Otobiografi Tubuh

  • Bagikan
Dokter Handrawan Nadesul
Dokter Handrawan Nadesul

Oleh: Handrawan Nadesul

Setiap orang memiliki otobiografi tubuhnya sendiri. Makin seturut kesehatan tubuh dirawat sejak di kandungan, makin indah otobiografi tubuh. Apakah diberi ASI, cukup asupan protein selama kehamilan, lancar persalinan, dan benar pula anak dibesarkan, hingga umur sekarang, itulah sosok otobiografi tubuh seseorang.

Itulah sebabnya,  maka kita menemukan ada sosok yang tampak lebih tua, atau lebih muda dari umurnya. Itu ditentukan oleh seberapa bagus tubuh dirawat dan diperlakukan semenjak di kandungan. Cukup gizikah, rutin berolahragakah, terbebas cederakah, tidak streskah, apakah juga mewarisi penyakit keturunan, dan apabila ada penyakit warisan apakah dikendalikan. Namun, tidak semua keluarga cerdas hidup sehat. Masyarakat awam memerlukan wawasan kesehatan dari membaca, selain dari talkshow, seminar, atau penyuluhan kesehatan. Terutama dengan cara memperkaya peran ibu suatu bangsa. Benar sehatkah meja makan ibu, tepatkah sekolah menanamkan aktivitas fisik anak didik, anak terbebas cedera fisik yang diperoleh dari pelajaran safety first sejak sekolah dasar, sehingga tumbuh-kembang anak mulus.

Makin pagi hidup sehat ditanamkan, makin indah otobiografi tubuh seseorang. Begitu besar peran ibu melakukan ini semua. Maka di situ strategisnya negara perlu menambah wawasan sehat setiap ibu. Saya sudah melakukannya lewat semiloka “Sekolah Menjadi Ibu” ke lebih sepuluh kota awal tahun 2000 lalu. Pengayaan hidup sehat bagi ibu, supaya tepat peran ibu menyehatkan keluarga. Namun, tidak seideal itu yang terjadi di Indonesia.

Masalahnya juga, anak muda yang datang dari keluarga yang telanjur kurang sehat, kurang hirau pada pernik kesehatan. Merasa diri masih sehat. Sikap abai ini yang sekarang di mana-mana dunia berakibat muncul problematik kesehatan generasi, mati muda pada usia produktif. Serangan jantung dan stroke kini terjadi lebih dini, pada usia 40-an, yang mestinya tidak perlu terjadi, kalau wawasan kesehatan sudah di kantung semasa sekolah. Nyatanya tidak.

Bonus demografis kita bisa berisiko begitu kalau melihat Generasi XYZ sekarang ini rata-rata cenderung tidak sehat hidupnya. Kurang gerak, menu harian yang kurang sehat, dan hidupnya masih memikul stressor.

Terus terang saya prihatin. Yang beranimo besar ikut seminar atau membaca buku kesehatan, mereka yang sudah senior, yang otobiografi tubuhnya mungkin sudah telanjur terbentuk tidak indah, karena masa muda yang salah melakoni hidup sehatnya.

Selasa 23 Agustus lusa saya diundang Universitas Mercu Buana, mengawali tahun kuliah baru dengan menyampaikan seminar kesehatan bagi mahasiswa baru mengisi Kegiatan Awal Perkuliahan. Senang menerima undangan ini, karena janji saya bisa semakin banyak membagikan cara hidup sehat kepada semakin banyak orang, semakin terpenuhi. Belum terlalu terlambat untuk memulai hidup sehat, sehingga masih ada tersedia peluang membangun otobiografi tubuh yang indah bagi Generasi XYZ sekarang ini. membangun generasi produktif dan terbebas risiko mati prematur.

Ilmu kedokteran sepakat, semakin indah otobiografi tubuh kita dibangun, semakin besar peluang mengulur umur. Bahasa kedokteran mengatakan, bahwa nasib kesehatan kita ada di tangan kita masing-masing. Semakin cerdas kita menata hidup sehat, semakin kecil risiko mati muda (premature death) sebagai akibat tubuh dirongrong penyakit.

Bahwa statistik kedokteran menyimpan data, semakin besar risiko seseorang memikul penyakit, risiko mengidap hipertensi, diabetik, penyakit metabolisme, yang sebetulnya bisa dicegah dan sebetulnya tidak perlu terjadi, sehingga berisiko terserang penyakit jantung dan stroke, semakin kecil mnerima peluang mati tua. Fakta di dunia sekarang, sebagian besar orang meninggal akibat penyakit, hanya sebagian kecil atau hanya 5 persen meninggal sebab mati tua. Nenek moyang kita dahulu, kebanyakan meninggal sebab mati tua, hanya sedikit akibat dirongrong penyakit.

Salam Sehat!

*Dokter cum Sastrawan

  • Bagikan