Beranda Kolom Kopi Pagi Pagi dengan Segelas Kopi dan Secarik Puisi

Pagi dengan Segelas Kopi dan Secarik Puisi

851
BERBAGI
Asarpin*
Sambil menghirup hangatnya kopi pagi, akan terasa lengkap
jika ditemani secarik puisi sunyi, siapa tahu hari yang akan dijalani kian
memiliki arti. Saya ingin menyuguhkan puisi Sitok Srengenge yang dibuka dengan sebuah kisah tentang seorang bocah di
Jawa yang masih enggan melepas kantuknya.
Anakku tidur menduga-duga bulan
dan di kelas matanya masih menyimpan malam
ketika ibu guru mengajari matahari
anakku lalu menggambar cakrawala, lautan
perahu layar tanpa nakhoda, dan
rok ibu guru dipermainkan ombak pasang
Ibu gurunya dimakan ikan.
Sajak itu sangat indah tapi betapa lucunya hingga membuat
saya terbahak. Padahal
yang dibicarakan cukup serius dan amat menggugah. Puisi yang baik
barangkali—seperti pernah dinyatakan Sitor Situmorang—adalah paduan dari unsur
keindahan dengan kelucuan dan keluguan seorang bocah. 
Rupa-rupanya Sitok bisa juga menulis sajak lirik dengan humor yang kena dan menyentuh. Si anak, yang berbakat menjadi penyair, tak henti-hentinya
memandang bulan di malam gulita hingga ia terlelap di tengah malam yang sunyi.
Ketika pagi ia masih ingin memungut kembali indahnya malam dengan rembulan itu,
namun ia harus berangkat ke sekolah. Di kelas ia belum sepenuhnya melepas
bayang-bayang malam, ketika ibu gurunya meminta para muridnya untuk menggambar matahari.
Karena anak itu lebih tertarik pada bulan yang temaram, bukan matahari dengan
terik yang panjang dan menggerahkan, maka ia menggambar cakrawala dan lautan.
Lihat, pilihan gambar anak itu, cakrawala dan laut; dua
tema yang paling sering muncul dalam puisi lirik Indonesia sejak Pujangga Baru
hingga kini. Ia, dinyatakan atau tidak, telah menjadi penyair, penyair kanak,
yang melupakan bulan dan kini terperangkap oleh keindahan laut dengan perahu
layar tanpa nakhoda dimana ibu gurunya dibayangkannya sedang berada di atas
perahu itu dengan semilir angin hingga rok ibu guru dipermainkan ombak pasang
dan ibu gurunya dimakan ikan.
Dahsyat, sungguh dahsyat dan cocok menemani hangatnya
kopi pagi.  Sebuah sajak yang sederhana
namun kuat dan mampu menyentuh lubuk hati terdalam, dengan suasana alam yang
dilukiskan penuh pesona karena kepiawaiannya
menghadirkan kata-kata yang segar dan berbinar,   hemat tapi sekaligus padat.     
Dalam sajak lain, Elegi
Dorologi
, Sitok mengangkat lagu dolanan anak-anak di Jawa dimana seseorang
membimbing mereka dengan nyanyian: Gobak sodor,
jamuran, pencari ubi, ayam hilang, berkejaran,
berjalin dengan melingkar, bergamit bahu memanjang, di hamparan tanah lapang, di atas rerumputan.
Berhadapan dengan sajak-sajak Sitok saya agak gugup. Jangan-jangan apa
yang saya lakukan bukannya memperjelas, malah membuat sajaknya menjadi gelap karena sangat privat.
Saya kekurangan bahan pengalaman untuk bisa menyelam di kedalaman irama
kata-katanya, sehingga saya memutuskan berhenti sampai di
sini. 

*Esais