Beranda Views Kopi Pagi Pemimpin Hebat Boleh Marah, Asal…

Pemimpin Hebat Boleh Marah, Asal…

4832
BERBAGI
Saatnya Unjuk Gigi (Ilustrasi/Indrotomo Brigandono)

Oyos Saroso H.N.

Salah satu guru spiritual saya mengajarkan untuk bisa meredam kemarahan. Sebaiknya, kata dia, rasa marah diganti dengan rasa gembira.

“Gembira, tersenyum, atau tertawa lebih baik dibanding marah-marah. Sebab, kemarahan akan bisa berbalik ke badanmu sendiri. Aneka penyakit bisa kamu tuai jika kamu sering marah!” begitu guru saya yang juga master kefir itu mengajarkan.

Rasa marah diganti dengan rasa gembira. Marah diganti senyum. Aih. Itu sama saja membalikkan kepala menjadi ekor dan ekor menjadi kepala! Alangkah sulitnya.

Apa yang diwejangkan guru saya itu, kalau saya pikir lebih jauh, seirama dengan petuah yang sering disampaikan Ustaz Danu di sebuah acara televisi swasta. Pasien yang minta tolong kepada Ustaz Danu sebagian besar penyakitnya tersebab oleh rasa marah, soal hati, perilaku, dan amal/sedekah.

Jauh sebelum itu, banyak kisah yang menceritakan bahwa Baginda Rasulullah SAW adalah sosok penyabar. Sepanjang hidupnya, bisa dihitung dengan jari berapa kali Rasulullah marah.

Banyak literatur menyebutkan bahwa marah merupakan salah satu penyakit hati. Kemarahan tak terkendali juga bisa menyebabkan penyakit. Juga bisa bikin celaka. Itu pernah dialami Aryo Penangsang, hingga berujung pada kematiannya.

Meskipun sederhana, meredam kemarahan sangat sulit untuk dilakukan orang yang sudah terbiasa marah. Apa lagi bagi orang tinggi hati yang dengan kemarahannya itu ia bisa menepuk dada siapa dia sebenarnya.

Yang dilakukan seorang kepala desa di sebuah pojok Indonesia yang terkenal sebagai sosok tinggi hati dan hobinya marah sejak ia masih muda, misalnya. Ia kerap marah untuk satu hal yang sebenarnya tidak perlu.

Ia akan marah jika pada situasi tertentu ada hal yang tidak pas di hatinya. Akan makin meledak kemarahannya jika pada situasi tersebut  banyak orang yang derajatnya dianggapnya lebih rendah dari dia. Maksud ia marah tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menunjukkan bahwa ia memang berhak marah karena dia orang hebat.

Orang hebat tentu boleh marah. Namun, serta merta dengan meledakya kemarahan si hebat itu, akan tampaklah bahwa ia sebenarnya hanya sedang menonjolkan diri, sedang umuk, pamer keperkasaan dan kekuasaan.

Apakah dengan marah-marah seorang pemimpin antas menjadi lebih mulia? Tidak juga. Seorang pemimpin yang suka mengumbar kemarahan di sembarang tempat dan tak kenal waktu hanya akan membukakan mata  banyak orang bahwa kualitas pemimpin itu cuma receh. Ia boleh saja berstatus pemimpin, orang yang sangat dihormati, disanjung puja para penjilatnya. Namun, jika hobi marah-marah tidak diimbangi prestasi maka pemimpin itu cuma pantas disebut “sampah”. Kalau “sampah” terlalu kasar, bolehlah diganti “orang tiada guna yang kebetulan saja jadi pemimpin”.

Pemimpin hebat tentu boleh marah. Asal kemarahan itu “terukur”. Sebab musababnya jelas dan tidak ditumpahkan di sembarang tempat. Kalau ada orang hebat atau pemimpin hobi marah-marah untuk alasan yang tidak jelas atau marah hanya demi meninggikan derajatnya yang memang sudah tinggi, pantaslah ia dikirim ke rumah sakit jiwa.

Kenapa rumah sakit jiwa? Karena patut diduga ia mengalami gangguan kejiwaan akut. Harus ditangani dengan serius biar ia segera sembuh.

Loading...