Pakaian Adat Lampung dan Agregat Budaya

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Membaca kata “agregat” tentu kita semua akan mempersepsikannya sebagai bahan bangunan seperti halnya pasir, semen, koral dan lain lain lagi, kemudian diaduk menjadi adonan, yang kemudian dipergunakan sesuai kebutuhan. Namun, menjadi pertanyaan jika dikaitkan dengan budaya, yang memang secara fisik tidak ada hubungan langsung. Baiklah kita tilik konsep budaya yang pada tulisan ini mengacu kepada konsep empu budaya Indonesia yaitu Koentjaraningrat. Prof. Koentjaraningrat menukilkan budaya dengan “Hasil cipta dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari”. Pada tataran ini izinkan penulis menambah satu diksi lagi yaitu terutama berkaitan dengan masa kini dan masa yang akan datang. Kemudian lebih lanjut dijelaskan bahwa produk budaya itu ada benda dan tak benda.

Bertolak dari kerangka pemikiran ini, pada perayaan Hari Ulang Tahun kw-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada yang menarik untuk ditelisik; yaitu dipakainya pakaian adat Lampung oleh Presiden Republik Indonesia pada acara kenegaraan yang sangat sacral itu. Secara substantive mutandis ini merupakan penghargaan yang sangat tinggi kepada masyarakat Provinsi Lampung, karena mungkin kita harus menunggu tigapuluh tahun lagi Presiden mengenakan pakaian kebesaran adat ini, itupun dengan asumsi presiden yang akan datang konsisten selalu menggunakan pakaian adat daerah pada acara kemerdekaan.

Sebagai warga Lampung kita wajib bersyukur mendapat giliran dipilihnya pakaian adat oleh orang nomor satu di negeri ini untuk satu upacara kenegaraan. Serta kita harus mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada semua pihak yang ikut berperan aktif untuk tampilnya Presiden dengan pakaian adat yang nyaris sempurna itu.

Tampilan dari songkok penutup kepala (ikat pujuk), baju, kain adat, sampai dengan selop, serta pernak pernik yang menghias, semua tersusun secara detail dan nyaris sempurna, menunjukkan bahwa semua dikerjakan dengan sangat teliti dan hati hati. Tentu juga dengan penjiwaan yang luar biasa dalam mengerjakannya. Oleh karena itu, wajar jika kita memberikan apresiasi yang tinggi kepada tim yang telah bekerja keras untuk menampilkan itu semua.

Namun, keindahan itu menjadi sedikit ternoda oleh ucapan atau komentar yang diberikan karena ketidaktulusan dalam melihat suatu karya budaya; dan yang menyedihkan disampaikan oleh seorang tokoh nasional yang seharusnya sangat mengerti Lampung. Itupun yang dikomentari adalah selendang yang di sandang oleh Kepala Negara.

Komentar yang cenderung menyalahkan itu menjadi sangat tendensius; karena seharusnya komentar itu tidak ditujukan kepada pemakai, tetapi kepada yang memakaikan. Hal ini perlu diluruskan karena nilai kebanggaan diciderai oleh kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, dan itu di samping sangat tidak etis, juga itu menyakitkan hati para perancang dan para pengrakit hasil budaya yang adiluhung itu.

Dari semua personel yang terlibat, kita lihat satu di antaranya adalah Anshori Djausal. Ia selama ini dikenal sebagai warga lampung, akademisi Lampung, budayawan Lampung, teknolog Lampung. Siapa yang yang tidak mengenal sekelas sosok yang satu ini? Produk Monumen Siger di pintu masuk Gerbang Sumatera, di atas Pelabuhan Bahkahuni, disain bangunan Universitas Lampung, Festival Internasional Layang Layang, Fastival Kerakatau, dan masih sederet lagi prestasi yang dibuat. Belum lagi bicara keadatan, semua aarga Sungkai khususnya dan para Penyimbang Adat Lampung umumnya, pasti mengenal sosok ini. Tidak kalah pentingnya lagi beliau adalah pelaku budaya sekaligus pelestari budaya, khususnya Lampung.

Pertanyaannya: sisi mana yang harus kita ragukan dan ketokohan apa yang kita sanksikan? Pada dunia akademik beliau bersama Rizani Puspawijaya (alm) memberikan dorongan yang luar biasa untuk dibukanya Program Pascasarjana Bahasa dan Budaya Lampung di Unila beberapa tahun lalu, yang tahun ini disusul dibukanya program Sarjana Strata Satu.

Jika kita membicarakan budaya Lampung, maka sesuatu yang mustahil jika tidak mengabaikan tokoh ini. Oleh karena itu,  jika suatu produk budaya sudah ditangani oleh Empunya budaya; maka hanya penghargaan yang patut kita sampaikan, bukan sebaliknya penilaian yang mengkerdilkan, apalagi melabelkan akan kesalahan.

Justru dengan media ini kita perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau-beliau yang telah bersusah payah menampilkan produk budaya Lampung dengan menabalkannya pada pakaian adat untuk dikenakan oleh Presiden Republik Indonesia. Bukan berarti kita antikritik, akan tetapi kita harus mampu mempilahbedakan antara kritik dan cemooh. Jika kritik disampaikan dengan tujuan konstruktif kepada yang tepat, sementara cemooh hanya disampaikan oleh mereka yang maboknya hari ini, minum khmarnya besok.***

 

  • Bagikan