kemaritiman, ekonomi makro dan
mikro. Juga berkaitan TNI maupun lainnya,” tutupnya. “Beliau memiliki
prinsip nguwongke wong, memanusiakan manusia. Saya dan Pak JK
mengikuti prinsip Beliau,” kata Jokowi dengan cekeran.

Di
mana sepatunya? Sewaktu hendak memasuki ruang VVIP, Jokowi mencopot sepatunya,
meski dicegah oleh Sultan. Ia sebagaimana para teknisi Jepang yang masuk ke
pabrik-pabrik mobil di Eropa dan Amerika, hendak menyerap energi kebudayaan
nenek moyangnya dengan kaki telanjang.
Di mana mistiknya cerita ini? Namanya juga pertemuan empat
mata, pasti hanya Sultan HB X dan Jokowi yang tahu. Kalau Thukul pun tahu,
pastilah bukan empat mata namanya!
Pilihan Sultan sendiri? 

“Pilihan saya, di TPS saja,…” kata Sultan
Hamengku Buwana X.

* Sunardian Wirodono, esais dan budayawan. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di www.sunardian.blogspot.com