Beranda Kolom Kopi Pagi OTT KPK, Pesta Kambing Guling, dan Perayaan Kesedihan

OTT KPK, Pesta Kambing Guling, dan Perayaan Kesedihan

5607
BERBAGI
Agung Ilmu Mangunegara mengenakan seragam tahanan KPK (Foto: Tempo.co)
Agung Ilmu Mangunegara mengenakan seragam tahanan KPK (Foto: Tempo.co)

Oyos Saroso H.N.

Penangkapan Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Minggu malam (6/10/2019) membuat heboh dunia maya. Hal itu setelah beredar berita tentang sorak sorai warga sambil berteriak “Hidup KPK!” mengiringi kepergian mobil petugas KPK yang membawa Bupati Agung Ilmu Mangkunegara . Ditambah dengan aneka status dan komentar di Facebook bernama syukur dan pesta kambing guling untuk merakan ditangkapnya orang nomor satu di Lampung itu, maka makin lengkaplah kesedihan keluarga besar politikus senior Tamanuri dan putranya (Agung Ilmu Mangkunegara).

Selain teriakan “Hidup KPK!”, sejumlah media mengabarkan di sela-sela kepergian petugas KPK dari halaman rumah dinas Bupati Lampung Utara, pada Senin siang (7/10/2019), beberapa warga memang menggelar “pesta kambing guling” di depan kantor Pemkab Lampung Utara. Komentar para peserta pesta pun membuat publik takjub.

“Kemarin kita mendengar kabar, tertangkapnya Bupati. Namun, kabar tersebut bukan buat sedih justru kabar tersebut membuat hati lega, karena tidak ada lagi pemimpin yang zolim,” kata seorang pria yang terlibat dalam pesta kambing guling.

Tidak hanya satu kambing yang disembelih untuk pesta perayaan ditangkapnya Bupati Agung Ilmu Mangkunegara. Hingga Senin saja (7/10/2019) ada 7 ekor kambing dan seekor sapi yang disembelih di beberapa tempat sebagai tanda perayaan pesta. Mereka menyebutnya bukan pesta, tetapi merealisasikan nazar. Konon, banyak warga di Lampung Utara yang bernazar akan memotong kambing dan sapi jika Agung Ilmu Mangkunegara diproses hukum. Karena yang melakukan proses hukum adalah lembaga KPK, maka makin suka cilalah warga yang bernazar tersebut.

Masyarakat luar yang tidak tahu persis sepak terjang Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Negara dan tidak paham analisis sosial politik di Lampung Utara tentu hanya bisa menyimpulkan secara sederhana: bupatinya ditangkap KPK, warganya malahan bersyukur dan bespesta. Pastilah ada yang tidak beres dengan sang bupati itu.

Orang luar Lampung Utara yang tidak tahu kondisi yang sebenarnya tentu tidak ingin bertanya lebih jauh apakah yang bersorak-sorai itu warga biasa atau warga yang selama ini mendukung kubu (pesaing politik) Agung Ilmu Mangkunegara. Mereka juga tidak peduli apakah yang mensyukuri tertangkapnya Agung dengan pesta kambing guling itu adalah pihak-pihak yang selama ini dizolimi Agung atau setidaknya diabaikan kepentingan dan hak-haknya sebagai warga Lampung Utara.

Satu yang pasti: tidak ada pesta yang tidak berakhir.

Meskipun konon harta kekayaannya “cuma” Rp2,36 miliar, Agung Ilmu Mangkunegara mungkin saja selama ini sudah berpesta pora sedemikian lama. Mungkin saja ia selama ini arogan ketika menjadi bupati (meskipun kabarnya sangat minim prestasi). Namun, ia tetaplah manusia. Ia tetap ingin harkat kemanusiaannya dihargai, “prestasinya” dicatat, “jasanya” dikenang, dan dosa-salahnya dimaafkan.

Mungkin saja saat ini sebagian warga Lampung masih eforia dengan ditangkapnya Bupati Agung Mangkunegara dengan sibuk menggelar pesta kambing guling, pesta ayam bakar, atau pesta joget dangdut. Pertanyaaan: setelah pesta berakhir lalu apa? Setelah Bupati Agung Ilmu Mangkunegara menjalani proses hukum, lalu (misalnya) jabatannya dicopot dan diganti orang lain, lalu beberapa tahun lagi digelar pilkada, –kemudian apa? Model pemimpin macam apa yang dibutuhkan warga Lampung Utara sehingga daerahnya “tidak begitu-begitu saja”?

Kalau warga Lampung Utara masih berpikir “calon bupati yang memberikan uang yang akan saya pilih dalam pilkada”, maka sudah sudahlah. Jangan terlalu larut dalam pesta kemenangan hari ini. Sebab, calon kepala daerah model itu akan tetap berpeluang mencuri uang rakyat. Kalaupun tidak mencuri uang rakyat, setidaknya mereka akan minta setoran dari para kepala dinas untuk negosisasi jabatan atau memalak para kontraktor. Ujung-ujungnya rakyat akan tetap susah.

Jadi, bagi warga Lampung Utara, proses hukum yang kini dihadapi Bupati Agung Mangkunegara satu hal. Sementara problem riil dan solusi mengatasi problem mendasar adalah problem lain yang harus diselesaikan. Untuk itu, bergembira secukupnya saja. Bersedih pun secukupnya juga. Kecuali jika warga Lampung Utara khususnya para elite di pemerintahan dan elite politik –dan didukung mayoritas warga — ingin susah tiada akhir.

Loading...