Beranda Views Jejak Pagar Dewa dan Cerita-Cerita Lain

Pagar Dewa dan Cerita-Cerita Lain

3001
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS | Teraslampung.com

Bandarlampung— Kalau Anda berselancar di google.com, lalu silakan ketik kata Pagardewa” atau “Kerajaan Tulangbawang”, kemudian silakan klik. Anda akan mendapatkan banyak tulisan tentang Pagardewa ataupun tentang sebuah kerajaan yang konon pernah hidup di Lampung semasa Hindu dan masuknya Islam.

Ya. Menyebut Pagardewa, sejumlah sejarah baik tentang Kerajaan Tulangbawang, prajurit kokoh dan pemeluk Islam pertama bernama Minak Pati Pejurit, maupun kampung yang dikeliling makam dan para dewa sampai cerita “makan manusia” ada di sini.

Kampung (tiyuh) tua ini diapit oleh dua sungai Tulangbawang yakni Way Kanan dan Way Kiri. Untuk sampai ke Pagardewa bisa menggunakan perahu, namun jika melalui darat dapat ditempuh sekitar 2 jam. Kampung tua ini juga disebut sebagai kampung etnis, pasalnya dihuni oleh mayoritas etnik Lampung.

Keadatan orang Lampung di Pagardewa adalah Pepadun dan sistem tradisinya berupa marga. Berbeda dengan Saibatin, pimpinan adat diberikan secara turun-temurun, maka Pepadun dapat dipimpin oleh siapa pun asalkan telah cakak pepadun dan diakui melalui gelar adat.

Menurut sejarah—persisnya cerita yang dituturkan turun-temurun–Kerajaan Tulangbawang berpusat di Pagardewa di Tulangbawang Barat (dahulu Kabupaten Tulangbawang).

Di Pagardewa terdapat sejumlah makam, yakni Tuan Rio Mangku Bumi, Minak Pati Pejurit atau Tuan Kemala Bumi, istrinya yaitu Ratu Dibalau (Ratu Balau), dan orang-orang sakti lainnya.

SIMAK: Kisah Pagar Dewa Dulu dan Kini

Dalam  situs “Dunia Melayu se-Dunia” menyebutkan, Kerajaan Tulangbawang merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Nusantara.

Sementara catatan Tiongkok Kuno, sekitar pertengahan abad 4, seorang bikshu dan peziarah Fa-Hien (337-422) berlayar ke Hindia dan Srilanka. Fa-Hien terdampar dan singgah di sebuah kerajaan bernama To-Lang P’o-Hwang atau diartikan Tulangbawang.

Namun, ihwal To-Lang P’o-Hwang ini ada pendapat lain. To-Lang P’o-Hwang bermakna sesuatu yang berada di daratan tinggi. Dapat disimpulkan adalah daerah di sekitar Gunung Pesagi, yang mengacu pada Kerajaan Sekala Brak. Dianggap muasalnya orang Lampung, sebelum runtuhnya Ratu Seghemong—pimpinan Sekala Brak dari bangsa Tumi—oleh kehadiran empat umpu dari Pagaruyung.

Pujangga Tiongkok I-Tsing pernah singgah di Kerajaan Sriwijaya, dan ia sempat melihat daerah bernama Selapon. Pada abad 7, Tola-P’ohwang diberi nama lain yaitu Selampung lalu dikenal Lampung. Kerajaan Tulangbawang justru pudar ketika Che-Li-P’o (Kerajaan Sriwijaya) semakin berkembang.

Hermani gelar Minak Bangsawan Diraja meyakini, Pagardewa adalah pusat Kerajaan Tulangbawang. Meski fosil istana kerjaan tak ditemukan, sejumlah makam para raja dan hulubalang masih ada hinggsa sekarang.

Dikatakan Hermani, Pagardewa adalah tanah pertama yang dipijak oleh orang Lampung. Dari tanah (bumi Pagardewa) ini pula, adat pun dimulai. Hal itu sejalan dengan ahli sejarah Dr. J.W. Naarding, yang memperkirakan pusat Kerajaan Tulangbawang terletak di Way Tulangbawang—tepatnya antara Menggala dan Pagardewa.

Kerajaan Tulangbawang, sebagaimana dikatakan Minak Bangsawan Diraja, pusatnya diperkirakan di Betut Bujung (pertemuan dua sungai: Way Kanan dan Way Kiri). Pagar Dewa atau Pager Dewou berasal dari kata “pagar” (dikelilingi/dilingkari/dipagari) dan “dewa” (dewa). Berarti kampung ini dikelilingi para dewa.

Arti Pagardewa yang lain ialah pepatian. Maksudnya suatu tempat saling berbunuh dengan lainnya. Bekas “padang karbela” ini masih ada hingga kini di Gayau. Pepatian juga bisa berarti raja-raja atau para ningrat. Sehingga, Pagardewa dapat diartikan “tempat berdirinya para raja”.

BACA: Aku Jimou Pagar Dewa

Di sini juga tersebar makam, sehingga daerah ini disebut makamnya orang-orang sakti. Usia makam pun sudah berabad-abad. Misalnya makam Tuan Rio Mangkubumi, Raja Tulangbawang semasa Hindu dan ayahanda Minak Pati Pejurit (Minak Kemala Bumi) ada di Pagardewa.

Begitu pula makam Minak Pati Pejurit yang hidup abad XV dan keturunan ke 10 Kerajaan Tulangbawang serta Putri Balau—istri Minak Kemala Bumi—masih ada dan dirawat oleh keturunannya hingga sekarang.

Pagardewa memiliki banyak cerita. Misalnya, saat orang Pagardewa bertarung dengan orang Bugis, dapat dilihat di daerah Gayau. Begitu pula kisah Lembu Kibang, dan banyak lagi. Atau pada malam hari sering terdengar tetabuhan musik tradisionaldan lain-lain. Sehingga terkesan mistis.

Hermani, juru kunci Makam Minak Pati Pejurit dengan lancar siap menuturkan cerita tentang Pagardewa dan Kerajaan Tulangbawang, hingga silsilah-silsilahnya. Bagaimana ayahanda Minak Pati Pejurit, Tuan Rio Mangkubumi ditawan oleh Kerajaan Palembang.

Kemudian Minak Kemala Bumi siap melancarkan dendamnya. Namun, ia mesti memperkuat dirinya dengan belajar ke Banten. Di Banten, justru Minak Kemala Bumi alias Minak Pati Pejurit mengikrarkan diri sebagai muslim.

Sejak itu ia melupakan dendamnya. Minak Pati Pejurit malah mempertebal iman dan mendalami ilmu Islam ke Mekah. Minak Kemala Bumi, konon, sempat singgah di tanah Tiongkok.

Sementara Prof. Hilman Hadikusuma, sejarahwan dari Universitas Lampung menyatakan, sulit membuktikan keberadaan Kerajaan Tulangbawang mengingat bukti peninggalan baik puing maupun lainnya tidak ada.

Terlepas Kerajaan Tulangbawang benar-benar ada ataukah hanya legenda, bagi Hermani gelar Minak Bangsawan Diraja, bukan soal paling penting.

 

Loading...