Beranda Hukum Kriminal Otak Pelaku Pembuangan Pasien RS Hingga Meninggal Dituntut 22 Bulan Penjara

Otak Pelaku Pembuangan Pasien RS Hingga Meninggal Dituntut 22 Bulan Penjara

824
BERBAGI
Dua pelaku yang diduga menyuruh para karyawan RSU Dadi Tjokrodipi membuang pasien, Heriansah dan Muhendri, tertunduk saat menjalani sidang di PN Tanjungkarang, Senin (23/6). Foto: Teraslampung.com
Dua pelaku yang diduga menyuruh para karyawan RSU Dadi Tjokrodipi membuang pasien, Heriansah dan Muhendri, tertunduk saat menjalani sidang di PN Tanjungkarang, Senin (23/6). Foto: Teraslampung.com
Zaenal Asikin | Teraslampung.com

BANDAR LAMPUNG — Mantan Kasubag Umum dan Kepegawaian di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dadi Tjokrodipo Bandarlampung Heriansyah  dan Kepala Ruangan E2 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dadi Tjokrodipo Mahendri dituntut hukuman  1 tahun dan 10 bulan penjara.

Baca: Kakek Renta Meninggal Setelah Dibuang: Siapa Aktor Utamanya?

Dalam sidang di PN dipimpin Ketua Majelis Hakim Mulyono, Senin (23/6), Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hartono menyatakan kedua terdakwa dinyatakan secara sah bersalah melanggar pasal 306 ayat (2) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP karena terlibat membuang pasien renta bernama Suparman hingga meninggal dunia.

“Menuntut terdakwa Heriansayah dan terdakwa Mahendri selama 1 tahun dan 8 bulan penjara dikurangi masa tahanan yang telah dijalani dengan perintah tetap ditahan,” kata Jaksa Hartono.

Terpisah, di ruang sidang lain enam terdakwa dalam kasus yang sama, yakni Muhaimin (33), Rika Ariadi (31), Andika (25), Andi Febrianto, Adi Subowo, Rudi Hendra Hasan, dituntut masing-masing hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara terkait yang melakukan eksekusi pembuangan Kakek Suparman tersebut.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eka Aftarini menyatakan, keenam terdakwa secara sah bersalah melanggar pasal 306 ayat (2) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tentang menelantarkan pasien yang mengakibatkan kematian.

BACA: Inilah Skenario Jahat Membuang Pasien Rumah Sakit Hingga Korban Meninggal

“Menuntut terdakwa Muhaimin, Rika Ariadi, Andika, Andi Febrianto, Adi Subowo, dan terdakwa Rudi Hendra Hasan selama 1 tahun dan 6 bulan kurungan penjara dikurangi masa tahanan yang telah dijalani,” kata Eka di hadapan Ketua Majelis Nursiah Sianipar.

Terungkap dalam persidangan, pada tanggal 17 Januari 2014 sekitar pukul 14:00 WIB di RSU Dadi Tjokrodipo  Bandarlampung, menerima pasien bernama Suparman dan dirawat di bagian Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Setelah didiognosis,pasien tersebet mengalami dehidrasi low instake atau kekurangan asupan makanan dan minuman serta terkenainfeksi bakteri.Pasien kemudian dirawat di ruang rawat inap E2.Kemudian, lanjut JPU, pada (18/1) dokter Melisha, yang bertugas sebagai dokter Jaga, melakukan pemeriksaan. Hasilnya, dan hasilnya yakni, kekurangan asupan makanan, dan minuman, Kecurigaan bakteri.

“Kemudian, ada kecurigaan bahwa pasien tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Karena pasien sering berteriak gaduh, dan berkomunikasi dengan baik di kondisinya yang masih lemah,” kata JPU, di hadapan Ketua Majelis Hakim, Nursiah Sianipar.

Atas permintaan keluarga, pasien tersebut dipindah dan dirawat di lorong ruangan rawat inap E2. Lalu, Mahendri selaku kepala ruangan rawat Inap E2 melapor kepada Heriansyah selaku Kasubag Umum Kepegawaian dan Humas.

“Setelah itu, Heriansyah memerintahkan Mahendri untuk membereskan dan membuang pasien tersebut,” jelasnya JPU.

Selanjutnya, pada (20/1) sekitar pukul 14:00 Wib, Mahendri menemui Andika, Andi, dan Adi. Mahendri meminta agar ketiga karyawan tersebut tidak pulang. Mahendri lalu menghubungi Muhaimin, sopir, untuk membawa mobil ambulans dan menghubungi Rika untuk mengurus pasien tersebut.

Baca Juga: Pelaku Mengaku Bukan Sekali Membuang Pasien

Setelah itu, Mahendri meminta bantuan dua siswa yang sedang praktik kerja lapangan di RSU Dadi Tjokrodipo, Riko dan Roma, untuk memasukkan pasien itu ke dalam mobil ambulans.

“Saat pasien masuk, terdakwa Muhaimin, bertanya kepada Heriansyah, mau dibawa kemana pasien tersebut. Heriansyah menyuruh mereka letakkan saja pasien renta itu di pasar atau tempat-tempat yang ramai,” kata JPU.

Kemudian, terdakwa Muhaimin, bersama Rudi, Andi, Adi, dan Rika membawa kakek Suparman atau Kakek Edi untuk dibuang. Bukannya dibuang di pasar, kakek renta itu dibuang di sebuah pos ronda di Jl. Raden Imba Kesuma, Kelurahan Sukadanaham, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandarlampung.

Pada 21 Januari 2014 pasien tersebut ditemukan warga dalam kondisi lemah dan tidak bisa bicara, dan dibawak kembali ke RSUDT, kemudian dirujuk ke RSU Abdul Moeloek Bandarlampung. Enam jam kemudian pasien tersebut meninggal dunia.

Karena menjadi heboh lantaran banyak dipublikasikan media massa, Muhendri mulai khawatir. Ia pun kemudian pada 22 Januari 2014 meminta saksi dr Pratia Megasari untuk untuk dibuatkan surat rujukan mundur, yakni tanggal 20 Januari 2014 dengan alasan kelengkapan administrasi, karena pasien atas nama Suparman, telah dirujuk ke RSJ, tanpa dilengkapi surat rujukan dari dokter.

dr. Megasari kemudian membuatkan surat rujukan. Dalam rujuan tersebut ada tulisan “Hubungi Dinas Sosial”. Setelah itu Mahendri memerintahkan terdakwa Muhaimin untuk mengubah identitas mobil ambulans dengan cara melepaskan lampu sirine, dan melepas boks yang ada dalam mobl ambulans warna abu-abu nomor polisi BE 2472 AZ.

Hal itu dilakukan untuk untuk menghilangkan jejak mengingat sudah banyak saksi yang mengaku melihat adanya mobil ambulans berplat warna merah dipakai untuk membuang seorang kakek renta.

Loading...