Beranda Kolom Kopi Pagi OTT KPK, Tidak Berlebihan Saat Sedih dan Gembira

OTT KPK, Tidak Berlebihan Saat Sedih dan Gembira

580
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Kabar Bupati Lampung Tengan nonaktif yang juga calon Gubernur Lampung, Mustafa, ditahan KPK terkait dugaan suap pada Jumat dini hari lalu (16//2018) masih terus menghangat hingga Senin, 19 Februari 2019.

Banyak tanggapan berseliweran di media sosial. Banyak yang sedih, menangis, duka berkepanjangan. Ada pula yang gembira sembari mengekspresikan kenyinyiran.

Saya sempat mendengar, media teraslampung.com  termasuk yang dicap memprovokasi karena memberitakan kabar penangkapan.Saya juga mendapatkan info, media ini termasuk yang akan diperkarakan karena memuat kabar bohong. Bagi saya itu agak aneh,karena justru teraslampung.com yang pertama kali mengeluarkan bantahan dari pihak Mustafa pada berita pertama tentang kabar penangkapan. Unsur verifikasi sudah dipenuhi oleh teraslampung.com.

Beberapa menit kemudian teraslampung.com memuat berita bantahan dengan narasumber anggota tim pemenangan Mustafa. Saya meyakini, ini bantahan paling awal dibanding media lain, sebelum Mustafa menggelar konferensi pers pada Jumat siang (16/2/2018).

Kalau ada yang bertanya, bagaimana sikap saya melihat kasus Mustafa? Secara pribadi, saya sangat prihatin. Meskipun bukan pendukung Mustafa — dan saya tidak mendukung calon mana pun pada Pilgub Lampung 2018 — saya mengapresiasi hasil kerja Mustafa. Tidak mungkin media teraslampung.com menulis berita berdasarkan unsur kebencian atau karena rasa tidak suka terhadap pihak tertentu.

Apresiasi saya tidak hanya dalam ucapan, tapi tindakan. Saya dalam kapasitas sebagai pengamat kebudayaan pernah dimintai seorang kawan untuk memberikan pendapat tentang ronda. Saya tunaikan permintaan itu karena saya menghargai Mustafa. Apalagi, saya memang tahu betul tentang filosofi dan manfaat ronda. Apakah saya dibayar besar dan media yang saya pimpin mendapatkan iklan sangat besar dari Mustafa? Tidak. Ini bisa dicek di timnya Mustafa atau ke Pemkab Lampung Tengah.

Sejak Mustafa menjadi Bupati Lampung Tengah, berita positif tentang sepak terjangnya juga menghiasi media yang saya pimpin ini. Apakah itu karena saya dapat suap atau deal-deal iklan dan sejenisnya? Ini juga bisa dicek di timnya Mustafa dan Pemkab Lamteng.

Bagaimana dengan partai pendukung Mustafa? Saya maupun teraslampung.com tidak pernah bermasalah dengan PKS. Bahkan, PKS adalah satu-satunya parpol yang berita positifnya paling banyak dimuat teraslampung.com.

Sebagai penanggung jawab media. tanggung jawab saya adalah kepada publik. Maka itu, meskipun saya mengenal atau secara personal dekat dengan semua calon gubernur/wakil gubernur Lampung, media yang saya pimpin harus imparsial. Kami tidak boleh larut dan menempel (embedded) pada salah satu calon kepala daerah. Media ini milik publik, bukan corong kepentingan pihak tertentu. Bahkan juga bukan corong kepentingan saya pribadi.

Sebab itu, terkait kasus Mustafa dan kasus apa  pun kami berusaha proporsional dan profesional. Dengan begitu, publik dan pihak-pihak yang diberitakan juga tidak perlu mendesak-desak kami menghapus berita, seperti pada kasus mantan Sekdaprov Lampung Arinal Djunaidi melarang suara mengaji di masjid Pemprov dan kasus seorang perwira tinggi Polda Lampung ditangkap karena diduga mesum di hotel. Dibayar berapa pun, berita itu tidak akan kami hapus.

OTT, Mustafa, Pilgub

Saya meyakini, berita suap yang melibatkan pejabat Pemkab Lamteng, anggota DPRD Lamteng, dan pengusaha dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK tidak seheboh ini kalau Mustafa tidak berposisi sebagai cagub Lampung.

Alasannya sederhana: suap hingga miliaran rupiah diyakini banyak terjadi di seantero Indonesia. Yang muncul dan ditangani KPK, Kejati, atau Polri diyakini hanya sebagiann kecilnya saja. Pejabat yang terkena OTT hanyalah ‘karena mereka sedang sial’, karena sangat patut diduga masih banyak yang tidak terkena OTT KPK.

Sebagai orang yang mengenal Mustafa, saya menyayangkan ia bisa terjerembap dengan sangat mudah. Padahal, ia sebenarnya bisa menghindar. Apalagi, peringatan KPK bagi para kepala daerah yang maju pada Pilkada serentak sudah sering terdengar. Peringatan itu tentu saja disertai dengan aksi ‘memasang radar’, semisal dengan melakukan penyadapan atau melakukan investigasi.

Mustafa masih muda. Jalan dia masih panjang. Ia harus jantan dan berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus dugaan suap senilai Rp1 miliar itu.

Bagi para pendukung Mustafa, kasus ini barangkali menjadi pukulan telak dan membuat sedih. Telak dan menyedihkan karena mungkin mereka meyakini kemenangan sudah di depan mata dan tiba-tiba nyaris luruh begitu saja. Sementara itu, bagi lawan-lawan Mustafa kasus ini menjadi alat mengekspresikan kegembiraan. Parahnya, di medsos kegembiraan itu diekspresikan dengan olok-olok dan vonis Mustafa sudah pasti bersalah dan korupsi.

Ada baiknya: sedih jangan berlebihan, gembira pun jangan berlebihan.

Namun, tentu saja, jangan pula gegabah menuding bahwa kasus ini pasti ada dalang besarnya dan dengan target menumbangkan Mustafa. Tudingan semacam itu adalah sebentuk negasi dan menganggap lembaga penegak hukum seperti KPK tidak layak dipercaya.

Loading...